KAIDAH MEMAHAMI ….

KAIDAH DALAM MEMAHAMI AL-QUR’AN DAN HADITS Al-Qur’an dan Hadits adalah dua pilar utama ajaran agama Islam, yang mana setiap rincian dan detail ajaran Islam mesti rujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagaimana firman Alloh : فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً “Bila kalian berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya bila kalian beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih baik kesudahan-nya.” ( Qs. An-Nisa’ : 59 ) Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya : “Berkata Mujahid dan tidak hanya seorang dari kalangan ulama salaf : “Yaitu kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya.” Demikian pula pendapat Imam Asy-Syafi’i dalam Ar-Risalah dan juga pendapat seluruh ‘ulama Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Tetapi kenyataan yang terjadi, hampir semua golongan me-ngaku berdalil dengan Al-Qur’an dan Hadits, bahkan golongan se-sat yang mengaku-aku sebagai nabi baru pun demikian pula. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi ?!! Kenyataan tersebut bisa saja terjadi ketika Al-Qur’an ditaf- sirkan menurut pendapat sendiri-sendiri. Akibatnya akan muncul banyak penafsiran sebanyak yang menafsirkannya. Yang lebih me-ngerikan lagi adalah ketika masing-masing golongan membawa Al Qur’an dan Hadits sebagai pembenar bagi golongannya yang sesat dan menyerang semua kaum muslimin di luar golongannya. Yang terjadi adalah ayat-ayat muhkam yang sudah terang maknanya dija dikan mutasyabihat atau kabur dalam maknanya, lalu dibelokkan tafsirnya menurut versi golongannya. Seperti golongan NII atau Da rul Islam yang menafsirkan kata Daarus-Salaam dalam ayat : وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ “Dan Alloh menyeru ke Daarus-Salaam.” ( Qs. Yunus : 25 ) sebagai Darul-Islam, lalu dengan berdalil ayat ini mereka menga-jak kaum muslimin masuk ke kelompok mereka. Padahal makna Daarus-Salaam dalam ayat tersebut adalah Syurga Daarus-Salaam sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain : لَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ “Bagi mereka syurga Daarus-Salaam di sisi Tuhan mereka.” ( Qs. Al-An’am : 127 ) Begitu pun dalam menafsirkan Hadits, banyak yang kemudian me-milah-milih sesuai kepentingan kelompoknya, kemudian memberi-kan penafsiran versi kelompoknya. Seperti hadits : مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada di lehernya BAI’AT maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyyah.” ( HR. Muslim ) Berdasarkan hadits ini, berbagai kelompok dan aliran mengharus-kan pengikutnya untuk berbai’at atau sumpah setia kepada pimpi-nan kelompoknya. Kemudian mereka menghukumi semua orang yang tidak mau berbai’at dengan pimpinan kelompoknya berarti ka fir dan matinya mati jahiliyyah. Padahal maksud hadits tersebut bu kan demikian. Karena bai’at yang Rosululloh  perintahkan dan kemudian dilakukan oleh para Shahabat adalah hanya kepada be- liau sebagai seorang Nabi dan Rosul Alloh, kemudian kepada Kho- lifah atau Sulthon ( penguasa ) yang sah. Ada pun bai’at kepada pimpinan kelompok tidak dibenarkan dalam Islam, sebagaimana hadits Hudzaifah bin Al-Yaman  : قُلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ “Aku bertanya : ”Bagaimana bila mereka tidak memiliki sebuah Ja ma’ah dan tidak pula memiliki seorang Imam ?” Rosul menjawab : “Tinggalkan seluruh golongan-golongan itu semuanya, sekalipun kamu harus lakukan dengan menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dan kamu tetap dalam keadaan seperti itu.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim ) Al-Jama’ah dalam hadits tersebut adalah Negara yang sah yang di situ kaum muslimin tinggal. Sedangkan Imam dalam hadits terse-but yaitu Kholifah atau Sulthon ( penguasa ). Karena Jama’ah yang dibenarkan adalah Jama’ah Seluruh Kaum Muslimin, bukan Jama-‘ah dari sebagian kaum muslimin. Untuk menghindari kesalahan dan kesesatan dalam mema-hami Al-Qur’an dan Hadits, maka para ‘ulama menetapkan aturan dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu : 1. Al-Qur’an mesti terlebih dahulu ditafsirkan dengan Al-Qur ‘an pula, karena sebagian ayat terkadang ditafsirkan oleh ayat yang lainnya. 2. Al-Qur’an kemudian ditafsirkan dengan Hadits-Hadits Na-bi yang shohih, karena Nabi  adalah orang yang paling mengerti tentang Al-Qur’an. 3. Al-Qur’an ditafsirkan pula dengan perkataan Shahabat , karena mereka adalah sebaik-baik manusia yang langsung menerima Al-Qur’an berikut tafsirnya dari Nabi  . 4. Al-Qur’an ditafsirkan juga dengan perkataan para ‘ulama Tabi’in, karena mereka adalah murid-murid Shahabat  yang menyebarkan ilmu para Shahabat, dan bahasa ‘arab ke tika zaman para Tabi’in belum mengalami perubahan. 5. Al-Qur’an ditafsirkan dengan kehendak makna syar’i dan ma’na lughowi ( bahasa ) sesuai dengan konteks kalimat-nya. Karena Al-Qur’an turun untuk menjelaskan syari’at dengan berbahasa ‘arab. Demikian kaidah tafsir yang telah disepakati oleh para ‘ulama Ahli Tafsir. Lebih lengkapnya dijelaskan oleh para ‘ulama Ahli Tafsir dalam kitab USHUL TAFSIR. Sebagaimana cara memahami Al-Qur’an, maka begitu pula cara memahami Hadits. Hanya saja dalam pemakaian hadits mesti selektif. Karena Hadits baru mulai dibukukan ketika telah terjadi gerakan pemalsuan Hadits. Untuk itu para ‘ulama menetapkan kai-dah untuk menyeleksi hadits antara yang dijamin keasliannya de-ngan yang diduga palsu atau mengalami kesalahan dalam riwayat. Kaidah ini disebut Mushtholah Hadits. Hadits-hadits yang memenu hi persyaratan : 1. Sanad atau rantai para perowinya mesti bersambung. 2. Para perowinya adalah orang yang ‘adil, yaitu baik agama-nya dan terjaga kehormatannya. 3. Para perowinya mesti sempurna hafalannya. 4. Tidak ada cacat yang menodai kesempurnaan hadits. 5. Tidak ada kejanggalan dalam riwayat. maka disebut HADITS SHOHIH yang dijamin keasliannya. Sedang kan yang kekuatan hafalannya tidak begitu sempurna namun meme nuhi semua syarat yang lainnya maka disebut HADITS HASAN. Tetapi bila kurang satu atau lebih dari persyaratan di atas maka haditsnya disebut HADITS DHO’IF atau hadits yang lemah, dan dilarang untuk dipergunakan karena ada kemungkinan palsu atau ada kesalahan dalam riwayat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: