BOCORAN SOAL UN SMA 2008

Tidak Sepantasnya Pelajar negeri ini mengandalkan bocoran untuk mengatasi kesulitannya, giman kalo dah jadi pejabat nanti, kapan negeri ini bisa manju!!!

BAGAIMANA ,MAU BERSAING DENGAN NEGERI-NEGERI BARAT

kalo mentalnya cuma mau mencari bocoran.

Lebih baik belajar, beramal, berdo’a, ….

pokoknya cari jalan yang lurus aja lach….

JANGAN NEKO-NEKO….

Makasih

Iklan

Nabi Muhammad Dalam Pandangan Agama Lain

Ada anggapan di sebagian non-Muslim bahwa Muhammad saw hanyalah seorang nabi yang diutus untuk bangsa Arab saja. Sebagaimana Yesus (Isa as) yang diutus untuk Bani Israil, maka demikian juga Nabi Muhammad diutus hanya untuk bangsa Arab. Pendapat lainnya menilai bahwa Muhammad bukanlah seorang nabi melainkan orang yang melangkah di jalan kenabian. Pandangan ini diyakini oleh Timothy dari Gereja Nestorian, seperti yang diungkapkan Alwi Shahab dalam pengantar buku Muhammad & Isa (Mizan: 1999). Timothy menyebutnya sebagai seorang yang berjalan di tapak para nabi—walau tidak secara khusus mengakui Muhammad saw sebagai nabi.
Dalam satu sisi anggapan ini tentu baik. Sebab, kita sadar bahwa jika seorang pemeluk Kristen mengakui Muhammad sebagai nabi yang diutus untuk segenap manusia, niscaya pengakuan semacam ini akan merontokkan fondasi keyakinan Kristen yang dianutnya. Belakangan muncul kajian-kajian atas tradisi agama lain seperti Kristen, Hindu dan Budha yang banyak mengungkapkan nubuat-nubuat seputar kelahiran dan kemunculan Nabi saw berikut karakter pribadinya. Umpamanya, melalui telaah mendalam atas Yesaya 42 dari tradisi Kristen didapatkan bahwa sosok yang diceritakan dalam pasal itu mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad saw. Demikian pula dalam tradisi Hindu dan Budha. Dijumpai dalam kitab-kitab mereka akan adanya utusan akhir zaman yang akan menyelamatkan manusia. Secara sepintas di bawah ini akan disajikan—meski selintas—nubuat dari tiga tradisi itu.
Tradisi Kristen
Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. (Yesaya 42: 1) Dalam ayat ini, jika kita menganggap “orang pilihan-Ku” sebagai kata benda maka pilihan-Ku = pilihan Tuhan = Mushthafa (dalam bahasa Arab), yakni nama nabi kita Muhammad saw. Semua nabi setelah Ya’qub as yang disebutkan dalam Injil diutus untuk bangsa Israel bukan semua bangsa. Ini termasuk Yesus (Isa) (lihat Matius15: 21-26, Matius 10: 5-6 dan banyak lagi). Adapun Isa as tidak cukup lama tinggal di bumi untuk melakukan misinya. Namun Muhammad saw diutus untuk semua bangsa dan membawa pesan dan keputusan kepada bangsa-bangsa. Selanjutnya dalam Yesaya 42: 2 dikatakan: “Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.” Kata “tidak menangis” diartikan sebagai “tidak mengeluh terhadap tugas yang Aku embankan kepadanya”. Sekarang jika Anda membaca Injil Matius 26: 39-42, kita tidak bisa mengatakan bahwa Isa as tidak pernah mengeluh. Artinya, ayat ini tidak cocok diterapkan kepada Isa as. Namun jika Anda membaca sejarah kehidupan Muhammad saw, kita tidak bisa mendapatkan bahkan satu kalimat keluhan yang keluar dari lisan suci Nabi Muhammad saw tentang misi yang dipikulkan oleh Allah Yang Mahakuasa. “Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” (Yesaya 42: 4). Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Yesus (Isa as) tidak sampai merampungkan misinya yang telah berlangsung selama tiga tahun. Pembaca bisa menemukan hal ini di banyak tempat dalam Perjanjian Baru. Ia pun tidak bisa menegakkan hukum di muka bumi, karena pengikutnya sedikit dan mereka punya sedikit iman (ini pun bisa ditemukan di banyak tempat dalam Perjanjian Baru). Dan mereka “meninggalkannya dan kabur” ketika tentara Romawi menahan Yesus. Ia sendiri berkata, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yohanes 18: 36).
Sebaliknya, misi Muhammad saw berhasil dengan tegaknya sebuah negara dan mengatur dengan hukum yang diberikan oleh Allah. Karena itu, ia menegakkan hukum di muka bumi, di bumi Madinah al-Munawarrah. Dalam frase tersebut disebutkan bahwa Tuhan menyebutkan “hukum-nya” dan ayat 9 menyebutkan “Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan”. Ini artinya ia (nabi baru) akan membawa hukum baru. Tapi jika kita baca Injil, kita lihat bahwa Yesus berkata dalam Matius 5:17: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Jika kita baca lebih jauh, kita paham bahwa Yesus tidak datang dengan hukum baru. Sementara Muhammad saw datang dengan hukum baru.
Kejelasan akan datangnya Muhammad saw lebih terbaca lagi dalam Yesaya 42: 8 yang berbunyi: Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. Melihat konteks sejarahnya, kita lihat bahwa perkataan Tuhan ditujukan kepada Muhammad saw dan bukan Isa as.
Alasannya, Isa as datang untuk bangsa Israel dan mereka tidak menyembah berhala. Adapun Muhammad saw datang kepada kaum Arab yang menyembah berhala pada masa Jahiliah. Seterusnya, Nabi Muhammad saw menghancurkan berhala. Jika kita membaca Yesaya 42: 17, hal itu akan dipahami lebih jelas. “Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.” (Yesaya 42: 12). Ayat ini mengacu kepada lafaz azan sebagai panggilan shalat. Makna azan mengandung puji-pujian kepada TUHAN. Ayat ini secara implisit merujuk kepada kandungan azan Islam yang memuat nama Allah dan Nabi Muhammad saw. Sebagaimana terlihat, azan bergaung di mana-mana menyerukan nama Allah dan Rasul-Nya yang tiada keturunan Ibrahim as dari jalur Ismail as. Nabi Isa as sendiri keturunan Ishak (Rujuk Kejadian 25: 13-16) Jelaslah, ayat ini (ayat 11) tidak sedang membincangkan Isa as melainkan Muhammad saw.
Jika Anda melihat ritual Muslim (khususnya haji), Anda akan melihat kota-kota tersebut (Makkah dan Madinah) menyaringkan suara mereka (azan) dan orang-orang menyeru dan memuji Allah dari puncak gunung, khususnya Bukit Arafah. Tentang azan sendiri, Anda bisa melihat bahwa di setiap negeri Muslim, orang-orang diseru untuk shalat melalui panggilan azan yang mirip nyanyian. Bahkan jauh dari kota, Anda bisa mendengar azan ini. Makna azan itu sendiri adalah: Allah Mahabesar, Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah, Dan seterusnya.
Tradisi Budha
Dalam tradisi Budha, pemimpinnya sendiri Sidharta Gautama telah meramalkan kedatangan seorang manusia yang diberi wahyu. Dalam Doktrin Budha (The Gospel of Buddha) oleh Caras (hal.217-8) tercantum bahwa Budha agung yang akan datang ke dunia ini dikenal sebagai “Maitreya”. Cakkavatti-Sihanada Suttana memberinya nama “Meteyya”. Kedua kata ini bermakna “pemberi rahmat”. Dengan merujuk kepada sejarah kehidupan Muhammad saw, kentara sekali beliau adalah orang sangat penyayang dan al-Quran juga menyebut-nyebut fakta ini.
Ada sejumlah kesamaan lebih jauh, seperti yang terbaca dalam kitab suci kaum Budha: “Para pengikutnya (Maitreya) berjumlah ribuan orang, sementara jumlah pengikutku ratusan orang.” Faktanya, pengikut Nabi Muhammad saw berjumlah ribuan orang (sekarang tentunya jutaan). Ada sejumlah kesamaan lain yang akan diuraikan di bawah.
Dalam Doktrin Budha (oleh Caras, hal.214), seorang Budha yang tercerahkan itu dilukiskan sebagai memiliki kulit yang amat terang dan bahwa seorang Budha memperoleh “pandangan yang luhur di malam hari”. Dalam kenyataan sejarah, Nabi saw acap melakukan shalat malam (tahajjud) sebagai pantulan cintanya yang mendalam kepada Sang Pencipta. Selama hayatnya, Nabi saw tidak pernah meninggalkan shalat malam. Buahnya, beliau mendapatkan pandangan yang tajam untuk merekonstruksi peradaban baru manusia, peradaban Islam.
Dalam Si-Yu-Ki, jilid 1, hal.229, tertulis bahwa “…tak satu kata pun yang mampu menguraikan kemuliaan pribadi Maitreya.” Pembaca bisa merujuk sejarah Islam secara detail. Baik Muslim maupun non-Muslim sepakat dalam menegaskan bahwa Muhammad saw sangatlah rupawan dan menarik baik dari sisi lahiriah maupun batiniah. Ketegasan dan kelembutan pribadi beliau memanifestasikan sifat-sifat Tuhannya. Inilah yang menyulitkan pemaparan kemulian pribadi Nabi saw. Dalam kitab dan jilid yang sama, tercantum “…suara indah dari Bodhisatwa (Maitreya) begitu lembut, merdu, sekaligus santun. Mereka yang mendengar tidak pernah merasa bosan dan puas.” Nabi saw yang lahir dari kalangan Arab tentunya paham benar akan bahasa Arab. Dan, bahasa Arab yang digunakan al-Quran luar biasa indahnya. Karena itu, al-Quran Suci sendiri dinilai sebagai suatu karya kesusastraan khusus dengan bobot tertinggi yang memberikan manfaat kepada kawan dan lawan. Kelembutan Nabi saw dan keindahan bahasa al-Quran menjadikan setiap perkataan Nabi saw tidak pernah dikenai rasa bosan dan letih untuk disimak.
Seorang Budha mestilah seorang manusia—bukan dewa. Sang Budha tersebut mesti memiliki lima karunia khusus, yakni karunia harta kekayaan, karunia anak, karunia istri, karunia kekuasaan (yakni kepemimpinan), dan karunia kehidupan dan pengikut. Sebagai tambahan, Budha tersebut tidak punya guru, yakni tanpa menempuh suatu jenjang pendidikan formal. Gautama juga menekankan bahwa Budha itu seorang yang bersahaja yang mengatakan keselamatan itu hanya tergantung pada amal perbuatan individu.
Ciri-ciri di atas jelas senapas dengan kehidupan Nabi Muhammad saw. Kita saksikan bahwa Nabi saw seorang yang memiliki lima hal tadi. Nabi saw memiliki keturunan yang banyak sampai sekarang. Di antaranya ada yang menjadi para pemimpin (imam) bagi kaum Muslim. (Tentang keturunan yang banyak ini, baca Kejadian 12: 2, 3, 7 dan Kejadian 16: 9-11, sewaktu membahas perjanjian antara Nabi Ibrahim (Kristiani; Abraham) dan Tuhan. Akhirnya, Nabi saw sendiri tidak pernah belajar sama sekali dari seorang guru pun. Ilmu yang beliau dapatkan murni dari Allah sebagai buah perenungannya akan kenya-taan semesta ditambah kesucian jiwanya.
Tradisi Hindu
Sebagaimana dalam dua tradisi agama di atas, dalam kitab suci Hindu pun ditemukan hal yang sama mengenai ciri-ciri yang mengarah kepada Nabi saw. Seorang profesor Hindu terkenal, Vedaprakash Upadhyay, dalam bukunya yang menarik mengklaim bahwa deskripsi “Avatar” yang terdapat pada kitab suci agama Hindu sejalan dengan pribadi Nabi Muhammad saw.
Baru-baru ini sebuah buku yang menyingkap fakta tersebut telah diterbitkan. Buku itu menjadi topik diskusi dan perbincangan di seluruh negeri. Penulis buku itu seorang Muslim. Ia mungkin telah ditahan atau dibunuh. Boleh jadi semua salinan buku itu telah dihilangkan. Buku itu bertajuk “Kalki Avatar”. Pundit Vedaprakash Upadhyay adalah seorang Hindu Brahmana dari Bengali. Sarjana peneliti di Universitas Allahabad—setelah bertahun-tahun melakukan riset—akhirnya menerbitkan bukunya.
Keterangan dari Pundit Vaid Parkash telah disiarkan di BICNews pada 8 Desember 1997 yang diterjemahkan oleh Mir Abdul Majeed. Sebelumnya, pernah dimuat di The Message, edisi Oktober 1997. Tidak kurang 8 pundit besar mendukung dan merestui butir-butir argumennya sebagai yang otentik. Menurut kepercayaan Hindu, dunia Hindu tengah menunggu “Pemimpin dan Pembimbing”, yang bernama “Kalki Avatar”. Akan tetapi deskripsi yang dicantumkan dalam kitab-kitab suci agama Hindu merujuk kepada Nabi Muhammad saw dari Arab. Karena itu, umat Hindu di seluruh dunia semestinya tidak menunggu lebih lama lagi kedatangan ‘Kalki Avatar’ dan harus menerima Nabi Muhammad saw sebagai Kalki Avatar. Inilah fakta-fakta yang diuji dan didukung oleh tidak kurang dari delapan pundit terkemuka. Apa yang dikatakan penulis adalah bahwa umat Hindu—yang masih harap-harap cemas menunggu kedatangan Kalki Avatar—agaknya menyerahkan diri mereka sendiri kepada penderitaan yang tak kunjung usai. Padahal utusan agung tersebut telah datang dan meninggalkan dunia ini 14 abad yang silam. Pengarang tersebut telah mengajukan bukti-bukti kuat dari kitab Veda dan kitab suci Hindu lain untuk mendukung klaimnya: Dalam kitab Purana, misalnya, disebutkan bahwa Kalki Avatar merupakan utusan terakhir di dunia ini. Ia memberi petunjuk seluruh manusia. Nabi Islam saw diutus bagi segenap manusia. Bukan untuk salah satu golongan. Menurut prediksi agama Hindu, kelahiran Kalki Avatar akan terjadi di Semenanjung (yang menurut agama Hindu kawasan Arab). Ini ramalan yang sesuai dengan faktanya di mana Islam lahir di kawasan Arab.
Masih dalam kitab-kitab Hindu juga, nama ayah dan ibu Kalki Avatar masing-masing adalah Vishnubhagath dan Sumaani. Jika kita menilik arti kedua nama tersebut, kita akan mendapatkan kesimpulan yang menarik. Dalam kosakata Hindu, Vishnu artinya Allah dan Bhagath artinya hamba. Kalau digabung berarti hamba Allah yang dalam bahasa Arab berarti Abdullah. Ia adalah ayah Nabi saw.
Sumaani artinya kedamaian atau ketenteraman. Dalam bahasa Arab sepadan dengan kata Aminah (‘kedamaian’) yang tiada lain adalah nama ibunda Nabi saw. Selanjutnya, dinyatakan dalam kitab Veda, kelahiran Kalki Avatar akan terjadi di tengah klan keluarga bangsawan. Jelas ini merujuk ke suku Quraisy di mana Nabi saw dilahirkan. Dalam kitab yang sama, Tuhan akan mengajar Kalki Avatar melalui utusan (malaikat)-Nya di dalam gua. Ini sesuai dengan riwayat kehidupan Nabi saw. Allah mengajar Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril, dalam suatu gua yang disebut Gua Hira. Tuhan pun menyiapkan Kalki Avatar dengan bantuan-Nya. Ini secara jelas terbukti dalam Perang Uhud. Semua hal itu menjadi segelintir bukti yang mengisyaratkan universalitas pribadi Muhammad saw dan agamanya: Islam.

agung wahyudi

CARA MENDIDIK ANAK

( ااتقواالله واعجلوافي أولادكم ) (( حديث متفق عليه ))

DIPERUNTUKAN

1. Kepada setiap Ibu dan Ayah yang menginginkan kebahagiaan untuk anak-anak mereka
2. Kepada para pendidik yang mereka menjadi tauladan bagi para anak didiknya
3. Kepada para penuntut ilmu yang menginginkan kemenangan
4. Kepada Orangtua dan anak semuanya yang mereka mendahulukan risalah ini

Saya berharap kepada Alloh agar dapat memberi manfa’at kepada para pembaca dan menjadikannya ikhlas karena mengharap wajah Alloh.

Muhammad Jamil Zainu

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya bagi Alloh kita memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunanNYA, seta kita berlindung dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk, Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Alloh dan Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.
Adapun setelah itu : Maka sesungguhnya kedudukan pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting sekali, hal itu berkaitan erat dengan kebaikan anak dan orang tua sekaligus, bahkan berkaitan dengan generasi yang akan datang, karena itu Islam sangat memperhatikan maslah ini, juga para pendidik juga pemimpinnya para Rosul pendidik, Muhammad j, yang Alloh mengutusnya untuk mengjarkan dan meluruskan kepada segenap para orangtua, dan anak-anak, agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Maka dari itu kita menemui didalam Al Qur’an yang mulia yang didalamnya terdpat kebaikan bagi kita dan kemenangan bagi kita Alloh Yang Maha Tinggi menyebutkan kisah-kisah yang mendidik yang sangat bermanfaat seperti kisahnya luqman al hakim yang dia sedang menasehati kepada anaknya dengan nasihat yang sangat bermanfaat lagi penting. Dan Rosululloh j menanamkan kepada diri anak pamanya yaitu Abdulloh bin Abbas d aqidah tauhid sejak dari kecil, Maka kelak para pembaca akan mendapati semuanya, baik hal-hal yang wajib diketahui oleh orang tua dan anak-anak sekaligus, dan juga kewajiban para anak kepada kedua orang tuanya didalam risalah ini.

Muhammad bin Jamil Zainu

وصايا لقمان الحكيم لابنه
Alloh SWT berfirman dalam surat Al Luqman ayat 13

      
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya.

Ini adalah wasiat yang bermanfaat mengenai Luqman Al Hakim yang Alloh kisahkan

Wasiat Pertama :
         
13.: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Jauhi Kesyirikan dalm beribadah, seperti berdo’a kepadan mayit atau orang yang jauh darinya
Sungguh Rosululloh j telah bersabda : ( الدعاء هوالعبادة )
( رواه البخر وقال صحيح )
Dan ketika diturunkan firman Alloh Ta’ala :
      
82. orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik).

Maka kaum muslimin ( shohabat ) ragu, dan mereka berkata siapa diantara kami yang tidak berbuat dzolim terhadap diri sendiri?
Maka Rosululloh j menjelaskan kepada para shohabat, bukan begitu maksudnya, yang dimaksud dari ayat tadi adlah perbuatan syirik, apakah kalian tidak ingat tentang perkatan luqman kepada anaknya? :

          
13. “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Wasiat Kedua :

     •            
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

[1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.

Kemudian menyebutkan wasiatnya kepada anaknya untuk beribadah hanya kepada Alloh saja dan berbuat baik kepada kedua orangtua untuk menghormati haq keduanya, adapun ibu adalah orang yang mengadungnya dengan kesusahan, sedangkan ayah yang mencukupinya dengan memberikan nafkah. Maka kewajiban seorang anak adalah bersyukur kepada Alloh dan kepada kedua orangtuanya

Wasiat Ketiga :

                   •             
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Ibnu Katsir berkata mengenai makna ayat tersebut :
Yaitu jika mereka memaksamu untuk mengikuti agama mereka, maka janganlah kamu menerimanya, dan jangan pula menghalangi kamu untuk mempergauli mereka di dunia dengan baik yaitu berbuat ihsan kepada keduanya, dan tetap mengikuti jalannya orang-orang yang beriman.
Dan saya katakan : hal ini sesuai dengan sabda Nabi j
( لا طاعة لأحد في معصية الله إنماالطاعة في المعروف ) (( رواه البخري ومسلم ))

Wasiat Keempat :

 •                    •    
16. (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha mengetahui.

[1181] Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.

Ibnu Katsir berkata : Sesungguhnya kedzoliman atau keslahan walaupun seberat biji sawi maka Alloh akan menghadirkannya pada hari kiamat ketika diletakkanya timbangan keadilan, dan Alloh akan membalasnya, jika kebaikan maka akan dibalas kebaikan jika keburukan maka akan dibalas dengan keburukan pula.

Wasiat Kelima :

   
17. Hai anakku, dirikanlah shalat

Yaitu dengan menunaikan ketetapan-ketetapannya, rukun-rukunnya dan juga waktunya.

Wasiat Keenam :

     
17. Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar

Yaitu dengan penyampaian yang baik dan lemah lembut sesuai dengan kadarnya, ( situasi dan kondisi )

Wasiat Ketujuh :

     
17. dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.

Sudah diketahui pada umumnya, bahwsanya memerintahkan kepada yang baik dan mencegah daripada uang munkar maka akan mendapatkan konsekwensi berupa gangguan dan rintangan dari manusia, maka diperintahkan untuk bersabar, sebagaimana sabda Rosululloh j :
( المؤمن الذي يخالط الناس ويصبر على أذاهم, أفضل من المؤمن الذي لايخالط الناس ولايصبر على أذاهم ) (صحيح رواه احمد وغيره )

 •     
17. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Yaitu besabar akan adanya rintangan dari manusia adalah termasuk perkara yang diwajibkan oleh Alloh SWT

   •• 
18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)

Janganlah kamu menampakan wajahmu ketika berbicara kepada orang lain atau mereka berbicara kepadamu dengan merendahkannya dan menyombongkan diri kepada mereka akan tetapi lembutkanlah dan mudahkanlah wajahmu kepada mereka. Dan bersbda Rosululloh j :
( ولو أن تلقى أخاك ووجهك إليه منبسط, وإباك وإسبال الإزار فإنها من المخية, والمخيلة لايحبهاالله ) (صحيح رواه احمد )
Seandainya engkau bertemu saudaramu maka mudahkanlah wajahmu kepadanya, dan jauhilah olehmu isbal dalam berpakaian, karena hal itu termasuk dari kesombongan, dan Alloh tidak menyukai kesombongan.
Dan Nabi j uga bersambda :
( تبسمك في وجه أخيك لك صدقة ) (صحيح رواه الترمذي وغيره )
Berseri-serinya wajahmu kepada saudaramu adalah shodaqoh

Wasiat kesembilan :

 •   •  
18. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Yaitu dengan sombong, angkuh, takabur, menentang kebenaran. janganlah engkau melakukan hal itu karena Alloh SWT akan murka kepadamu.

Wasiat kesepuluh :

Dalam hal ini Alloh SWT berfirman :
 •    •   
18. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Ibnu Katsir menyebutkan : Yaitu orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri dihadapan orang lain.

Wasiat kesebelas :

   
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan [1182]

[1182] Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.

Yaitu berjalanlah sesuai dengan tujuan, jangan terlalu lambat sehingga terlambat, dan jangan terlalu cepat sehingga terlalu mendahului, akan tetapi imbdang dan adil yaitu tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.

Wasiat keduabelas :

    
19. Dan lunakkanlah suaramu.
Yaitu tidak berteriak atau mengangkat suara melebihi dari kebutuhan dan manfaat yang didapat padanya.

Wasiat ketigabelas :

•     
19. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Berkata mujahid : Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai
Yaitu orang yang meninggikan suaranya, menyerupai suara keledai dalam meninggikan dan mengangkat suaranya, dan bersama hal ini membuat Alloh benci, dan hal ini menyerupai kepada keledai, yang telah ditetapkan keharamannya, dan darahnya sampai kedarahnya, karena Rosululloh j bersabda :

( ليس لنا مثل السوء, العائد في هبته كالكلب يعود في قيئه ) ( رواه البخري ) أ

Bukanlah golongan kami orang-orang yang berbuat jelek, yaiitu orang-orang yang biasa melakukan kejelekan sebagai kebiasaan seperti seokr anjing yang menggonggong

ب ( إذاسمعتم صياح الديكة, فسلواالله من فضله, فإنها رأت ملكا, وإذاسمعتم نهيق الحمار فتعوذواالله من الشيطان, فإنها رإت شيطانا ) (متفق عليه )
Jika engkau mendengar suara koko ayam, maka mintalah kepada Alloh dari keutamaanNYA, kerana dia sedang melihat malaikat. Dan jika engkau mendengar ringkikan keledai maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari kejahatan syetan, karena sesungguhnya dia sefang melihat syetan.

PETUNJUK PETUNJUK DARI AYAT-AYAT AL QUR’AN

1. Disyariatkanya orangtua memberikan wasiat kepada anak-anaknya dengan sesuatu yang bermanfaat baik didunia maupun di akhirat.
2. Memulai dengan tauhid dan peringatan akan bahaya syirik karena kesyirikan adalah kedzoliman yang besar yang dapat menghapuskan amal.
3. Wajibnya bersyukur kepada Alloh, dan berterimakasih kepada kedua orang tua serta berbuat baik kepada keduanya dan menyambung silaturahmi dengan keduanya.
4. Wajibnya mentaai kedua orangutan selama tidak untuk bermaksiat kepada Alloh SWT, sebagaimana sabda Rosululloh SAW :

( لا طاعة لأحد في معصية الله إنما الطاعة في المعروف ) (( متفق عليه ))
5. Wajibnya mengikuti jalannya kaum mu’minin yang bertauhid dan haramya mengikuti ahlul bid’ah.
6. Mendekatkan diri kepada Alloh, baik secara sembunyi maupun terang-terangan, dan tidak meremehkan perbuatan baik maupun buruk meskipun sedikit atau kecil.
7. Wajibnya mendirikan sholat dengan menunaikan rukun-rukunnya wajib-wajibnya dan tuma’ninah dalam mengamalkannya.
8. Wajibnya menyeru kepada yang baik dan mencegah dari perbuatan yang munkar berdasarkan ilmu, dan berlemah lembut sesuai dengan kemampuan, dengan hikmah dan nasehat yang baik. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW :

( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده, فإن لم يستطع فبلسانه, فإن لم يستطع فبقلبه, وذالك أضعف الإمان ) (( رواه مسلم ))
9. Bersabar ketika mendapatkan rintangan dalam menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran, karena hal ini adalah perkara yang diwajibkan.
10. Dilarang sombong lagi membanggakan diri ketika berjalan.
11. Adil ketika berjalan, yaitu jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat.
12. Jangan meninggikan suara melebihi kebutuhannya, karena itu merupakan kebiasaan keledai.
13. adil dalam semua perkara.

WASIAT PENTING NABI

Dari Ibnu Abbas RA berkata : pada suatu hari aku membonceng dibelakang Nabi SAW, beliau berkata kepadaku seraya menasehatiku:

ا حفظ الله يحفظك
1. Jagalah Alloh, maka Alloh akan menjagamu
( maksudnya melaksanakan perintah-perintah Alloh, dan menjauhi larangan-larangan-Nya maka Alloh akan akan menjagamu dalam urusan duniamu dan akhiratmu.

ا حفظ الله تجده تجاهك ( أمامك ) :

2. Jagalah syariat Alloh dan tunaikan hak-hakNya maka engkau akan mendapati pertolongan Alloh.

اذا سألت فاسأل الله, واذااستعنت فاستعن بالله :

3. Jika engkau meminta pertolongan atas perkara dari perkara dunia maupun perkara akhirat maka mintalah pertolongan kepada Alloh, dan janganlah meminta pertolongan kepada yang tidak mampu melaksanakannya kecuali Alloh, seperti mengobati orang sakit, meminta rizki, yang hal itu merupakan kekususan bagi Alloh saja ( disebutkan oleh an nawawi dan al haitami )

واعلم أن الأمة لواجتمعت على أن ينفعك بشيئ لم ينفعوك إلا بشيئ قدكتبه الله لك, وإن انجتمعواعلى أن يضروك إلا بشيئ قد كتبه الله عليك :

4. Ketahuilah bahwasanya jika seluruh ummat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at kepadamu maka tidak akan mereka tiadak akan dapat memberikannya kepadamu kecuali apa-apa yang telah ditetapkan oleh Alloh kepadamu, dan apabila mereka berkumpul untuk memberikan mudhorot kepadamu maka mereka tidak akan dapat membahayakanmu kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Alloh kepadamu.
( hal ini berkaitan dengan iman kepada takdir yang telah Alloh tetapkan kepada manusia baik yang baik maupun yang buruk )

رفعت الأقلام جفت الصحف : ( رواه الترمذ وقال حديث حسن صحيح )

5. Pena telah diangkat dan telah kering tinta

Bertawakal kepada Alloh tetapi harus tetap mengambil sebab akibat sebagaimana sabda Nabi SAW kepada seorang shohabat yang meninggalkan kendaraanya, :
( اعقلها وتوكل ) ikatlah dulu baru bertawakal hadits hasan riwayat tirmidzi :

( تعرف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة :
6. Ingatlah Alloh diwaktu senggangmu, maka Alloh akan mengingatmu ketika masa sempitmu.

Tunaikan haq-haq Alloh dan manusia ketika waktu senggangmu maka mereka akan menolongmu diwaktu sempitmu.

واعلم أن ما أجطأك لم يكن ليصيبك, وما أصابك لم يكن ليخطئك :
7. Jika Alloh mencegahmu dari menerima sesuatu maka tidak akan yang dapat memberikannya kepadamu, dan jika Alloh berkehendak untuk memberikan sesuatu kepadamu maka tidak akan ada yang dapat menghalanginya.

واعلم أن النصر مع الصبر :

8. Ketahuilah bahwasanya pertolongan akan datang bersama kesabaran

Pertolongan terhadap bahaya musuh dan diri sendiri selalu

PENYIMPANGAN DALAM MENGIMANI TAUHID RUBUBIYYAH

Tauhid Rububiyyah adalah salah satu dari tiga macam tauhid yang di kenal dan disepakati oleh Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, yaitu: Tauhid Rububi-yah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat.
Mengenai ma’na Tauhid Rububiyyah ini, berkata Syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rohimahulloh : “Adapun Tauhid Rububiyyah yaitu beriman bahwa Alloh subhanahu adalah Pencipta segala sesuatu dan Pengatur di se-gala sesuatu, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal itu.”
Jenis Tauhid ini yaitu jenis tauhid yang diakui oleh semua makhluq, sebagai-mana dikatakan oleh Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan : “ Tauhid Rububi yah adalah tauhid yang tertanam di dalam fithroh, hampir-hampir tidak ada perselisihan di antara makhluq tentangnya, sampai pun Iblis yang merupa-kan pimpinan kekafiran. Iblis berkata : رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِيْ ( Tuhanku, karena Engkau telah memvonis aku sesat …) , dan ia berkata pula : فَبِعِزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ ( Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan sesatkan mereka (manusia) semuanya ) , sung guh Iblis telah mengakui Rububiyyah Alloh dan bersumpah dengan kemu- liaan Alloh. Demikian pula seluruh orang kafir, mereka mengakuinya, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan para penggantinya dari kalangan para pemimpin kekafiran, mereka mengakui Tauhid Rububiyyah padahal mereka tetap pada keadaan kekafiran dan kesesatannya. Alloh jalla wa ‘alaa berfirman : وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللهُ ( Sesungguhnya seandainya kamu bertanya kepada mereka ( orang-o-rang kafir ) : “Siapakah Yang telah menciptakan mereka ?”, mereka pasti akan menjawab : “Alloh.” ) …”
Seandainya ada pengingkaran, seperti yang terjadi pada Fir’aun dan mereka yang sejenis dengannya, maka pengingkaran tersebut semata-mata bersum-ber dari kesombongannya, bukan merupakan ungkapan hati mereka yang se-benarnya. Hal ini dapat dibuktikan ketika Fir’aun ditenggelamkan di lautan dan maut di depan matanya, Fir’aun pun berkata :
آمَنْتُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الَّذِيْ آمَنَتْ بِهِ بَنُوْا إِسْرَائِيْلَ , وَ أَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Aku beriman bahwasannya tidak ada yang berhak disembah kecuali Tuhan Yang disembah oleh Bani Isroil, dan aku termasuk orang yang muslim !”
( Qs. Yunus : 90 – 91 )
Demikianlah, kesombongan Fir’aun-lah yang menghalangi dia dan bala tenta ranya untuk mengakui Rububiyyah Alloh.
Tauhid Rububiyyah ini tidaklah memasukkan orang ke dalam Islam, karena secara naluriyah setiap insan pasti mengakuinya, sebagaimana penga-kuan Iblis, Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab dan lain-lainnya. Bahkan kaum musyrikin arab yang menentang Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pun me- ngakuinya yang pengakuan tersebut dapat disimak dalam talbiyah mereka :
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ إِلاَّ شَرِيْكًا هُوَ لَكَ وَ مَا مَلَكَ
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Alloh, aku datang, tidak ada seku-tu bagi-Mu kecuali sekutu yang ia adalah milik-Mu sedang ia tidak memiliki”
Mereka melantunkan talbiyah ini ketika berhaji. Mereka menyembah Alloh, tetapi mereka pun menyembah Latta, ‘Uzza, Manat, Hubal dan Anshob. Pe-ngakuan Rububiyyah mereka tidak memasukkan mereka ke dalam Islam ka-rena mereka telah menyekutukan Alloh dalam Uluhiyyah / Ibadah.
Ketika orang-orang kafir mengakui dan mengimani Tauhid Rububiy yah, di kalangan umat Islam malah muncul penyimpangan terhadap Tauhid Rububiyyah ini. Di antara kelompok yang menyimpang yaitu golongan Dah-riyyah atau pemuja masa yang mengatakan :
مَا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَ نَحْيَا وَ مَا يُهْلِكُنَا إِلاَّ الدَّهْرُ
“Kehidupan itu hanyalah kehidupan kami di dunia, kami mati dan kami hi-dup, dan tidak ada yang membinasakan kami kecuali masa.”
( QS. Al-Jatsiyah : 24 )
Mereka menyatakan bahwa yang mengatur kehidupan adalah masa atau wak tu. Termasuk ke dalam golongan sesat ini yaitu kaum Syuyu’iyyah ( atheis / komunis ) dan sebagian kaum filosof.
Golongan lainnya yang menyimpang dalam hal ini adalah Syi’ah sek-te Sabaiyyah yang menyatakan bahwa ‘Ali bin Abi Tholib adalah tuhan atau memiliki bagian dari ketuhanan, selalu hidup dan tidak pernah mati, dan ti-dak ada yang menguasainya. ‘Ali itulah yang datang di awan, guruh adalah suaranya, dan petir adalah senyumannya. Orang-orang yang mengikuti aliran ini pada zaman ‘Ali bin Abi Tholib memerintah ditangkap dan dihukum ba-kar oleh ‘Ali. Tetapi ketika mereka dibakar oleh ‘Ali, mereka malah menga-takan : “Tidaklah membakar kami kecuali tuhan kami !” Namun pencetus aliran ini, yaitu ‘Abdullah bin Saba’ berhasil meloloskan diri ke Madain.
Golongan lainnya yang menyimpang dalam hal ini yaitu sebagian go-longan shufi yang menganggap bahwa wali-wali Alloh bila telah mencapai de rajat wali Quthub atau wali Ghauts berarti telah diberi hak untuk ikut menga tur alam raya. Bahkan beberapa aliran shufi lainnya menyatakan bahwa se- seorang bisa menyatu dengan Alloh, dan pemahaman ini kemudian dikenal dengan nama Hululiyyah. Di antara tokohnya yaitu : Bayazid Al-Busthomi, Al-Hallaj, Suhrowardi, dan di Indonesia dikenal nama Syekh Siti Jenar. Dan pemahaman kafir ini dikembangkan lagi oleh Ibnu ‘Arobi dengan faham ke-satuan wujud ( wihdatul-wujud / Pantheisme ), yaitu pemahaman bahwa ti-dak ada wujud nyata di alam ini kecuali wujud Alloh. Alam ini memiliki dua sisi, sisi lahiriyyah disebut al-kholq ( makhluq ) dan sisi bathiniyyah disebut al-Kholiq ( Pencipta ). Maka bila Tuhan ingin melihat dirinya, cukup ia meli-hat alam karena pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara keduanya. Pe-mahaman sesat ini sekarang dipopulerkan dengan ungkapan “Tuhan ada di mana-mana.”
Penyimpangan lainnya adalah apa yang banyak dilakukan oleh pelan-tun sholawat-sholawat bid’ah, yaitu ketika mereka melantunkan sholawat na-riyyah atau sholawat tafrijiyyah, mereka berkata :
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَ سَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحِلُّ بِهِ الْعَقْدُ وَ تَنْفَرِجُ بِهِ الْكَرْبُ وَ تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَ حُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الكَرِيْمِ ….
“Ya Alloh, berilah sholawat dan salam yang sempurna kepada tuan kami Mu hammad, yang dengannya akan terlepas segala buhul ikatan, akan terlepas se gala kesusahan, akan tertunai segala hajat, akan tercapai segala harapan dan husnul-khotimah, dan dengan wajahnya yang mulia awan mendung diminta agar mencurahkan air, …..”
Di sini Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam disejajarkan dengan Alloh ‘azza wa jalla dalam kemampuan Rububiyyah, mengatur beberapa urusan alam. Begi-tu pula isi yang dikandung dalam banyak sholawat bid’ah lainnya.
Penyimpangan lainnya yaitu terjadi pada orang-orang yang bekerja sa ma dengan jin, baik penyihir, ahli nujum, pemilik khodam jin atau khodam malaikat –padahal hakekatnya jin pula-, pemuja benda-benda dan tempat-tempat keramat dan sebagainya mereka meyakini bahwa jin, malaikat gadu-ngan, pusaka, kuburan, jimat dan lain-lainnya memiliki andil dalam menga-tur di alam ini, baik dengan mendatangkan manfa’at atau menolak bencana.
Demikianlah beberapa penyimpangan dalam mengimani Tauhid Ru-bubiyyah yang dilakukan oleh sebagian orang-orang muslim, padahal orang-orang kafir –kebanyakan mereka- tulus dan murni dalam mengimani Tauhid Rububiyyah, hanya saja mereka ingkar dengan Tauhid Uluhiyyah. Bila demi-kian maka kekafiran orang-orang muslim yang menyimpang dari Tuhid Ru-bubiyyah lebih parah dibandingkan dengan kekafiran orang musyrik di za-man Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ! Mari kita segera bertaubat dan memperbaiki iman dan tauhid kita agar selamat dari siksa nereka !
{ ‘Abdulloh A. Darwanto }

MEWASPADAI MEREBAKNYA ALIRAN SESAT

وَ أَنَّ هَذَا صِراطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَ لاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ
ذالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia ! Jangan ka-lian ikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya ( jalan-jalan yang lain ) tersebut a-kan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya, yang demikian diwasiatkan ke-pada kalian agar kalian bertaqwa.” ( Qs. Al-An’am : 153 )
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir : “Sesungguhnya disebutkan jalan-Nya dalam bentuk tunggal tidak lain karena kebenaran itu hanya satu, oleh sebab itu di-jamakkan lafazh السبل ( jalan-jalan yang lain ) karena perpecahannya dan bergolong-golongannya jalan-jalan lain tersebut.”
Jalan Alloh yang lurus itu adalah yang setiap hari kita memohonkannya di da lam sholat kita :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ , صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالِّيْنَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Eng-kau karuniai ni’mat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bu-kan pula jalan orang-orang yang sesat.” ( Qs. Al-Fatihah : 6 – 7 )
Siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh ‘azza wa jalla ? Di sebutkan dalam ayat yang lainnya :
وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ الرَّسُوْلَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ
وَ حَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا
“Barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rosul-Nya, itulah orang-orang yang akan bersama dengan orang-orang yang telah Alloh berikan ni’mat kepada mereka, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada’ dan para Sholihin, dan mereka itulah sebaik-baik teman.” ( Qs. An-Nisa’ : 69 )
Sehingga jalan yang lurus adalah mengikuti perintah Alloh dan Rosul-Nya, meneladani para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para sholihin.
Berkata Al-Junaid : “Semua jalan ( menuju Alloh ) tertutup, terkecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak-langkah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, mengikuti sunnah dan jalan beliau, karena jalan-jalan kebaikan semua terbuka atasnya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada bagi kalian pada diri Rosululloh suri tauladan yang baik.” – ( Qs. Al-Ahzab : 21 ) -.”
Adapun jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kaum muslimin dari ja-lan Alloh yang lurus adalah sebagaimana disebutkan oleh Mujahid :
“ و لا تتّبعوا السبل ( jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lainnya ), yaitu bid’ah, syubhat dan kesesatan.” ( Tafsir Mujahid : 227 )
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوْا فِيْ دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنّ هَذِهِ الأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً
– يَعْنِيْ : الأَهْوَاءُ – كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً , وَ هِيَ الْجَمَاعَةُ
“Sesungguhnya dua ahli kitab ( Yahudi dan Nashrani ) telah terpecah menja-di 72 aliran, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 aliran –yaitu pengikut ha wa nafsu-, semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah.”
[ HSR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Abi ‘Ashim dan Al-Hakim ]
Berkata Al-Imam At-Tirmidzi : “ Tafsir Al-Jama’ah menurut para ulama, yai tu : ahli fiqh, ahli ilmu ( agama ) dan ahli hadits.” ( Al-Jami’ : 4 / 467 )
Sehingga seseorang yang ingin selamat dari kesesatan dan hawa nafsu, maka hendaklah ia berpegang dengan Al-Jama’ah, yaitu dengan bimbingan para ‘ulama yang faham tentang petunjuk Alloh dan Rosul-Nya.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَ لاَ يَشْقَى
“Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak a-kan celaka.” ( Qs. Thoha : 123 )
Berkata ‘Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyalohu ‘anhuma : “Barangsiapa yang be-lajar Kitabulloh ( Al-Qur’an ), kemudian mengikuti apa yang ada di dalam-nya, Alloh pasti memberikan petunjuk kepadanya dari kesesatan di dunia, dan menjaganya pada hari perhitungan amal dari hisab yang jelek.”
Dalam hadits yang lain Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَ إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ تَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً , قَالُوا : مَنْ هِيَ , يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : مَا أنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ
“Sesunguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 aliran, dan umatku akan terpecah menjadi 73 aliran, semuanya dalam neraka kecuali satu aliran.” Para Shahabat bertanya “Siapa itu, wahai Rosululloh ?” Rosul menjawab : “Yaitu yang mengikuti apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.”
[ HHR. At-Tirmidzi, Al-Lalikai, dan lain-lainnya ]
Dalam riwayat yang lain Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berpesan :
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا , فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ , عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ , وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ , فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup di antara kalian sepeninggal-ku, ia akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka wajib bagi kalian ber-pegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gigi taringmu ! Dan waspadalah kalian dari seti-ap hal-hal baru yang diada-adakan ( dalam urusan agama ), karena setiap bid ‘ah itu sesat.” [ HSR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi ]
Semua ayat, hadits dan atsar para shahabat di atas menunjukkan wajibnya mengikuti Al-Qur’an dan Hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang lurus, yaitu pemahaman para shahabat.
Menjelang akhir masa Pemerintahan Kholifah ‘Utsman bin Al-‘Affan rodhiyallohu ‘anhu mulailah di masyarakat kaum muslimin bermun- culan berbagai aliran bid’ah dan sesat, seperti Khowarij, Syi’ah, dan se-bagainya. Semua aliran sesat tersebut akan terus muncul di setiap zaman de-ngan berbagai simbol dan slogan yang baru dan terus pula berkembang demi mencari banyak pengikut. Dan memang salah satu ciri akhir zaman adalah orang-orang akan mengambil ilmu agama dari para ahli bid’ah yang sesat, sebagamana tersebut di dalam hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأَصَاغِرِ
“Termasuk ciri hari Qiyamat yaitu ilmu agama akan dipelajari dari orang-o-rang kecil/rendahan.” [ HSR. Ibnul-Mubarok dan Al-Lalikai ]
Berkata Ibnul-Mubarok : “Orang-orang kecil/rendahan yaitu ahli bid’ah.”
Maka dari itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berpesan :
فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَ إِنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَ أَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Maka jauhilah golongan-golongan itu semuanya, sekalipun dengan demi-kian engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dan engkau tetap dalam keadaan seperti itu ! “ [ HR. Al-Bukhori dan Muslim ]
Berkata Asy-Syaikh As-Sindi : “Yaitu pegangilah dengan sabar dan taqwa un tuk tetap menjauhi mereka sekalipun dengan apa yang hampir tidak layak un tuk dipegangi. Sedang menggigit akar pohon adalah kiasan dari kesusahpayah-annya. “ ( Al-Bukhori Bi Hasyiyah As-Sindi : 4 / 225 )

{ ‘Abdulloh A. Darwanto }

AL-QUR’AN DAN AL-HADITS BERBICARA TENTANG SAINS DAN TEKNOLOGI

Sesungguhnya Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi shollallo hu ‘alaihi wa sallam yang shohih banyak sekali memuat berita ten-tang sains dan teknologi yang pembenarannya baru dicapai oleh manusia setelah berpuluh abad lamanya. Berita-berita tentang sains dan teknologi yang ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits disebutkan secara implisit, yaitu tersirat dalam berbagai penjelasan tentang ‘a-qidah dan keimanan. Yang demikian sebagai penjelasan bahwa Al-Qur’an dan Hadits berikut isi dan ajarannya akan selalu selaras de-ngan perkembangan zaman. Juga karena Al-Qur’an dan Al-Hadits akan selalu selaras dengan akal dan IPTEK, tidak akan ada perten-tangan antara keduanya selamanya.
Namun demikian berbagai penemuan teknologi dan perkem bangan sains dewasa ini lebih banyak dilakukan oleh dunia Barat yang notabene bangsa-bangsa yang kafir. Kenapa bisa demikian ? Tentu ada hikmahnya kenapa Alloh ta’ala menentukan realita yang demikian. Yaitu seandainya penemuan-penemuan sains dan teknologi selalu ditemukan oleh kaum muslimin, maka tidak ada is timewanya bagi pembenaran Al-Qur’an dan Hadits. Sebab bisa ada anggapan bahwa karena penelitinya muslim …. ya tentu saja hasil penemuannya membenarkan isi Al-Qur’an dan Hadits. Tetapi keti-ka penemunya adalah orang-orang non-muslim, kemudian hasil pe nemuannya ternyata membenarkan isi Al-Qur’an dan Hadits, tentu kejadian ini semakin menguatkan akan kebenaran Al-Qur’an dan Hadits.
Orang yang dianggap oleh bangsa Barat sebagai terjenius di dunia yaitu Albert Einstein karena menemukan rumus relativitas E = m.c2 yaitu energi adalah hasil perkalian dari masa dengan kece patan cahaya yang dikuadratkan. Dari teori ini lahirlah bom atom dan teknologi tenaga nuklir. Tentu kita tidak menyangka kalau teo-ri relativitas Einstein ini sebenarnya telah tersirat puluhan Abad se-belum lahirnya Einstein dalam Qs. An-Nur : 35 :
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَ لا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَ لَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ
“Alloh adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan-akan bintang ( yang bercahaya ) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, ( yaitu ) pohon zai-tun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya ( saja ) hampir-hampir menerangi walau- pun tidak disentuh api, cahaya di atas cahaya.”
Perhatikan kata cahaya di atas cahaya, bukankah mirip dengan ru-mus relativitas Einstein yaitu E=m.c2 ?! Bukankah bom atom tidak diletupkan oleh api ?
Dalam kisah Isro’ dan Mi’roj juga terdapat isyarat kepada teknologi transportasi. Di mana ketika kisah ini diceritakan kepada manusia ketika itu, mayoritas manusia mentertawakan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan menuduhnya sebagai orang gila. Karena perjalanan dari Mekah ke Yerussalem ketika itu bila ditem-puh dengan kendaraan unta yang tercepat sekalipun tetap membu-tuhkan waktu 2 bulan untuk perjalanan bolak-balik. Namun Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengaku melakukannya hanya dalam tempo kurang dari semalam. Padahal hal ini tidak mustahil bila ki-ta memperhatikan kecepatan kendaraan yang dinaiki Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yaitu Buroq :
ثُمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ يُقَالُ لَهُ الْبُرَاقُ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَقَعُ خَطْوُهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ فَحُمِلْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ انْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا
“Kemudian aku didatangi binatang yang disebut Buroq, yang lebih tinggi dari keledai namun lebih pendek dari Baghol, yang setiap langkah kakinya adalah sejauh batas pandangan mata. Aku diba wa di atasnya, kemudian kami pergi hingga kami mendatangi la- ngit dunia.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim dan lain-lain )
Hadits ini mengisyaratkan akan adanya teknologi transportasi de-ngan kecepatan super, baik kendaraan darat maupun udara, seperti pesawat supersonic, pesawat challenger dan lain-lainnya.
Tentang atmosfer yang melingkupi bumi kita ini, di mana semakin tinggi semakin menipis, maka Al-Qur’an telah berbicara tentangnya sebelum dunia Barat menemukannya :
وَ مَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ
“Barangsiapa yang Alloh kehendaki untuk Dia sesatkan, Dia jadi-kan dadanya sesak ( untuk menerima Islam ) seakan-akan dia se-dang mendaki ke langit.” ( Qs. Al-An’am : 125 )
Berpuluh abad sebelum para ahli biologi menemukan raha-sia proses penciptaan manusia dalam rahim ibu, Al-Qur’an sudah berbicara :
يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ
“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” ( Qs. Az-Zumar : 6 )
Setelah berpuluh abada kemudian barulah Dunia Barat menemu-kan bahwa jabang bayi di dalam rahim ibu mengalami tiga fase da-lam kegelapan rahim, yaitu fase pra-embrio, fase embrio dan fase janin.
Sebelum berkembangnya ilmu kepurbakalaan yang ditandai dengan ditemukannya fosil-fosil hewan raksasa yang dikenal seba- gai dinosaurus, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari telah mengabarkan :
خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا … فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ بَعْدُ حَتَّى الآنَ
“Alloh telah menciptakan Adam berdasarkan bentuk-Nya, tinggi-nya 60 hasta … maka makhluk akan selalu berkurang ( menyusut ukurannya ) sampai hari ini.” ( HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim )
Hadits ini memberitakan bahwa manusia pada zaman Nabi Adam ‘alaihis salam tingginya hingga 60 hasta. Sehingga wajar bila ka-dal-kadalnya yang dikenal sebagai dinosaurus bisa mencapai pan- jang belasan meter. Namun semua makhluk terus menyusut dalam ukurannya hingga berakhir penyusutan ukuran itu pada zaman ini, yaitu zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini juga membantah teori evolusi Darwin yang sama sekali tidak ilmiah.
Puluhan abad sebelum adanya teknologi televisi, Al-Qur’an sudah mengenalkan tentang adanya televise, sebagaimana disebut-kan dalam kisah Ratu Balqis bersama Nabi Sulaiman :
فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَن سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّن قَوَارِيرَ
“Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulai- man: “Sesungguhnya ia adalah istana yang mengkilap yang terbuat dari kaca.” ( Qs. An-Naml : 44 )
Yaitu Ratu Balqis mengiranya sebagai kolam air yang besar karena memang tampak seperti demikian. Benda yang seperti itu pada za-man sekarang dikenal sebagai TV yang monitarnya adalah kaca.
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

KAIDAH MEMAHAMI ….

KAIDAH DALAM MEMAHAMI AL-QUR’AN DAN HADITS Al-Qur’an dan Hadits adalah dua pilar utama ajaran agama Islam, yang mana setiap rincian dan detail ajaran Islam mesti rujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagaimana firman Alloh : فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً “Bila kalian berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya bila kalian beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih baik kesudahan-nya.” ( Qs. An-Nisa’ : 59 ) Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya : “Berkata Mujahid dan tidak hanya seorang dari kalangan ulama salaf : “Yaitu kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya.” Demikian pula pendapat Imam Asy-Syafi’i dalam Ar-Risalah dan juga pendapat seluruh ‘ulama Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Tetapi kenyataan yang terjadi, hampir semua golongan me-ngaku berdalil dengan Al-Qur’an dan Hadits, bahkan golongan se-sat yang mengaku-aku sebagai nabi baru pun demikian pula. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi ?!! Kenyataan tersebut bisa saja terjadi ketika Al-Qur’an ditaf- sirkan menurut pendapat sendiri-sendiri. Akibatnya akan muncul banyak penafsiran sebanyak yang menafsirkannya. Yang lebih me-ngerikan lagi adalah ketika masing-masing golongan membawa Al Qur’an dan Hadits sebagai pembenar bagi golongannya yang sesat dan menyerang semua kaum muslimin di luar golongannya. Yang terjadi adalah ayat-ayat muhkam yang sudah terang maknanya dija dikan mutasyabihat atau kabur dalam maknanya, lalu dibelokkan tafsirnya menurut versi golongannya. Seperti golongan NII atau Da rul Islam yang menafsirkan kata Daarus-Salaam dalam ayat : وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ “Dan Alloh menyeru ke Daarus-Salaam.” ( Qs. Yunus : 25 ) sebagai Darul-Islam, lalu dengan berdalil ayat ini mereka menga-jak kaum muslimin masuk ke kelompok mereka. Padahal makna Daarus-Salaam dalam ayat tersebut adalah Syurga Daarus-Salaam sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain : لَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ “Bagi mereka syurga Daarus-Salaam di sisi Tuhan mereka.” ( Qs. Al-An’am : 127 ) Begitu pun dalam menafsirkan Hadits, banyak yang kemudian me-milah-milih sesuai kepentingan kelompoknya, kemudian memberi-kan penafsiran versi kelompoknya. Seperti hadits : مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada di lehernya BAI’AT maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyyah.” ( HR. Muslim ) Berdasarkan hadits ini, berbagai kelompok dan aliran mengharus-kan pengikutnya untuk berbai’at atau sumpah setia kepada pimpi-nan kelompoknya. Kemudian mereka menghukumi semua orang yang tidak mau berbai’at dengan pimpinan kelompoknya berarti ka fir dan matinya mati jahiliyyah. Padahal maksud hadits tersebut bu kan demikian. Karena bai’at yang Rosululloh  perintahkan dan kemudian dilakukan oleh para Shahabat adalah hanya kepada be- liau sebagai seorang Nabi dan Rosul Alloh, kemudian kepada Kho- lifah atau Sulthon ( penguasa ) yang sah. Ada pun bai’at kepada pimpinan kelompok tidak dibenarkan dalam Islam, sebagaimana hadits Hudzaifah bin Al-Yaman  : قُلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ “Aku bertanya : ”Bagaimana bila mereka tidak memiliki sebuah Ja ma’ah dan tidak pula memiliki seorang Imam ?” Rosul menjawab : “Tinggalkan seluruh golongan-golongan itu semuanya, sekalipun kamu harus lakukan dengan menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dan kamu tetap dalam keadaan seperti itu.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim ) Al-Jama’ah dalam hadits tersebut adalah Negara yang sah yang di situ kaum muslimin tinggal. Sedangkan Imam dalam hadits terse-but yaitu Kholifah atau Sulthon ( penguasa ). Karena Jama’ah yang dibenarkan adalah Jama’ah Seluruh Kaum Muslimin, bukan Jama-‘ah dari sebagian kaum muslimin. Untuk menghindari kesalahan dan kesesatan dalam mema-hami Al-Qur’an dan Hadits, maka para ‘ulama menetapkan aturan dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu : 1. Al-Qur’an mesti terlebih dahulu ditafsirkan dengan Al-Qur ‘an pula, karena sebagian ayat terkadang ditafsirkan oleh ayat yang lainnya. 2. Al-Qur’an kemudian ditafsirkan dengan Hadits-Hadits Na-bi yang shohih, karena Nabi  adalah orang yang paling mengerti tentang Al-Qur’an. 3. Al-Qur’an ditafsirkan pula dengan perkataan Shahabat , karena mereka adalah sebaik-baik manusia yang langsung menerima Al-Qur’an berikut tafsirnya dari Nabi  . 4. Al-Qur’an ditafsirkan juga dengan perkataan para ‘ulama Tabi’in, karena mereka adalah murid-murid Shahabat  yang menyebarkan ilmu para Shahabat, dan bahasa ‘arab ke tika zaman para Tabi’in belum mengalami perubahan. 5. Al-Qur’an ditafsirkan dengan kehendak makna syar’i dan ma’na lughowi ( bahasa ) sesuai dengan konteks kalimat-nya. Karena Al-Qur’an turun untuk menjelaskan syari’at dengan berbahasa ‘arab. Demikian kaidah tafsir yang telah disepakati oleh para ‘ulama Ahli Tafsir. Lebih lengkapnya dijelaskan oleh para ‘ulama Ahli Tafsir dalam kitab USHUL TAFSIR. Sebagaimana cara memahami Al-Qur’an, maka begitu pula cara memahami Hadits. Hanya saja dalam pemakaian hadits mesti selektif. Karena Hadits baru mulai dibukukan ketika telah terjadi gerakan pemalsuan Hadits. Untuk itu para ‘ulama menetapkan kai-dah untuk menyeleksi hadits antara yang dijamin keasliannya de-ngan yang diduga palsu atau mengalami kesalahan dalam riwayat. Kaidah ini disebut Mushtholah Hadits. Hadits-hadits yang memenu hi persyaratan : 1. Sanad atau rantai para perowinya mesti bersambung. 2. Para perowinya adalah orang yang ‘adil, yaitu baik agama-nya dan terjaga kehormatannya. 3. Para perowinya mesti sempurna hafalannya. 4. Tidak ada cacat yang menodai kesempurnaan hadits. 5. Tidak ada kejanggalan dalam riwayat. maka disebut HADITS SHOHIH yang dijamin keasliannya. Sedang kan yang kekuatan hafalannya tidak begitu sempurna namun meme nuhi semua syarat yang lainnya maka disebut HADITS HASAN. Tetapi bila kurang satu atau lebih dari persyaratan di atas maka haditsnya disebut HADITS DHO’IF atau hadits yang lemah, dan dilarang untuk dipergunakan karena ada kemungkinan palsu atau ada kesalahan dalam riwayat.