PENUHANAN AKAL

DASAR AJARAN FILSAFAT IBNU SINA DAN PARA FILOSUF YUNANI

 

Prinsip utama dalam ajaran filsafat yang tidak ada perbe-daan pendapat di antara para filosuf dari aliran mana pun di za-man kapan pun yaitu sumber kebenaran yang mutlak adalah akal. Inilah perbedaan mendasar antara kaum filosuf dengan se lainnya. Pemujaan terhadap akal ini dimulai pada zaman para fi-losuf Yunani yang ditokohi oleh Socrates, Plato dan Aristoteles. Bahkan sempat terjadi ketegangan antara para ilmuwan dengan para filosuf pada masa Socrates [1] dan Plato, sampai-sampai para ilmuwan ketika itu, seperti Archimedes, Hippocrates dan Eucli-des memilih untuk bergerak di luar filsafat. [2] Bahkan Plato meng ambil sikap lebih ekstrem lagi, yaitu dengan memusuhi agama. [3]

Memang ketika masa Aristoteles terjadi upaya pengakuran antara filsafat, ilmu sains dan agama. Namun penggunaan akal sebagai sumber kebenaran yang mutlak bagi para filosuf tetap di pertahankan, bahkan hingga hari ini. Aristoteles sendiri adalah seorang pemuja berhala, di mana ketika ajal menjemput ia sem-pat berpesan agar sebagian harta peninggalannya digunakan un-tuk membangun patung Dewa Zeus dan Athena di kota kelahir-annya, Stagiro. [4]

Buku-buku filsafat Yunani terutama karya Aristoteles dan guru-gurunya, yaitu Socrates dan Plato dimasukkan dan diterje-mahkan ke dalam bahasa arab pada masa Kholifah Al-Manshur di zaman kekuasaan Daulat Bani ‘Abbasiyah. Ketika itu mulailah bermunculan para filosuf dari kalangan kaum muslimin, seperti Al-Kindi, Al-Farobi, Ibnu Sina ( Avecina ), Ibnu Rusyd, dan lain-lainnya. Semua masih sepakat dengan prinsip filsafat Yunani yai tu mendewakan akal. Hanya saja di antara mereka ada yang ma-sih dalam batasan keliru atau sesat, namun ada pula yang telah sampai ke derajat kafir, bahkan ada yang lebih kafir daripada ke kafiran yang ada pada Yahudi dan Nashrani.

Di antara filosuf dari kalangan kaum muslimin yang telah sepakat para ‘ulama akan kekafirannya adalah Ibnu Sina. Seba-gaimana para filosuf Yunani, Ibnu Sina pun meyakini bahwa Tu-han itu adalah akal. Ibnu Sina berupaya mencari pembenaran prinsip penuhanan akal dengan membuat sebuah teori pencipta- an alam yang dikenal dengan nama teori emanasi ( nazhoriyah al-faidh ) yang mirip dengan teori yang dikemukakan oleh Al-Fa-robi sebelumnya yang menyatakan bahwa terjadinya alam ini adalah dengan cara pelimpahan, seperti melimpahnya panas dari api. Faham emanasisme ini merupakan perpaduan antara unsur filsafat Aristoteles yang menyatakan bahwa alam dunia ini azali [5] dan abadi [6], unsur filsafat Elia dan Neo Platoisme yang menya- takan bahwa tiap-tiap yang satu hanya dapat menyeluarkan satu juga, dan dengan unsur ilmu kalam Mu’tazilah yang membagi ke beradaan segala sesuatu menjadi wajibul-wujud [7] dan mumkinul-wujud [8] .

          Dalam teori emanasinya, Ibnu Sina menyatakan bahwa Tu han itu adalah akal, yang bilamana Akal itu berta’aqqul, yaitu berfikir tentang diri-Nya, lalu memikirkan sesuatu di luar diri-Nya, maka akan menjadi sebab munculnya akal berikutnya yang disertai jismu al-falaq al-aqsho [9] dan nafs al-falaq al-aqsho [10] . Se cara ringkas teori emanasi Ibnu Sina adalah sebagai berikut :

§         Wujud I ( Alloh ) berta’aqqul maka muncul Wujud II / Akal I.

§         Wujud II / Akal I berta’aqqul maka muncul Wujud III / Akal II dan Langit I beserta jiwanya.

§         Wujud III / Akal II berta’aqqul maka muncul Wujud IV / Akal III dan bintang-bintang tetap beserta jiwanya.

§         Wujud IV / Akal III berta’aqqul maka muncul Wujud V / Akal IV dan  Planet Saturnus beserta jiwanya.

§         Wujud V / Akal IV berta’aqqul maka muncul Wujud VI / Akal V dan Planet Yupiter berserta jiwanya.

§         Wujud VI / Akal V berta’aqqul maka muncul Wujud VII / A-kal VI dan Planet Mars beserta jiwanya.

§         Wujud VII / Akal VI berta’aqqul maka muncul Wujud VIII / A kal VII dan matahari beserta jiwanya.

§         Wujud VIII / Akal VII berta’aqqul maka muncul Wujud IX / A kal VIII dan Planet Venus beserta jiwanya.

§         Wujud IX / Akal VIII berta’aqqul maka muncul Wujud X / A-kal IX dan Planet Mercurius beserta jiwanya.

§         Wujud X / Akal IX berta’aqqul maka muncul Wujud XI / Akal X dan bulan berserta jiwanya.

§         Dan dari Akal X muncul bumi dan jiwanya, serta api, tanah, air dan udara.

Berkenaan dengan teori emanasi ini, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiy yah berkata [11] : “Orang-orang ini menganggap bahwa yang mun- cul pertama kali adalah Akal I, dari akal I ini muncul semua apa yang selainnya. Akal I ini menurut mereka adalah tuhan segala sesuatu selain Alloh. Begitu pula setiap akal adalah tuhan dari setiap apa yang ada di bawahnya. Dan akal X adalah tuhan bagi setiap apa yang ada di bawah Bulan.”

Akal I yang ada dalam teori emanasi ini –menurut Ibnu Sina- ada-lah akal yang disebutkan dalam hadits :

أنّ أوّل ما خلق الله العقل , فقال له : أقبل ! فأقبل , فقال له : أدبر ! فأدبر , فقال : و عزّتي ما خلقت خلقًا أكرم عليّ منك فبك آخذ و بك أعطى و لك الثواب و عليك العقاب

“ Makhluq pertama yang Alloh ciptakan adalah akal. Lalu Alloh berfirman kepada akal : “ Menghadaplah ! ”, maka akal mengha-dap, kemudian Alloh berfirman : “ Membaliklah ! “, maka akal membalik ke belakang, lalu Alloh berfirman : “ Demi kemuliaan-Ku, tidaklah Aku menciptakan makhluq yang lebih mulia daripa-damu, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi, un-tukmulah pahala dan atasmulah siksa.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dalam Al-‘Aql wa Fadhluhu, Ath-Thobroni dalam Al-Ausath, Ibnu ‘Adi dalam Al-Ka-mil, Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudhu’at (kumpulan hadits palsu). Dan para ahli hadits sepakat bahwa hadits ini adalah palsu.

Berkata Ibnu Hibban : “Tidak ada satu hadits shohih pun dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang berkenaan dengan akal.”

Berkata Al-‘Uqoili : “Tidak kokoh sedikit pun yang berkenaan de-ngan matan hadits ini – yakni : tentang akal -.”

          [ ‘Abdulloh A. Darwanto ]



[1] Socrates memang memiliki sikap anti ilmu, dan sikap ini diikuti oleh muridnya, Plato.

[2] Dengan demikian sangat salah orang yang berpendapat bahwa filsafat adalah induk semua ilmu pengetahuan. Karena terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Ilmu-ilmu murni ( paspal ) harus didasari bukti-bukti empiris yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sedangkan filsafat tidak membutuhkan adanya pembuktian empiris semacam itu. Filsafat hanya menuntut pe-nganutnya untuk mematuhi kaidah berfikir ala mereka yang disebut ILMU LOGIKA atau dalam kalangan filosuf yang mengaku muslim dikenal dengan sebutan ILMU MANTHIQ.

[3] Sekali pun Plato dengan tegas melarang agama, namun dalam beberapa karyanya didapati pemu atan beberapa mitos dalam mytologi Yunani Kuno. Inilah di antara sikap plin-plan Plato cs.

[4] Ini adalah bantahan yang terang terhadap beberapa kalangan yang menganggap bahwa Aristote-les telah mengenal ajaran tauhid. Anggapan keliru ini dikarenakan banyak orang yang menyangka bahwa Aristoteles adalah guru dari Iskandar Dzulqornain atau dalam bahasa eropa disebut dengan Alexander The Greet. Persangkaan ini tidak benar, karena Iskandar ( Alexander ) Sang Penakluk yang sholih hidup pada zaman Nabi Ibrohim as dan merupakan salah satu murid pertama Nabi Ib-rohim. Sedangkan Alexander yang mereka maksudkan adalah Alexander Putra Philips II Raja Ma cedonia yang musyrik. Sangat jauh sekali perbedaan masa dan zaman antara kedua Alexander ini!

[5] Ada tanpa permulaan.

[6] Tetap ada, tidak akan binasa.

[7] Yaitu wujud yang mesti harus ada, tidak bisa dibayangkan ketidakadaannya.

[8] Yaitu wujud yang bisa ada dan mungkin pula ketidakadaannya.

[9] Yaitu benda-benda langit yang jauh.

[10] Yaitu roh atau jiwa dari benda-benda langit tersebut.

[11] Al-Furqon Baina Auliya’ Ar-Rohman wa Auliya’ Asy-Syaithon : 110.

Ayat Ayat

SOLUSI PROBLEM KELUARGA

Bapak-bapak ibu-ibu pendengar yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan yang mulia ini kami akan menyampaikan solusi masalah keluarga,
Bahwasannya seorang mu’min tidakboleh membenci mu’minah ( istrinya ) sebab dia mendapatkan satu sifat dari sifat-sifat yang tidak ia sukai, karena manusia tidak ada yang sempurna apalagi wanita yang tercipta dari tulang yang bengkok, dibiarkan bengkok diluruskan patah.
Tidak layak bagi laki-laki untuk membenci istrinya karena menemui suatu sifat yang ada pada istrinya karena menemui suatu sifat yang ada pada istrinya yang tidak ia sukai, contohnya :
Seseorang punya istri yang cantik jelita, lisannya bagus/ perkataannya bagus tapi punya sifat boros maka ketika ia punya sifat boros ini kemudian jangan langsung berkata, saya ceraikan kamu karena kamu tidak mau hidup sederhana bersama saya walaupun kamu cantik dan perkataannya manis, maka sifat semacam ini tidak boleh membawa seseorang pada perceraian atau membenci seorang istri. Hendaklah diluruskan dan diluruskan.
Perintah Rosululloh.

وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا إِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عَوْجُذْ

Apabila kamu bersenang-senang dengan wanita, kamu bisa bersenang-senang akan tetapi wanita akan tetap ada sifat kebengkokannya

Jadi bapak-bapak harus lebih sabar untuk menanggapi wanita. Memang wanita menyebalkan dan menyusahkan tapi juga menyenangkan.
Rosululloh menyuruh :

فََالْتَرِهَا تَعِشْهَا

Maka rayulah wanita itu agar kamu bisa hidup.
Kalo kita ga’ pinter ngrayu istri kita akan berantakan terus.

Kita kaum laki-laki akan mendapatkan istri biasanya banyak kekurangan-kekurangannya. Walaupun sudah cantik jelita omongannya bagus mau hidup sederhana tapi disuruh masak sayur kangkung aja ke asinan, itu menunjukan kekurang dia, maka gara-gara kangkung sayurnya asin jangan langsung kemudian marah-marah dan membencinya.

KEMARAHAN DIDALAM RUMAH TANGGA

Coba siapa diantara yang selama ini berkeluarga belum terjadi kemarahan, ? bahkan ada yang sampai seminggu, ada yang tiga hari diam-diaman sampai anaknya pada bingung.
Ini mesti terjadi dikalangan rumah tangga, padaumumnya demikian, pada umumnya orang yang berumah tangga tidak lepas dari kemarahan.
Ini kembali kepada tipe keduanya ( suami-istri ) tersebut, apakah dia seorang yang beriman yang ketika marah langsung bisa mencabut kemarahannya, atau kemudian marah terus dsb, na’udzubillah min dzalik.
Dan ini bukan mustahil dan banyak kejadiannya.
BAGAIMANA KITA MENANGGULANGI KEMARAHAN INI.

Pada umumnya rumah tangga tidak lepas dari kemarahan dan percekcokan antara suami –istri.
حَتَّى بُيُوْتَ أَهْلُ الْفَضْلِ
Sampaipun rumahnya orang yang punya keutamaan yang baik sekali, itupun tetap terjadi kemarahan dalamrumah tangga.
Bahwasanya terjadinya percekcokan dan kemarahan ini adalah api yang di nyalakan oleh para syaithon dan bala tentaranya untuk memporak porandakan orang yang berkeluarga. Jadi sifat marah yang timbul dari kita ini, ditunggangi oleh para syaithon. Apalagi orang yang sudah ta’limsampai marah-marah, syaithon menari-nari, orang yang begini saja bisa berantakan rumah tangganya . hingga kita harus ingat jika terjadi kemarahan sampai demikian itu hendaklah segera minta perlindungan kepada Alloh dari syaithon segera.!
Jangan dibikin awet kemarahannya seperti es yang disimpan didalam kulkas, untuk awet-awetan. Bahwa syaithon senang jika melihat orang-orang beriman marah-marahan, segera kita harus patahkan / buang segera tipu daya syaithon.
ِإنَّ كَيْدَالشَّيْطَانِ كَاَن ضَعِيْفًا
Sesungguhnya tipu daya syaithon sangat lemah. Tapi kalau kita tidak mau mempelajari agama ini didalam berkeluarga,sehingga hal seperti ini sangat penting tapi kebanyakan kita tidak mengetahui.

MARAHNYA ABU BAKAR ASH SHIDDIQ
فهاذا الصديق أبوا بكر رَضِيَ الله عَنْهُ
Dan ini abu bakar ash shidiq beliau afdholul ummah ba’da rosulillah, al kholifatul ula, sampai dijuluki asshiddiq. Itupun pernah terjadi kemarahan pada dia, ketika itu marah kepada tamunya dan sama keluarganya.
لَمَّ أَرْسَلَ الضِيَافَ إِلَى بَيْتِهِ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَلَدِهِ
Ketika abu bakar menyuruh tamunya kerumahnya bersama anaknya, akan tetapi tamunya belum mau makan sebelum abu bakar datang. Datanglah abu bakar dan melihat mereka belum makan, maka abu bakar marah kepada istrinya, anaknya dan tamunya, dan sampai mencelanya dan bersumpah tidak akan makan, maka tamunya juga marah, tidak akan makan sampai abu bakar makan, istrinya juga bersumpah tidak akan makan sampai abu bakar makan. Didalam kemarahan yang begitu dahsyatnya, langsung ketika abu bakar teringat bahwasannya perbuatan ini adalah perbuatan syaithon, langsung abu bakar mencabut kemarahannya dan menyebut nama Alloh dan meminta pertolongan kepada Alloh, menghilangkan kemarahan itu.
Alloh menyatakan dalam surat al a’rof ayat 201
  •          
201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

Tapi ternyata hanya orang-orang yang bertakwa, sehingga orang-orang keluarga- keluarga yang tidak mengerti agama, ketika terjadi kemarahan tersebut sampai berlarut-larut, ada yang seperti orang yang memukuli pencuri, sampai babak belur istrinya.
Kalo kita tidak bertakwa susah untuk mengingat kalau ini adalah perbuatan syaithon. nah … Jadi perbuatan syaithon jangan di pelihara, segera hapus tipu daya syaithon itu .
Ketika abu bakar marah kepada keluarga dan tamunya, segera mencabut kemarahannya, karena beliau mengetahui ini semua adalah perbuatan syaithon.

Dan ini ali Rodhiallohu ‘anhu


Siapa belia ini, amiirul mu’minin, yuhibbulloha warosulah, wayuhibbuhullohu wa rosuluh, beliau kholifah yang ke empat, punya keutamaan yang besar, sehingga  pada perang khoibar Alloh memenangkan kaum mu’minin lewat tangannya
Rosululloh menyatakan :
لأتين غدا رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله ويفتح الله على يديه
Ketika mulai pagi para shohabat pergi berbondong-bondong kepada Rosululloh berharap mendapatkan bendera, ketika itu ali sedang sakit mata, kemudian didatangkan ali kepada Rosululloh dan Rosululloh meludah kepada mata Ali, maka langsung sembuh dengan ijin Alloh.
Ini ludah Rosululloh, kalau ludahnya mbah dukun yang ngga pernah gosok gigi ya…malah tambah sakit!!

Ketika itu marah kepada istrinya ( sayyidah fathimah binti Rosululloh ), ini Ali apa lagi kita. Ketika Ali marah kepada istrinya beliau keluar rumah terus pergi ke masjid dan tidur di masjid, kemudian didatangi oleh Rosululloh SAW sedang punggungnya penuh dengan debu kemudian Rosululloh membersihkan debu di pundak nya dan mengatakan ijlis ya aba turob, maka langsung selesai masalanya.
Maka dari itu kita apabila terjadi masalah antara suami dan istri maka wajib bagi keduanya untuk segera saling mengerti apa sebab terjadi nya kemarahan, dan segera minta perlindungan kepada Alloh dari godaan syaithon dan juga segera mengadakan perbaikan, jangan malah ayo awet-awetan berani berapa hari!!  Dan segera menutup pintu jalanya syaithon menuju kemarahan, dan pergi berwudhu kemudian sholat dua roka’at maka akan timbul kebahagiaan baru dan timbul kedamaian
Jika marah sambil berdiri maka segeralah duduk.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasalam bersabda :
إذا غضب أحدكم فاليجلس

Karena kalau marah sambil duduk mudhorotnya lebih kecil ketimbang marah sambil berdiri, jika masih marah maka segeralah berbaring dan seterusnya.
Nah inilah tata cara yang di contohkan oleh Rosululloh dan para shohabat dalam menyelesaikan permasalahan keluarga.
Semoga dapat bermanfa’at wallohu a’lamu bishowab
Wasalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

http://amarmarufnahimunkar.blogspot.com

ayat nyentrik bagian ke 15

KAIDAH DALAM MEMAHAMI AL QUR’AN DAN HADITS

KAIDAH DALAM MEMAHAMI
AL-QUR’AN DAN HADITS

Al-Qur’an dan Hadits adalah dua pilar utama ajaran agama Islam, yang mana setiap rincian dan detail ajaran Islam mesti rujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagaimana firman Alloh :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ
ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
“Bila kalian berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya bila kalian beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih baik kesudahan-nya.” ( Qs. An-Nisa’ : 59 )
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya : “Berkata Mujahid dan tidak hanya seorang dari kalangan ulama salaf : “Yaitu kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya.”
Demikian pula pendapat Imam Asy-Syafi’i dalam Ar-Risalah dan juga pendapat seluruh ‘ulama Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.
Tetapi kenyataan yang terjadi, hampir semua golongan me-ngaku berdalil dengan Al-Qur’an dan Hadits, bahkan golongan se-sat yang mengaku-aku sebagai nabi baru pun demikian pula. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi ?!!
Kenyataan tersebut bisa saja terjadi ketika Al-Qur’an ditaf- sirkan menurut pendapat sendiri-sendiri. Akibatnya akan muncul banyak penafsiran sebanyak yang menafsirkannya. Yang lebih me-ngerikan lagi adalah ketika masing-masing golongan membawa Al Qur’an dan Hadits sebagai pembenar bagi golongannya yang sesat dan menyerang semua kaum muslimin di luar golongannya. Yang terjadi adalah ayat-ayat muhkam yang sudah terang maknanya dija dikan mutasyabihat atau kabur dalam maknanya, lalu dibelokkan tafsirnya menurut versi golongannya. Seperti golongan NII atau Da rul Islam yang menafsirkan kata Daarus-Salaam dalam ayat :
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ
“Dan Alloh menyeru ke Daarus-Salaam.” ( Qs. Yunus : 25 )
sebagai Darul-Islam, lalu dengan berdalil ayat ini mereka menga-jak kaum muslimin masuk ke kelompok mereka. Padahal makna Daarus-Salaam dalam ayat tersebut adalah Syurga Daarus-Salaam sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain :
لَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ
“Bagi mereka syurga Daarus-Salaam di sisi Tuhan mereka.”
( Qs. Al-An’am : 127 )
Begitu pun dalam menafsirkan Hadits, banyak yang kemudian me-milah-milih sesuai kepentingan kelompoknya, kemudian memberi-kan penafsiran versi kelompoknya. Seperti hadits :
مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada di lehernya BAI’AT maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyyah.” ( HR. Muslim )
Berdasarkan hadits ini, berbagai kelompok dan aliran mengharus-kan pengikutnya untuk berbai’at atau sumpah setia kepada pimpi-nan kelompoknya. Kemudian mereka menghukumi semua orang yang tidak mau berbai’at dengan pimpinan kelompoknya berarti ka fir dan matinya mati jahiliyyah. Padahal maksud hadits tersebut bu kan demikian. Karena bai’at yang Rosululloh  perintahkan dan kemudian dilakukan oleh para Shahabat adalah hanya kepada be- liau sebagai seorang Nabi dan Rosul Alloh, kemudian kepada Kho- lifah atau Sulthon ( penguasa ) yang sah. Ada pun bai’at kepada pimpinan kelompok tidak dibenarkan dalam Islam, sebagaimana hadits Hudzaifah bin Al-Yaman  :
قُلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Aku bertanya : ”Bagaimana bila mereka tidak memiliki sebuah Ja ma’ah dan tidak pula memiliki seorang Imam ?” Rosul menjawab : “Tinggalkan seluruh golongan-golongan itu semuanya, sekalipun kamu harus lakukan dengan menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dan kamu tetap dalam keadaan seperti itu.”
( HR. Al-Bukhori dan Muslim )
Al-Jama’ah dalam hadits tersebut adalah Negara yang sah yang di situ kaum muslimin tinggal. Sedangkan Imam dalam hadits terse-but yaitu Kholifah atau Sulthon ( penguasa ). Karena Jama’ah yang dibenarkan adalah Jama’ah Seluruh Kaum Muslimin, bukan Jama-‘ah dari sebagian kaum muslimin.
Untuk menghindari kesalahan dan kesesatan dalam mema-hami Al-Qur’an dan Hadits, maka para ‘ulama menetapkan aturan dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu :
1. Al-Qur’an mesti terlebih dahulu ditafsirkan dengan Al-Qur ‘an pula, karena sebagian ayat terkadang ditafsirkan oleh ayat yang lainnya.
2. Al-Qur’an kemudian ditafsirkan dengan Hadits-Hadits Na-bi yang shohih, karena Nabi  adalah orang yang paling mengerti tentang Al-Qur’an.
3. Al-Qur’an ditafsirkan pula dengan perkataan Shahabat , karena mereka adalah sebaik-baik manusia yang langsung menerima Al-Qur’an berikut tafsirnya dari Nabi  .
4. Al-Qur’an ditafsirkan juga dengan perkataan para ‘ulama Tabi’in, karena mereka adalah murid-murid Shahabat  yang menyebarkan ilmu para Shahabat, dan bahasa ‘arab ke tika zaman para Tabi’in belum mengalami perubahan.
5. Al-Qur’an ditafsirkan dengan kehendak makna syar’i dan ma’na lughowi ( bahasa ) sesuai dengan konteks kalimat-nya. Karena Al-Qur’an turun untuk menjelaskan syari’at dengan berbahasa ‘arab.
Demikian kaidah tafsir yang telah disepakati oleh para ‘ulama Ahli Tafsir. Lebih lengkapnya dijelaskan oleh para ‘ulama Ahli Tafsir dalam kitab USHUL TAFSIR.
Sebagaimana cara memahami Al-Qur’an, maka begitu pula cara memahami Hadits. Hanya saja dalam pemakaian hadits mesti selektif. Karena Hadits baru mulai dibukukan ketika telah terjadi gerakan pemalsuan Hadits. Untuk itu para ‘ulama menetapkan kai-dah untuk menyeleksi hadits antara yang dijamin keasliannya de-ngan yang diduga palsu atau mengalami kesalahan dalam riwayat. Kaidah ini disebut Mushtholah Hadits. Hadits-hadits yang memenu hi persyaratan :
1. Sanad atau rantai para perowinya mesti bersambung.
2. Para perowinya adalah orang yang ‘adil, yaitu baik agama-nya dan terjaga kehormatannya.
3. Para perowinya mesti sempurna hafalannya.
4. Tidak ada cacat yang menodai kesempurnaan hadits.
5. Tidak ada kejanggalan dalam riwayat.
maka disebut HADITS SHOHIH yang dijamin keasliannya. Sedang kan yang kekuatan hafalannya tidak begitu sempurna namun meme nuhi semua syarat yang lainnya maka disebut HADITS HASAN.
Tetapi bila kurang satu atau lebih dari persyaratan di atas maka haditsnya disebut HADITS DHO’IF atau hadits yang lemah, dan dilarang untuk dipergunakan karena ada kemungkinan palsu atau ada kesalahan dalam riwayat.

ayat nyentrik 7

TAUHID MULKIYYAH

SEBUAH KONSEP TAUHID ATAU SEBUAH KONSPIRASI BERKEDOK TAUHID ?

Di kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dikenal pembagian tauhid menjadi tiga, yaitu : Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al Asma’ wash-Shifat. Tidak ada perselisihan dalam masalah ini. Seandainya kita jumpai ada sebagian ‘ulama yang hanya membagi tauhid menjadi dua, yaitu Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah, maka hal ini tidaklah menjadi permasalahan, karena mereka beranggapan bahwa Tauhid Al-As-ma’ wash-Shifat termasuk ke dalam Tauhid Rububiyyah, yang kemudian ga bungan antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat ini disebut pula dengan nama Tauhid Al-Ma’rifah wal-Itsbat atau Tauhid ‘Ilmi Khobari atau Tauhid Qouli atau Tauhid As-Siyadah .
Kemudian muncul orang-orang yang memperkenalkan tauhid yang keempat, yaitu Tauhid Mulkiyyah atau Tauhid Hakimiyyah, atau ada pula yang menyebutnya dengan Tauhid Ittiba’. Adapun maksud dari Tauhid Mul kiyyah atau Hakimiyyah atau Ittiba’ ini yaitu menetapkan kewajiban me-ngikuti dan berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sampai batasan i-ni tidak ada permasalahan, karena sebenarnya kandungan makna Tauhid ini secara praktis telah tercakup dalam Tauhid Uluhiyyah, dan secara teoritis te- lah tercakup pula dalam Tauhid Rububiyyah.
Yang menjadi pokok permasalahan adalah bila konsep Tauhid Mulki yah ini diarahkan kepada “ tauhid politik “ atau sebuah konspirasi dengan berkedok ‘aqidah tauhid, sebagaimana banyak diajarkan di kalangan haroki yah , seperti Ikhwanul-Muslimin , Darul-Islam , Jama’ah Islamiyyah , Hizbut-Tahrir dan lain-lainnya. Bahkan di antara mereka banyak yang ti- dak mengakui Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat, sehingga Tauhid Mulkiyyah ini menjadi tauhid ketiga sebagai ganti dari Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat yang tidak diakuinya. Mereka menjadikan Tauhid Mulkiyyah ini sebagai puncak dari semua jenjang tauhid dan ajaran Islam. Sehingga menjadikan beberapa ‘ulama, seperti Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin dan lain-lainnya menyatakan bahwa Tauhid Mulkiyyah –versi haroki- adalah se-buah bid’ah yang sesat.
Banyak kelompok radikal yang menyihir para pengikutnya dengan doktrin Tauhid Mulkiyyah -versi mereka-, sehingga para pengikutnya begitu setia dan patuh dalam melaksanakan instruksi pimpinan kelompok tersebut, sekalipun mereka diperintah untuk melaksanakan perbuatan yang amat ter-cela, seperti bom bunuh diri dan lain-lainnya !
Tauhid Mulkiyyah yang diajarkan kaum Harokiyyah didasarkan ke-pada firman Alloh Ta’ala :
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ
“Hukum itu hanyalah milik Alloh.” [ Qs. Al-An’am : 57, Yusuf : 40 dan 67 ]
وَ مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ
“Dan siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang Alloh turunkan, ma-ka itulah orang-orang yang kafir.” [ Qs. Al-Maidah : 44 ]
Dengan berbekal ayat-ayat ini, mereka mengkafirkan para pemerintah ne-geri-negeri muslim yang tidak melaksanakan hukum Islam atau melakukan kerja sama dengan orang-orang kafir, terutama bangsa Amerika atau Eropa. Di samping mengkafirkan, mereka pun menghalalkan darah dan harta se-tiap pemerintah negeri-negeri muslim tersebut, bahkan ada sebagian kelom- pok yang mengkafirkan seluruh warga dan rakyat sebuah negara yang tidak tidak mengkafirkan pemerintahnya yang tidak menerapkan hukum Islam de ngan alasan karena warga dan rakyat negara tersebut ridho dengan hukum kafir yang diterapkan di negerinya.
Padahal yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah kufur sesuai de-ngan kadar penyelisihannya, karena kekafiran ada dua macam, yaitu : ku-fur akbar ( kafir besar ) yang mengeluarkan seseorang dari Islam dan kufur ashghor ( kafir kecil ) yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Sean-dainya penyelelisihan seseorang telah mencapai kufur akbar, maka tidak de-ngan serta merta kita mengkafirkannya, hingga terpenuhi semua syarat-sya-ratnya dan hilang semua mawani’ (penghalang-penghalang)-nya.
Dalam dogma Tauhid Mulkiyyah –versi mereka- menyatakan bahwa karena kekuasaan dan hukum hanya milik dan hak Alloh Ta’ala maka seti-ap peraturan yang bukan bersumber dari Al-Qur’an adalah bathil dan wajib ditentang. Kudeta untuk menggulingkan suatu pemerintahan thoghut ada lah sah, bahkan wajib menurut mereka. Inilah faham Khowarij yang me- lekat pada kaum haroki. Meskipun mereka juga menganggap sesat faham Khowarij klasik –yaitu Khowarij pada akhir zaman Shahabat-, tetapi tanpa sadar mereka mengadopsi faham Khowarij ini, hanya saja tidak pada semua bidang. Bila Khowarij klasik mengkafirkan semua pelaku maksiat dan dosa besar, maka kaum haroki hanya mengkafirkan pelaku maksiat dalam masa-lah politik, yaitu para penguasa dan rakyat yang mendukungnya.
Tujuan dari pengajaran Tauhid Mulkiyyah –versi mereka- ini adalah ingin “mengembalikan” kekuasaan Alloh, yaitu dengan mendirikan negara Islam , tentunya versi masing-masing kelompok haroki, yang satu dengan lainnya tidaklah sama. Konsep Negara Islam mereka secara teoritis bisa jadi serupa, yang membedakan hanyalah dalam masalah hirarki kepemimpinan- nya. Masing-masing kelompok berambisi agar kepimpinan jatuh ke tangan kelompoknya, sebagaimana gambaran nyatanya dapat kita saksikan di nega ra Afghanistan pasca Sovyet, di mana semua faksi mujahidin berambisi un-tuk meraih kursi kekuasaan sehingga mengorbankan rakyat kecil. Hal yang lebih moderat dapat kita saksikan dalam perebutan kursi kekuasaan oleh partai-partai Islam di berbagai negara muslim.
Sehingga kalau kita amati secara lebih teliti, kita akan dapati bahwa pengajaran Tauhid Mulkiyyah atau Hakimiyyah oleh kaum haroki sekedar kamuflase, padahal hakekat sebenarnya adalah mendogma para pengikut-nya agar mau mengikuti ambisi kelompoknya, yaitu mendirikan sebuah ne-gara yang diperintah oleh kelompoknya. Seandainya mereka berdalih bahwa yang ingin mereka dirikan adalah negara Islam atau khilafah Islamiyyah, maka kenapa mereka harus meributkan tentang hirarki kepemimpinannya ? Bahkan jauh-jauh hari mereka telah menyusun sebuah struktur pemerin- tahan bawah tanah yang masing-masing kelompok berbeda-beda. Ikhwanul-Muslimin memiliki struktur pemerintahan sendiri, Jama’ah Islamiyyah me-miliki sendiri, Hizbut-Tahrir memiliki sendiri, Darul-Islam (NII) memiliki sendiri, dan lain-lain, di mana satu sama lain berdiri sendiri tidak saling ter-kait. Apa lagi bila kita melihat mutu keilmuan para petinggi haroki yang ra-ta-rata sangat jauh dari kriteria yang ideal bagi seorang pemimpin Islam.
Akan sangat panjang lebar bila kita merincikan tentang mereka, na-mun di sini kita bisa melihat bahwa pengajaran Tauhid Mulkiyyah oleh ka-ngan haroki ternyata bertentangan dengan tauhid uluhiyyah, karena tujuan nya bukan lagi meng-Esa-kan Alloh, tetapi berubah menjadi bermuatan poli tis ! Dalam angan-angan mereka terbayang bila telah terbentuk sebuah nega ra Islam yang dipimpin oleh kelompok mereka maka seluruh permasalahan umat pasti akan selesai dan perjuangan telah mencapai garis finish !?!
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

Rasisme, Kapitalisme dan Feodalisme

BENTUK PEMUJAAN KEPADA STATUS SOSIAL

Status sosial, kedudukan, jabatan bahkan ras terkadang men-jadi sesembahan banyak orang. Di mata mereka kebenaran dan keu- tamaan hanya ada pada ras mereka atau pada ketinggian suatu ke-dudukan dan jabatan. Sebagaimana ini adalah agama para penen- tang Nabi dan Rosul, yang mereka berkata kepada Nabi-nya :
أَنُؤْمِنُ لَكَ وَ اتَّبَعَكَ الأَرْذَلُوْنَ
”Apakah kami akan beriman kepadamu sedangkan yang mengikuti- mu adalah orang-orang yang hina.” ( Qs. Asy-Syuro : 111 )
dalam ayat yang lain disebutkan perkataan mereka:
وَ مَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِيْنَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ
”Tidaklah kami melihat orang-orang yang mengikutimu selain orang orang yang rendah derajatnya di antara kami dan gampang perca- ya.” ( Qs. Hud : 27 )
dalam ayat lain disebutkan kisah mereka :
وَ إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا أَيُّ الْفَرِقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَ أَحْسَنُ نَدِيًّا
”Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang nis-caya orang-orang yang kafir akan berkata kepada orang-orang yang beriman : ”Yang manakah di antara dua kelompok ini ( yaitu kafir dan mu’min ) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih bagus tem pat pertemuannya ?” ( Qs. Maryam : 73 )
Demikianlah keadaan mereka yang berbangga dan sombong dengan status sosialnya, mereka memujanya hingga melupakan kebenaran.
Dalam agama Yahudi pemujaan kepada ras Israel ( Smith ) begitu kental, sampai-sampai bangsa Yahudi menganggap bangsa-bangsa lain sebagai budak atau calon budak mereka. Inilah sebab-nya mereka menolak beriman kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam padahal mereka adalah kaum yang pernah menga-barkan kepada bangsa Aus dan Khozroj tentang kedatangan nabi akhir zaman. Namun ketika nabi yang mereka sebut-sebut itu da-tang bukan dari bangsa Israel, mereka pun mengingkarinya dan mendustakannya. Sebagaimana dikatakan oleh ’Abdulloh bin ’Abbas rodhiyallohu ’anhuma : ”Sesungguhnya orang-orang Yahudi mencari kemenangan atas suku Aus dan Khozroj dengan Rosul Alloh shollal- lohu ‘alaihi wa sallam sebelum Alloh mengutusnya. Tetapi ketika Alloh mengutus rosul tersebut dari bangsa ’Arab, mereka mengkafiri nya dan mengingkari apa yang dahulu mereka katakan. Sehingga Mu’adz bin Jabal, Bisyr bin Al-Baro’ bin Ma’rur dan Dawud bin Sala-mah berkata kepada mereka : ”Wahai orang-orang Yahudi, bertaqwa lah kalian kepada Alloh dan masuk Islamlah ! Sesungguhnya kalian dahulu pernah akan mencari kemenangan atas kami dengan Muham mad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ketika itu kami masih syirik, kalian memberitahu kepada kami bahwa beliau akan diutus, dan kalian pun menerangkan sifat-sifatnya.” Salaam bin Masykum saudara Yahudi Bani Nadhir berkata : ”Dia tidak datang dengan se-suatu pun yang kami kenali, dia bukanlah yang kami pernah sebut-sebut kepada kalian.” Maka Alloh turunkan firman-Nya :
وَ لَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذيْنَ كَفَرُوْا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ , فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ
”Ketika datang kepada mereka sebuah kitab dari sisi Alloh yang membenarkan kitab yang ada pada mereka, dan mereka sebelum itu senantiasa meminta kemenangan atas orang-orang yang kafir, tetapi ketika telah datang apa yang mereka kenal, mereka pun mengingka-rinya. Maka laknat Alloh atas orang-orang yang kafir.”
- ( Qs. Al-Baqoroh : 89 ) -
Dalam agama Hindu, manusia dikelompokkan dalam bebera-pa kelas atau kasta, yaitu :
1. Brahmana ( golongan pendeta )
2. Ksatria ( golongan bangsawan )
3. Waisya ( golongan pedagang dan petani )
4. Sudra ( golongan buruh dan pekerja kasar )
5. Paria ( golongan paling rendah yang tidak punya martabat )
Asal mula pembagian kasta itu karena kemenangan Bangsa Arya atas Bangsa Dravida yang berkulit lebih hitam, lalu bangsa Arya me mandang diri mereka lebih tinggi daripada bangsa Dravida. Lebih ja uh lagi, hanya golongan Brahma, Ksatia dan Waisya yang berhak mempelajari kitab Veda. Sedangkan golongan Waisya dan Paria ti-dak diperkenankan, bahkan diancam hukuman yang berat bila bera-ni membaca kitab Veda.
Kaum Imperialis Barat yang menjajah berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin pun melakukan aksi penjajahannya karena menganggap bahwa bangsa kulit putih lebih mulia atas bang sa-bangsa kulit hitam dan kulit merah. Mereka tidak segan menin-das dan memusnahkan bangsa jajahannya, bahkan mereka tidak me rasa berdosa atas tindakannya itu. Mereka malah merasa mendapat panggilan jiwa untuk menjadikan bangsa dan rasnya sebagai bangsa pilihan yang hanya mereka yang berhak hidup di muka bumi. Selain ras mereka hanya layak hidup sebagai budak mereka.
Sementara itu karakter feodalisme yang telah membudaya di kalangan bangsa-bangsa juga termasuk penuhanan kepada status so sial. Pemandangan yang jelas nampak adalah bagaimana seorang rakyat jelata bila hendak menghadap seorang raja atau pejabat mes-ti berjalan membungkuk atau berjongkok sambil menyembah. Begitu pula ketika ada seorang pejabat atau pembesar lewat di depan mere-ka, maka mereka harus bersimpuh dan menyembah. Pemandangan macam ini masih bisa kita lihat di hampir semua keraton yang ma-sih ada hingga kini.
Kejadian yang sama atau hampir serupa bisa pula kita saksi-kan pada masyarakat kapitalis, di mana orang-orang kaya yang ber-modal menempati posisi yang hampir sama dengan seorang raja. Me reka mesti dihormati oleh kaum buruh dan pekerjanya.
Di masyarakat kita, pemujaan kepada status sosial juga ke-rap kita saksikan sehari-hari. Bagaimana seorang bawahan harus berjalan membungkuk bila hendak melewati atasannya. Seorang anak kecil juga mesti berjalan dengan membungkukkan badan bila melewati orang yang lebih tua darinya.
Dalam dunia pendidikan, pemandangan tidak sehat ini pun bi sa pula kita lihat. Seperti dalam perploncoan siswa atau mahasiswa baru, di mana para yunior harus patuh dan pasrah pada apa saja ke-mauan para seniornya, meski pun harus melakukan hal-hal yang me malukan. Apa pun alasannya, ini adalah bentuk pemujaan kepada status sosial dan mengandung dosa syirik.
Masih banyak lagi pemujaan kepada status sosial yang semua itu adalah bentuk kesyirikan, baik yang terang-terangan atau pun yang terselubung. Hendaklah kita menghentikan semua pemujaan semacam ini, bukankah Alloh telah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
”Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah menjadi-kan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian bisa sa-ling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara ka-lian di sisi Alloh adalah orang yang paling taqwa.” ( Qs. Al-Hujurot : 13 )

[ ’Abdulloh A. Darwanto ]

KETIKA SARANA DIPERTUHANKAN

Segala macam maksud dan tujuan dicapai adalah dengan meng-gunakan sarana atau alat. Seseorang tidak mungkin mendapatkan apa yang ia inginkan melainkan pasti berinteraksi dengan sarana dan se- bab. Namun saran dan sebab tersebut bukanlah tujuan, apalagi penentu segalanya Sebagaimana seseorang yang sakit, ketika ia ingin untuk sem buh, maka ia membutuhkan sarana yang mengantarkannya kepada ke-sembuhan, yaitu dokter dan obat. Karena mustahil seseorang beroleh ke sembuhan tanpa berobat. Alloh ’azza wa jalla berfirman :
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
”Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan yang ada pada sua-tu kaum sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” ( Qs. Ar-Ro’du : 11 )
Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bersabda :
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
”Setiap penyakit pasti ada obatnya, bila seseorang mendapatkan obat da ri penyakitnya, maka ia pasti sembuh dengan izin Alloh ’azza wa jalla.”
( HR. Ahmad dan Muslim )
Walaupun demikian, tidaklah sarana atau media itu mampu dengan sendirinya memberikan manfa’at atau bahaya kepada seseorang. Kare-na hanya Alloh saja yang mampu memberikan semua kesembuhan itu.
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلا أَن يَشَاء اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
”Tidaklah kamu menghendaki kecuali dengan apa yang Alloh Tuhan se mesta alam pun menghendakinya.” ( Qs. At-Takwir : 29 )
’Aisyah rodhiyalohu ‘anha meriwayatkan :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ قَالَ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا
”Sesungguhnya Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bila menjenguk orang sakit atau didatangi orang sakit, beliau berdoa : ”Hilangkanlah ke susahan ini, wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah, karena Engkau Maha penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan bekas.”
( HR. Al-Bukhori dan Muslim )
Demikian pula dalam urusan yang lainnya.
Berkata Syaikh ’Abdul-Qodir Al-Jailani : ”Wahai anakku, makhluk itu semuanya adalah alat ( sarana ), dan Alloh ’azza wa jalla adalah Pem-buatnya dan Pengaturnya, maka barangsiapa yang melihat hal ini hen-daklah ia membebaskan diri dari ikatan dengan alat dan melihat kepa-da Yang mengaturnya.”
Bersandar kepada makhluk yang menjadi sarana atau sebab adalah sa-lah satu bentuk dari kesyirikan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ’Ab dul Qodir Al-Jailani : ”Syirik itu ada pada zhohir dan bathin. Yang zho-hir ( tampak ) yaitu menyembah kepada berhala, dan yang bathin ( sa-mar ) yaitu bersandar kepada makhluk dan melihat kepada mereka da-lam bahaya dan manfa’at.”
Beliau juga berkata : ” Sampai kapan kamu akan menyekutukan de-ngan makhluk, yaitu bersandar kepada mereka ? Wajib atasmu untuk mengetahui bahwa satu pun dari mereka tidak mampu memberimu manfa’at maupun mudhorot ( bahaya ), baik orang faqir, orang kaya, orang mulia atau pun orang rendahnya mereka! Wajib atasmu untuk bersandar kepada Alloh, dan jangan bersandar kepada makhluk, ja-ngan kepada usahamu, jangan kepada daya kekuatanmu, tapi bersan-darlah kepada Yang telah memberimu kemampuan dan rejeki untuk berusaha !”
Dengan demikian bila ada orang hanya menyandarkan kesembuhan- nya kepada seorang dokter atau kepada obat-obatan, berarti ia telah me nuhankan dokter dan obat-obatan tersebut. Seperti ketika ada orang mengatakan : ”Minum saja obat ini, pasti sembuh !”
Padahal ketika dia mengatakan begitu berarti ia telah menjadikan obat sebagai tuhan yang menyembuhkan. Padahal tidak ada yang bisa me-nyembuhkan kecuali Alloh semata. Maka seharusnya ia berkata : ”Mi-numlah obat ini, insya Alloh sembuh”. Dengan mengatakan insya Alloh berarti ia menyandarkan kesembuhannya kepada kehendak Alloh, dan obat tersebut hanya dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan ke-sembuhan dari Alloh. Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bersabda :
لا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلانٌ وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلانٌ
”Janganlah mengatakan : ”Apa saja yang Alloh kehendaki dan si fulan kehendaki, tetapi katakan : ”Apa saja yang Alloh kehendaki kemudian si-fulan kehendaki.” ( HHR. Abu Dawud )
Tetapi, bertawakkal ( bersandar ) kepada Alloh, bukan berarti meninggalkan usaha. Berkata Dr. Ahmad Farid : ”Tidak mau mengam-bil sebab tercela dalam syari’at, sedangkan meyakini sebab tercela di da lam tauhid.”
Perkataan-perkataan yang bernada syirik karena bersandar ke-pada sarana atau sebab banyak bertebaran di masyarakat. Padahal per-kataan demikian kadar dosanya termasuk dosa besar. Seperti mengata-kan : ”Untung ada kamu, saya jadi selamat !” yang hakekat maknanya adalah hanya meyakini bahwa keselamatannya hanya datang dari si pe nolong semata, bukan dari Alloh. Mestinya ia mengatakan : ”Terima ka sih, karena Alloh telah menyelamatkanku melalui tanganmu !”
Juga seperti perkataan sepasang muda-mudi yang dimabok asmara ter-larang, ia mengatakan kepada pasangannya : ”Aku tak dapat hidup tan pamu !” Perkataan ini sangat kental nuansa syiriknya, yaitu meyakini bahwa yang menentukan hidup dan mati adalah sang kekasihnya.
Bahkan sebagian besar kaum harokah Islamiyyah ( pergerakan Islam ) terjerumus ke dalam perkara ini. Mereka menganggap bahwa kalau sudah tegak negara Islam maka semua masalah akan terselesai-kan. Sehingga mereka menyalahi sunnah Rosul dan para shahabat, lalu mereka menyusun cara-cara sendiri yang kebanyakannya mengimport dari Barat dan bangsa-bangsa kafir untuk memenuhi ambisinya mendi-rikan negara Islam. Muncullah berbagai pergerakan, mulai yang mema kai jalur formal dan banyak pula yang bergerak di bawah tanah. Bah-kan tidak sedikit yang memakai cara-cara kotor dan keji, seperti tipu da ya, teror dan lain-lainnya.
Namun banyak juga yang memahaminya dengan arah yang ter-balik, seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang masih terpengaruh oleh ajaran dynamisme. Mereka meyakini bah wa beberapa batu mulia tertentu, seperti : merah delima dan lain-lain, atau benda-benda keramat, seperti : keris, kujang, tombak dan lain-lain mampu mendatangkan manfa’at dengan izin Alloh. Mereka memboleh-kan seseorang memakai jimat atau susuk asal meyakini bahwa kekua-tannya berasal dari Alloh. Benda-benda itu hanya dijadikan sarana atau sebab dari datangnya kekuatan yang berasal dari Alloh. Ini adalah kebo dohan tentang hakekat dan makna ”sarana” atau ”sebab”. Memang se-mua khasiat atau kekuatan itu berasal dari Alloh, bahkan termasuk ke-kuatan yang dimiliki oleh syetan dan para dukun-dukun. Namun me-narik kekuatan dari Alloh dengan cara-cara demikian adalah keliru, bahkan syirik. Karena ada perbedaan mendasar antara memakai obat atau sarana-sarana benda biasa untuk suatu tujuan dengan memakai benda-benda pusaka, jimat, rajah, susuk dan sejenisnya. Bila memakai obat atau sarana yang sejenisnya dari benda-benda biasa, maka si pema kai tidak meyakini adanya tuah atau nilai keramat dari benda-benda itu namun bila seseorang memakai benda-benda pusaka, maka ia meyakini bahwa dalam benda tersebut memang tersimpan tuah atau keramat. Di sinilah syetan bermain untuk menyesatkan manusia yang bodoh agar tergelincir dalam jurang kesyirikan namun mereka tidak menyadarinya
[ ’Abdulloh A. Darwanto ]

BERHALA KAUM ATHEIS

Banyak orang beranggapan bahwa ada sekelompok manusia yang ti-dak memiliki tuhan yang disembah, yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum atheis. Pendapat ini sangat keliru, karena setiap manusia pasti memili-ki ilah atau tuhan yang disembah olehnya. Demikian pula kaum atheis yang mengaku tidak memiliki agama, di mana secara disadari atau pun tidak oleh mereka sesungguhnya mereka telah membuat beberapa berhala yang diper cayai oleh mereka sebagai yang mengatur jagad raya, disamping berhala-ber-hala lainnya yang mereka puja dan patuhi. Apa sajakah berhala kaum atheis ?
Berhala pertama yang mereka puja dan yakini sebagai pengatur kehi-dupan yaitu masa atau waktu. Mereka sangat yakin bahwa segala kehidupan di alam ini hanya di atur oleh sang waktu. Sehingga kaum atheis termasuk pe nganut faham dahriyyah atau pemuja masa. Mereka berkata :
مَا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَ نَحْيَا وَ مَا يُهْلِكُنَا إِلاَّ الدَّهْرُ
“Kehidupan itu hanyalah kehidupan kami di dunia, kami mati dan kami hi-dup, dan tidak ada yang membinasakan kami kecuali masa.”
( QS. Al-Jatsiyah : 24 )
Pemahaman dahriyyah ini juga dianut oleh sebagian kaum muslimin yang bo doh dengan ‘aqidah Islamiyyah, yaitu ketika mereka tanpa sadar mengucap-kan : “Biarlah waktu yang menentukan !” Sementara itu sebagian kaum mus- limin yang lainnya ada yang mengkeramatkan hari-hari tertentu, seperti Jum- ’at Kliwon dan malam 1 Syuro, dan ada pula yang meyakini adanya hari baik dan hari sial, yang kesemuanya itu adalah pengaruh faham sesat dahriyyah.
Pengaruh faham dahriyyah ini pula merambah ke dunia pendidikan, yaitu dengan dikembangkannya teori-teori ilmu pasti dan alam (paspal) yang mengacu kepada metode kaum ‘ilmaniyyah ( sekulerisme ) yang mengesam-pingkan peran Sang Maha Pencipta dalam penciptaan dan pengaturan jagad raya. Seperti uraian tentang penciptaan alam, hukum-hukum fisika, kimia dan lain-lainya yang semuanya disajikan dengan pembahasan yang jauh dari unsur-unsur ilahiyyah, bahkan kental dengan aroma faham dahriyyah.
Sebagian kaum zhohiriyyah tanpa sadar mendukung pemahaman se-sat kaum dahriyyah tersebut dengan meyakini bahwa Ad-Dahr ( masa ) ada-lah salah satu dari nama Alloh, berdalil dengan sabda Rosululloh :
يُؤْذُوْنِيْ ابْنُ آدَمُ , يَسُبُّ الدَّهْرَ , وَ أَنَا الدَّهْرُ , بِيَدِيْ الأَمْرُ , أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَ النَّهَارَ
“Anak cucu Adam menyakiti-Ku, dia mencaci-maki Dahr ( masa ) padahal Aku-lah Dahr ( yang mereka maksudkan ), karena hanya di tangan-Ku sega-la macam urusan. Aku membolak-balikkan malam dan siang.”
[ HR. Al-Bukhori dan Muslim ]
Hadits tersebut benar, namun mereka hanya memahami hingga kata “ dan Aku-lah Dahr “ saja, padahal yang dimaksudkan dengan perkataan tersebut adalah apa yang disebutkan kemudian “karena hanya di tangan-Ku segala macam urusan. Aku membolak-balikkan malam dan siang ”, yaitu Alloh adalah pengatur segala sesuatu, termasuk masa atau waktu. Perkataan “ Aku-lah dahr ” dikare nakan kaum musyrikin selalu menganggap bahwa penentu segala yang terja-di di dunia ini adalah sang waktu ( dahr ), sehingga ketika mereka tertimpa hal-hal yang tidak disukai mereka mencela Sang pengatur alam, yaitu dahr -menurut anggapan mereka-. Padahal Alloh-lah Yang mengatur segala urusan. Sehingga yang dimaksudkan oleh kaum musyrikin dengan dahr hakekat se- benarnya adalah Alloh, karena hanya Alloh Yang mengatur alam raya ini.
Berhala kaum atheis yang lainnya adalah hawa nafsu, di mana setiap perilaku mereka dilakukan semata-mata karena keinginan hawa nafsunya.
أَفَرَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُ وَ أَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَ خَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً , فَمَنْ يَهْدِيْهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ ؟ أَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ
“Apakah kamu pernah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya seba-gai ilah ( tuhan sesembahannya ), dan Alloh telah menyesatkannya berdasar-kan ilmu, Alloh tutup pendengaran dan hatinya dan Alloh letakkan tutup pa-da penglihatannya, maka siapakah yang sanggup memberinya petunjuk sete- lah Alloh ( sesatkan ) ? Tidakkah kalian bisa mengambil pelajaran ?!”
( Qs. Al-Jatsiyah : 23 )
Berhala lainnya yang dipuja oleh kaum atheis adalah pemikiran dan pendapat para pemimpin dan tokoh-tokohnya. Mereka fanatik terhadap pen dapat dan pemikiran para tokoh komunis, seperti : Karl Marx, Charles Dar- win, Stalin, Lenin dan tokoh-tokoh atheis lainnya. Mereka sangat patuh me-ngikuti konsep-konsep yang digariskan oleh para tokoh yang mereka puja. Bahkan mereka menghalalkan segala macam cara demi mewujudkan impian para tokoh-tokohnya, seperti dengan membunuh, merampok, membantai dan sebagainya, sebagaimana yang dilakukan oleh PKI di Indonesia pada ma sa orde lama. Menjelang awal orde reformasi kaum komunis yang terga-bung dalam Gerakan Komunis Muda bekerja sama dengan sebuah gerakan Kristen Radikal Serikat Jesuit ( SJ ) menyutradarai “kudeta” terselubung ter- hadap Presiden Soeharto dan mengobarkan kerusuhan di ibukota Jakarta dengan mengkambinghitamkan kaum muslimin dan ABRI . Cara-cara ko-tor untuk memfitnah umat Islam dan ABRI menunjukkan bahwa kaum atheis sanggup melakukan apa saja guna meraih impiannya.
Di antara pemahaman atheisme yang disebarkan di dunia pendidi-kan kita adalah konsep evolusi Darwin. Dalam konsep ini, para siswa diajar-kan agar tidak mengakui adanya Pencipta. Mereka dipaksa mengakui pema-haman bahwa makhluq hidup senantiasa mengalami evolusi, yaitu peruba-han dari satu keadaan kepada keadaan lainnya yang lebih sempurna. Konsep ini tidak sebatas mengajarkan bahwa manusia berasal dari kera, namun lebih detail lagi, diajarkan bahwa semua yang hidup berasal dari benda mati yang melalui proses kebetulan berevolusi menjadi makhluq hidup bersel satu, lalu berevolusi kembali menjadi makhluq yang bersel banyak dan seterusnya. Tu- juan dari konsep evolusi ini yaitu menghilangkan peran Sang Pencipta dan menggiring masyarakat agar tidak memusuhi pemahaman atheisme, sehing-ga akan terbuka peluang bagi penyebaran faham atheisme dan komunisme.
Teori evolusi Darwin memiliki banyak kebohongan, apalagi setelah para pakar berhasil membongkar sejumlah skandal pemalsuan fosil yang sa-ngat memalukan, padahal beberapa fosil tersebut merupakan bukti terkuat bagi mereka. Terbongkarnya sejumlah skandal memalukan kaum Darwinis itu merupakan fakta nyata kebatilan teori evolusi Darwin yang sampai seka-rang masih dipaksakan untuk dimasukan ke dalam kurikulum berbagai jen-jang pendidikan di berbagai negara, termasuk di negeri kita.
Bila kaum atheis tidak mempercayai adanya Tuhan sehingga mereka pun menolak untuk beragama, namun di sisi lain muncul orang-orang yang mengaku percaya kepada adanya Tuhan tetapi menolak untuk beragama. Me reka menganggap agama sebagai racun, sama seperti anggapan orang-orang atheis. Bahkan lebih jauh lagi, mereka menuding para nabi sebagai para pen- dusta. Mereka berpendapat bahwa agama hanya untuk orang-orang bodoh dan primitif saja. Inilah ajaran filsafat Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Rozi. Pemahaman sesat inilah yang kemudian dianut oleh kaum pluralis, walaupun tidak sampai seekstrim pendahulunya. Mereka itu sejatinya adalah para ATHEIS BANCI !!!
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]