TUHAN-TUHAN GADUNGAN

وَ إِيَّاكُمْ وَ الْمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap bid’ah itu sesat !“ [ HSR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi ]

Sesungguhnya kesesatan dan bid’ah yang ada pada seseorang akan terus bertambah menjadi lebih parah, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Al-Barbahari rohimahul- loh : “ Waspadalah dari sekecil-kecilnya perkara-perkara baru dalam agama, karena bid’ah-bid’ah yang kecil akan menjadi suatu tradisi hingga berubah menjadi besar ! Demikian pula setiap bid’ah yang diada-adakan di dalam umat ini, awalnya kecil me nyerupai kebenaran sehingga menipu setiap orang yang masuk ke dalamnya, kemu- dian ia tidak mampu keluar darinya, maka bid’ah itu menjadi besar dan berubah men jadi agama yang ia tunduk kepadanya, kemudian ia menyelisihi jalan yang lurus, lalu ia pun keluar dari Islam.” [1]

Di antara kesesatan dan bid’ah yang berbahaya adalah seseorang mengaku –aku sebagai orang sholih atau orang suci, padahal telah adanya larangn dari mentazki yah (menganggp suci) diri sendiri sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an :

فَلاَ تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kalian mentazkiyah (menganggap suci) diri kalian sendiri !”

[ Qs. An-Najm : 32 ]

Orang-orang yang menganggap dirinya sebagai orang yang sholih atau suci biasanya akan tergelitik untuk meningkatkan pengakuannya sebagai wali, lalu mengaku seba-gai Imam Mahdi, kemudian mengaku sebagai nabi. Di antara mereka ada pula yang mengaku telah menyatu dengan Alloh dan ada pula yang mengaku sebagai Tuhan.

Di antara mereka adalah Mirza Muhammad ‘Ali Asy-Syairozi pengikut ali-ran sesat Syi’ah dari sekte Itsna ‘Asyariyyah[2] madzhab Isma’iliyyah[3]. Setelah mem-pelajari filsafat, ia keluar kepada orang-orang dan mengaku sebagai juru bicara dari i-mam mastur[4] dan bab ( pintu ) kepadanya. Oleh karena itu alirannya disebut aliran Babiyyah. Kemudian dia pun mengaku sebagai imam mahdi, setelah itu ia pun meng aku bahwa Alloh telah menyatu dalam dirinya.

Kejadian serupa terjadi pada salah satu tangan kanannya yang bernama Ba-haullah. Sepeninggal gurunya, ia mendapat banyak pengikut, lalu nama alirannya ia rubah menjadi Bahaiyyah nisbat kepada namanya. Ia pun mengarang kitab Al-Bayan yang ia aku sebagai ganti dari Al-Qur’an. Kemudian ia mengaku mendapat wahyu be rupa Al-Kitab Al-Aqdas dan mengaku membawa agama baru, bukan agama Islam. Lalu ia wajibkan kepada pengikutnya untuk melakukan sholat dengan menghadap ke arah di mana Baha’ berada, sujud dan ruku’ ke arah Baha’. Setelah mati, ia diganti-kan oleh anaknya yang bernama ‘Abbas yang dikenal dengan ‘Abdul-Baha’.

Muncul pula aliran Druz yang dipelopori oleh Muhammad bin Isma’il Dru-zi. Aliran ini menetapkan Al-Hakim Al-‘Ubaidi sebagai tuhan yang disembah. Tin-dakannya didukung oleh Hamzah bin ‘Ali bin man ahali Zuzan. Aliran ini sekarang berkembang di Negara Libanon.

Muncul pula golongan Khoththobiyyah yang menetapkan ketuhanan bagi Abul-Khoththob dan para imam-imam mereka. Ada pula orang-orang yang menu-hankan ‘Abdulloh bin Mu’awiyyah bin ‘Abdillah bin Ja’far. Sementara itu aliran ‘Adzafiroh menuhankan Ibnu Abi ‘Adzafir

Aliran Muqonna’iyyah meyakini bahwa Al-Muqonna’ adalah tuhan yang di sembah, dan tuhan memiliki bentuk-bentuk tertentu pada setiap zaman.

Adapun aliran Hilmaniyyah yang dicetuskan oleh Abu Hilman Ad-Dimasy qi menganggap bahwa Alloh menitis kepada setiap bentuk yang bagus. Maka aliran ini selalu bersujud kepada setiap apa yang dianggapnya sebagai tuhan.

Sedangkan aliran Hululiyyah yang dikenalkan oleh Al-Hallaj meyakini bah wa manusia bisa bersatu dengan Alloh. Al-Hallaj mengatakan bahwa manusia memi liki sifat Lahut ( ketuhanan ) dan sifat Nasut ( kemanusiaan ), begitu pula dengan Alloh. Maka, bila seseorang dapat menghilangkan sifat nasutnya, ia akan dapat me-nyatu dengan Alloh. Penganut aliran Hululiyyah ini menyembah kepada para imam mereka karena mereka menganggap bahwa Alloh yang mereka sembah telah menya-tu dalam diri imam-imam mereka.

Teori yang hampir sama juga dilontarkan oleh Abu Yazid Al-Bushtomi, di- mana ia menyatakan bahwa manusia yang telah hilang kesadaran akan jasad kasar-nya –yang dalam teori Bayazid ini disebut dengan fana’-, maka ia akan dapat bersatu de- ngan Alloh. Teori ini didasarkan kepada anggapan bahwa manusia berasal dari nur atau cahaya Alloh, sehingga ia memungkinkan kembali kepada sumber asalnya.

Sedangkan Suhrowardi, pemahamannya sebenarnya tidak jauh beda dengan Al-Hallaj maupun Bayazid. Ia berpendapat bahwa alam ini tercipta melalui penyina-ran, dan ia berupa cahaya yang bertingkat-tingkat. Cahaya yang tertinggi adalah Nu-rul-Anwar atau Nurul-A’zhom, dan inilah Alloh. Sehingga hubungan manusia de- ngan Alloh digambarkan oleh Suhrowardi sebagai hubungan arus bolak-balik. Dan manusia dapat kembali kepada sumber asalnya dengan melalui jenjang-jenjang terten tu yang kemudian diajarkannya dalam bentuk beberapa pelatihan rohani.

Muncul pula Ibnu ‘Arobi [5] yang menda’wahkan pemahaman Widhatul-Wu jud ( pantheisme ) yang menyatakan bahwa Alloh menyatu dengan alam ini, bahkan Alloh itulah wujud hakiki dari alam ini. Sementara alam raya yang nampak oleh kita ini menurut Ibnu ‘Arobi sebenarnya adalah satu yaitu Alloh dan beraneka ragam ben tuk yang ada di alam ini hanyalah bayangan dari Alloh, bukan bentuk yang hakiki. Pemahaman ini dianut pula oleh Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil-Qur’an dan Harun Yahya dalam berbagai VCD-nya.

Konsekuensi dari pemahaman pantheisme ini yaitu kebolehan menyembah kepada apa pun. Sehingga pengikut Ibnu ‘Arobi membenarkan penyembahan kepada berhala, dengan anggapan bahwa hakikat alam ini hanyalah Alloh, sehingga berhala yang disembah oleh kaum musyrikin pun hakikatnya adalah Alloh pula. Maka berdasarkan pemahaman sesat dan kafir ini, semua benda di alam ini adalah tuhan !

Konsep ketuhanan yang dianut oleh Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Busthomi, Ib-nu ‘Arobi, Suhrowardi dan orang-orang yang yang sefaham dengan mereka sebenar-nya berasal dari filsafat Aristoteles dan Neo-Platoisme yang coba diakurkan oleh Ib- nu Sina dengan teori-teori ketuhanan menurut aliran ahli kalam[6], khususnya dari aliran Mu’tazilah[7] dan Jahmiyyah[8]. Dari penyatuan semua unsur kesesatan dan keka firan yang ada pada filsafat Aristoteles, Neo Platoisme, pemahaman Mu’tazilah dan Jahmiyyah lahirlah teori penciptaan alam versi Ibnu Sina. Dan di antara teori kafir- nya, Ibnu Sina mengatakan bahwa untuk menciptakan alam, Alloh sebagai Wujud Pertama memikirkan tentang diri-Nya, maka akan lahir wujud-wujud berikutnya dan akalnya beserta ruh atau jiwanya[9]. Kemudian dari Akal ke-X-lah tercipta bumi, tanah, air, dan semua apa yang ada di muka bumi dan di bawah Bulan. Pendapat ka- fir Ibnu Sina ini secara tidak langsung mengatakan bahwa ada pencipta lain selain Alloh, di mana setiap akal akan mengeluarkan ciptaannya.

Dan masih banyak lagi tuhan-tuhan gadungan yang telah dan terus bermun culan. Dan tuhan gadungan terakhir yang bakal muncul adalah Ad-Dajjal yang me-miliki berbagai kemampuan yang luar biasa dan mampu menundukkan langit dan bu mi. Bila Dajjal menghendaki langit menurunkan hujan, maka segeralah langit mencu rahkan hujan. Begitu pula bila ia menghendaki bumi menumbuhkan tanam-tanaman maka dengan segera muncul tanaman dari bumi. Dan akan banyak manusia yang ter tipu dan mengikuti ajakannya.

وَ مَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّيْ إِلَهٌ مِنْ دُوْنِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa di antara mereka yang mengatakan : “Sesungguhnya aku adalah tuhan yang disembah selain Dia,” maka Kami akan membalasi dia dengan neraka Jahan-nam.” ( Qs. Al-Anbiya’ : 29 )

Ada pun para nabi, para malaikat, para wali dan orang-orang sholih yang di-sembah oleh orang-orang yang terpedaya oleh tipu-muslihat syetan, tidaklah digo-longkan ke dalam tuhan-tuhan gadungan, karena mereka tidak pernah suka dipertu-hankan, sebagaimana Nabi ‘Isa ‘alaihis-salaam yang berlepas diri dari penyembahan yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani terhadap dirinya, ‘Ali bin Abi Tholib yang murka ketika disembah dan dipuja oleh golongan Syi’ah, dan sebagainya.

Penuhanan dalam bentuk lainnya adalah seperti yang terjadi pada kebanya-kan orang sekarang ini, yaitu ada yang menuhankan hawa nafsunya, menuhankan ja batan, menuhankan harta, menuhankan kecantikan dan sebagainya. Karena sesung-guhnya hakekat dari berhala yaitu setiap apa yang menjadikan lalai dari mengingat Alloh. Dengan demikian segala sesuatu bisa menjadi berhala atau tuhan gadungan.

[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]


[1] Syarh As-Sunnah : 68 – 69.

[2] Yaitu aliran Syi’ah yang ekstrim yang menetapkan adanya imam ma’shum yang berjumlah dua belas orang.

[3] Yaitu aliran yang menetapkan bahwa rantai keimaman terhenti pada Isma’il bin Ja’far Ash-Shodiq.

[4] Yaitu imam kedua belas mereka yang masih bersembunyi, demikian menurut keyakinan kaum Syi’ah.

[5] Yaitu Ibnu ‘Arobi penulis kitab Al-Fushush dan Al-Futuhat, bukan Ibnu ‘Arobi yang seorang ‘ulama dari kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

[6] Yaitu ilmu yang membahas tentang ‘aqidah dengan menggunakan akal.

[7] Mu’tazilah adalah aliran rasionalis yang memuja akal.

[8] Jahmiyyah yaitu aliran yang mengikuti pemahaman Al-Jahm bin Sofwan yang berpendapat bahwa Alloh ti-dak memiliki sifat, iman itu cukup dengan hanya mengenal adanya Alloh saja, dan lain-lainnya.

[9] Sebagaimana filosof Yunani, Ibnu Sina berkeyakinan bahwa semua bintang dan benda-benda di langit me-miliki jiwa atau ruh, sehingga bisa beredar sesukanya.

Iklan

ANIMISME

P E M U J A A N K E P A D A R O H

Permasalahan seputar roh dan keberadaannya setelah kematian banyak disalahfahami oleh mayoritas kaum muslimin. Bahkan kecenderungan pemikiran kebanyakan kaum muslimin tersebut mengarah kepada pemahaman animisme, yaitu kepercayaan bahwa arwah orang yang telah meninggal dunia mampu mem bantu keluarganya atau kerabatnya atau orang-orang lain yang masih hidup di dunia. Kepercayaan berbau animisme ini malah dikemas dalam berbagai ritual yang dinisbatkan kepada agama Islam, padahal keseluruhan ritual tersebut ber-tentangan dengan ajaran tauhid dan syari’at Islam.
Animisme secara bahasa berasal dari kata “anima” yang bermakna roh, sehingga faham animisme bermakna kepercayaan bahwa roh itu mampu membe rikan manfa’at kepada kehidupan manusia. Kepercayaan animisme inilah yang di anut oleh bangsa-bangsa primitif yang ada di berbagai penjuru dunia. Masing-masing suku memiliki sederetan nama arwah leluhur yang dipuja dan dimintaii pertolongan. Demikian pula setiap keluarga memiliki sejumlah nama arwah yang menjadi pelindung keluarganya.
Dalam beberapa kalangan masyarakat animisme, interaksi antara orang yang masih hidup dengan roh-roh orang yang telah mati biasanya dibantu oleh jasa medium perantara yang dikenal dengan nama syaman atau dukun atau pa-ranormal dan sejenisnya. Lewat mereka orang-orang bisa berkomunikasi dengan roh para leluhurnya. Demikian kepercayaan animisme yang ternyata sampai se- karang masih dilakukan dan ditiru oleh banyak orang. Bahkan ada yang dengan sengaja memanggil roh sembarang dengan ritual tertentu yang disebut jelang-kung. Semua itu adalah agama dan ritual animisme.
Ajaran animisme ini masih dianut pula oleh beberapa bangsa yang maju, seperti bangsa Jepang dengan agama Shinto-nya. Bahkan Shinto sendiri berarti “perjalanan roh” karena berasal dari kata “Shen” yang bermakna roh dan “Tao” yang bermakna “jalannya dunia, bumi dan langit”. Dalam agama Shinto penganut nya diwajibkan menyembah kepada roh yang mereka sebut dengan “ kami “, yang terdiri dari arwah para leluhur tiap-tiap suku, arwah para pahlawan dan ar-wah nenek moyang masing-masing keluarga.
Dalam agama Hindu dan Budha pun pemujaan kepada arwah nenek mo yang pun disakralkan, meski dalam bentuk yang lain. Mereka memang tidak se-cara terang-terangan menyembah kepada arwah leluhur, karena pemujaan yang mereka lakukan kepada banyak dewa telah menyedot seluruh peribadatan mere- ka. Namun dalam praktek kesehariannya, mereka pun tidak lepas dari memohon pertolongan dan bantuan kepada arwah para leluhur. Praktek pemujaan kepada roh ini akan semakin jelas bila kita mengamati para pelaku tapa brata atau tapa yoga yang tujuannya adalah untuk melepaskan suksmanya sehingga bisa me-langlang buana berinteraksi dengan kehidupan di alam roh. Atau bisa pula kita jumpai pada ritual mereka yang mengirimkan beberapa sesajen sebagai makan-an bagi arwah leluhurnya pada hari-hari tertentu. Ada pula kebiasaan sebagian mereka yang membakar uang atau replika dari bentuk rumah, mobil dan sejenis-nya dengan niat untuk diberikan kepada roh orang yang meninggal agar bisa di-pakai oleh mereka di alam roh. Bila tidak ada yang mengirimkan barang-barang tersebut, maka di alam roh orang tersebut akan kebingungan tidak punya uang, tidak punya baju, makanan, rumah, mobil dan lain-lain.
Kepercayaan animisme ini masih pula dianut oleh sebagian besar kaum muslimin dengan meyakini bahwa roh sanak keluarga yang baru meninggal ma-sih berada di rumah hingga 7 ( tujuh ). 40 ( empat puluh ) atau 100 ( seratus ) ha-ri. Sehingga mereka perlu menggelar selamatan pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan ke-1000 dalam rangka mengantar rohnya kembali ke alamnya atau de-ngan alasan-alasan sejenis lainnya. Pada saat ini, ritual animisme ini disebut de-ngan istilah “tahlilan” atau “yasinan” karena dimasukkannya pembacaan tahlil dan surat yasin di dalamnya. Yang kita permasalahkan bukan semata bid’ahnya pembacaan tahlil dan surat yasin dalam acara tersebut, namun yang lebih me-ngerikan adalah penyimpangan pelakunya dari ajaran Islam yang tidak mengenal pemujaan roh, kepada ajaran animisme yang kental dengan pemujaan kepada roh. Inilah kesyirikan yang tidak pernah disadari oleh para pelakunya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang yaitu : apa pengertian dari roh itu ? Roh bermakna : “ Sesuatu yang denganya ada kehidupan bagi jiwa.”
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh : “ Sesungguhnya ruh adalah asal da-ri jiwa dan merupakan unsur penyusunnya, jiwa sendiri tersusun darinya dan dari hubungannya dengan badan, yaitu dengan satu arah saja tidak dari berbagai arah, inilah makna yang bagus ( tentang ruh ).”
Ada pun tentang perincian detail tentang ruh, tidak ada manusia yang mengeta-hui, karena urusan ruh adalah monopoli ilmu Alloh Subhanahu wa Ta’ala, seba-gaimana firman-Nya :
يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ , قُلِ : الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ وَ مَا أُوْتِيْتُ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً
“ Mereka bertanya kepadamu tentang Ruh, katakanlah : “ Ruh itu termasuk urus-an Tuhan-ku dan aku tidak diberikan ilmunya kecuali sedikit.” [ Qs. Al-Isro’ : 17 ]
Berkata Dr.Muhammad Sulaiman Al-Asyqor : “ Sesungguhnya Alloh telah memo- nopoli tentang ilmunya, tidak memberitahukannya kepada para nabi-Nya.”
Demikian pula perkaranya, ketika ruh dicabut dari badannya oleh Malai-kat Maut, hakekat keberadaannya hanya Alloh ta’ala yang mengetahui. Kita ha-nya dapat mengetahui melalui sejumlah riwayat yang shohih bahwa ruh itu akan dikembalikan ke badannya untuk menjawab sejumlah pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir, yaitu dalam kehidupan di alam barzah. Kemudian bagi yang bisa menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir akan mendapatkan nik-mat kubur, sedangkan yang tidak mampu menjawab dengan benar akan meneri-ma siksa kubur.
Bila kita menelusuri seluruh riwayat tentang alam qubur atau alam bar-zah, kita bisa dapati bahwa tidak ada satu pun riwayat yang shohih yang dapat di jadikan pembenar bagi faham animisme. Semua cerita tentang roh-roh orang ma ti yang menengok familinya, membantu orang yang minta tolong kepadanya atau pun yang pada bergentayangan sebagaimana banyak ditayangkan dalam film-film horor dan mistik hanyalah bersumber dari hadits-hadits palsu dan cerita-ceri- ta khurofat dan tahayyul.
Dalam masyarakat yang masih bodoh dengan ajaran tauhid dan ‘aqidah yang lurus, syetan sering mempermainkan mereka dengan menjelma menjadi so sok orang yang telah mati lalu menampakkan dirinya mendatangi keluarga dan para sahabatnya. Sesungguhnya yang datang kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya bukanlah ruh orang yang mati itu, karena ruh sedang mengalami siksa kubur atau nikmat kubur. Yang datang itu tidak lain adalah jin, terutama jin qorin, yaitu jin pendamping orang tersebut semasa hidupnya. Karena setiap ma-nusia pasti didampingi oleh 2 ( dua ) qorin ( pendamping ) yaitu dari bangsa jin yang senantiasa membisikkan kejelekan dan dari bangsa malaikat yang senantia sa mengajak kepada kebaikan. Setelah seseorang meninggal dunia, maka jin qo rinnya pun pergi meninggalkan tubuhnya, dan terkadang sering menampakkan di ri kepada orang-orang dengan rupa dan wujud dari orang mati tersebut. Oleh ka-rena itu Mujahid pernah berkata : “ Syetan selalu menampakkan diri kepadaku dalam rupa Ibnu ‘Abbas ketika aku sedang sholat, maka aku pun teringat ucapan Ibnu ‘Abbas, lalu aku membawa pisau, maka ketika ia menampakkan diri kembali aku tusuk ia dengan pisau hingga ia roboh, dan tidaklah aku melihatnya lagi sete lah itu.” [ AR. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baghondi ]
Demikian pula sosok yang menampakkan diri ketika seseorang beri’tikaf di makam seorang nabi atau wali atau seorang sholih, sesungguhnya ia adalah syetan, karena mereka yang telah mati tidak mungkin ruhnya bisa keluar mene-mui peziarahnya untuk mengabulkan segala hajat mereka. Sehingga para pemu-ja kuburan ( quburiyyin ) tidaklah bertemu dengan ruh orang yang dikubur, na- mun sebenarnya mereka hanya bertemu dengan syetan yang menjelma.
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

P H Y T A G O R E A N I S M E

P H Y T A G O R E A N I S M E
[ F A H A M P E N U H A N A N A N G K A ]

Nama Phitagoras tentu bukan nama yang asing bagi kalang an dunia pendidikan, karena namanya sering dikaitkan dengan se buah nama yang masyhur untuk sebuah rumus matematika yang dikenal dengan rumus stelling pytaghoras, yaitu c2 = a2 + b2, pada-hal tidak ada kaitannya antara rumus tersebut dengan Pythagoras. Karena memang bukan Pythagoras yang menemukan rumus terse but, walaupun penamaannya mengambil dari nama dirinya.
Pythagoras adalah seorang filosuf Yunani yang hidup anta-ra tahun 570 – 504 SM. Selain sebagai seorang filosuf, Pythagoras pun adalah seorang agamawan yang mengajarkan adanya reinkar nasi , vegeterianisme dan penyiksaan terhadap diri sendiri. Sela in itu, Pythagoras terkenal dengan ajaran penuhanan terhadap bi-langan atau angka. Para penganut ajaran Pythagoras yang dikenal dengan nama Pythagorean mempunyai kepercayaan bahwa inti sari semua benda, wujud dan hal adalah angka, dan semua hubu-ngan yang ada di alam ini mesti dapat dinyatakan dengan angka.
Pythagoras dengan tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa Tu han itu adalah angka. Hal ini menurut anggapan Pythagoras kare-na setiap kebajikan pasti dapat dinyatakan dengan suatu keakura-tan. Sehingga suatu kebajikan pasti dapat dihitung letaknya di an-tara dua posisi ekstrem dalam matematika. Prinsip tersebut diilha-mi oleh ajaran filsafat Yunani Purba yang mengatakan bahwa ke-bajikan berada di posisi antara ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Menurut Pythagoras sesuatu yang tidak dihitung atau tidak dapat dihitung berarti suatu kejahatan. Oleh karena itu Pythagoras pun berkata bahwa segala sesuatu adalah angka.
Sepeninggal Pythagoras, para mengikutnya terbelah menja-di dua. Sebagian memilih menekuni bidang matematika dan me-ninggalkan ajaran mistik Pythagoras, sementara itu sebagian lain- nya masih kokoh berpegang dengan ajaran mistik keagamaan Py-thagoras dan tidak tertarik mempelajari hal-hal yang matematis.
Pengaruh ajaran filsafat Pythagoras sampai pula kepada se-bagian kaum muslimin yang bodoh dengan ajaran Islam. Kita bisa melihat dalam kehidupan mayoritas masyarakat muslim, masih banyak yang mengkeramatkan beberapa angka-angka tertentu. Se bagian ada yang mengkeramatkan angka 7, sebagian yang lain me nganggap keramat angka 9, angka 13, angka 40 dan lain sebagai- nya. Mereka meyakini bahwa angka-angka tersebut dapat membe rikan pengaruh kepada kehidupan, baik pengaruh positif atau pe-ngaruh negatif. Seperti keyakinan sebagian masyarakat Jawa ba-gian selatan yang mengkeramatkan angka 13 dan menganggap-nya sebagai angka sial. Bahkan di beberapa hotel ada yang tidak berani membuat nomor kamar 13 dan menggantinya dengan 12 B.
Sebagian kaum muslimin lainnya masih mempercayai per-hitungan hari baik dan buruk ketika hendak melaksanakan suatu hajat. Semua hari –menurut mereka- memiliki kode angka-angka ter tentu. Semisal ada orang yang hendak menyelenggarakan sebuah hajatan pernikahan. Mereka akan menghitung angka-angka dari hari kelahiran calon mempelai laki-laki dan calon mempelai pe-rempuan. Bila penjumlahan dari angka-angka hari kelahiran ke-dua mempelai menghasilkan angka “sial” atau angka “mati” mere ka pun lantas membatalkan rencana pernikahan tersebut. Andai kata hendak diteruskan, maka mereka mesti memberikan bebera- pa sesaji untuk menolak bala’ dari angka jelek tersebut. Bila angka yang dihasilkan adalah angka “baik” atau “mujur”, mereka masih pula melakukan penghitungan tentang hari “baik” bagi pelaksana an hajatan pernikahan tadi.
Di beberapa agama lain, seperti agama Budha, Tao, Lama, dan aliran-aliran kepercayaan keyakinan terhadap angka-angka ini memang begitu mendominasi kehidupan mereka. Segala sesua tu dihitung dengan angka dan sudut, sehingga lahirlah teori Feng Sui atau Hong Sui. Keyakinan kepada angka-angka ini melahirkan pula model ramalan nasib dengan SIO, yaitu perhitungan nasib seseorang berdasarkan tanggal, bulan dan tahun yang juga disim- bolkan dengan angka-angka.
Dalam mistik shufi dan perdukunan yang menisbatkan diri nya kepada Islam – padahal bertentangan dengan Islam – kita sering melihat para dukun atau syeikh shufi membuat rajah atau jimat dengan kode-kode tertentu yang tidak dapat dimengerti oleh ma-nusia. Tulisan dan kode-kode jimat atau rajah tersebut didominasi oleh angka-angka dan huruf-huruf, dan kebanyakannya disusun dalam bentuk bangun segi-segi khusus dengan sudut tertentu. Me reka meyakininya sebagai pelindung, penolak bala’, pembawa reje ki, penjamin keselamatan. Inilah pemujaan kepada angka-angka !
Semua yang mereka lakukan itu adalah kebodohan dan per buatan syirik, karena mereka telah meyakini bahwa ada selain Alloh yang mampu mengatur alam ini, mengatur mujur dan sial- nya sesuatu. Padahal Alloh Ta’ala telah berfirman :
أَلاَ إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللهِ وَ لَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
“ Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka hanya datang dari si-si Alloh, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
[ Qs. Al-A’rof : 131 ]
وَ إِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍِّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ , وَ إِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Bila Alloh menghendaki menimpakan kemudhorotan kepadamu maka tidak akan ada yang mampu menghilangkannya kecuali Dia dan bila Dia menghendaki memberikan kebaikan kepadamu ma-ka Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [ Qs. Al-An’am : 17 ]
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya :
اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ , وَ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ , وَ لاَ إلـهَ غَيْرُكَ
“ Ya Alloh tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Eng-kau.” [ HSR. Ahmad dan Ibnus-Sunni ]

( ‘Abdulloh A. Darwanto )

KISAH NABI SALEH A.S.

Tsamud adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama ” Alhijir ” terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang di kirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud A.S.

Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung.Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram ,sejahtera dan bahgia, merasa aman dari segala gangguan alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan Mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mrk berqurban, tempat mrk minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.Mrk tidak dpt melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dpt mrk jangkau dengan pancaindera.

Nabi Saleh Berdakwah Kepada Kaum Tsamud

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba_Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mrk keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mrk diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mrk telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mrk sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.

Dikenalkan mrk oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mrk sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mrk, menciptakan alam sekitar mrk, menciptakan tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bhn-bhn keperluan hidup mrk, mencipta binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mrk dan dengan demikian memberi kepada mrk kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan lahir dan batin.Tuhan Yang Esa itulah yang harus mrk sembah dan bukan patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mrk atau melindungi mrk dari ketakutan dan bahaya.

Nabi Saleh memperingatkan mrk bahwa ia adlah seorang drp mrk, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mrk adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku dengan mrk.Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mrk dan sesekali tidak akan menjerumuskan mrk ke dalam hal-hal yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mrk. Ia menerangkan kepada mrk bahwa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah, dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mrk adalah amanat Allah yang harus dia sampaikan kepada mrk untuk kebaikan mrk semasa hidup mrk dan sesudah mrk mati di akhirat kelak. Ia mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mrk segera meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama ini telah mrk lakukan.Allah maha dekat kepada mrk mendengarkan doa mrk dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.

Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mrk merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mrk sendiri.Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya:”Wahai Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpinkami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan.Akan tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Enkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan untuk selama-lamanya.Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai cakap-cakap kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan mrk dan mengikuti jejakmu.”

Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengurniai mrk rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada mrk kisah kaum-kaum yang mendapat seksa dan azab dari Allah karena menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu dpt terjadi di atas mrk jika mrk tidak mahu menerima dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota dari keluarga besar mrk dan yang tidak mengharapkan atau menuntut upah drp mrk atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah yang ditugaskan kepadanya dan Allahlah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mrk.

Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkannya terdiri dari orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan beriman kepadanya sedangkan sebahagian yang terbesar terutamanya mrk yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya dan berkata kepadanya:” Wahai Saleh! Kami kira bahwa engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir.Engkau telah menjadi sinting dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku bahwa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu drp kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cekap untuk menjadi nabi atau rasul drp engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan pemimpin bagi kaummu.Jika engkau merasa bahwa engkau sihat badan dan sihat fikiran dan mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu sendiri.Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu.

Nabi Saleh menjawab: ” Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun drpmu sebagai imbalan atas usahaku memberi tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah dan drp-Nya kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku, padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku.Jgnlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu. Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan membinasakan aku dengan seruanmu itu.”

Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendpt perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mrk menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

Allah Memberi Mukjizat Kepada Nabi Saleh A.S.

Nabi Saleh sedar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti drpnya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mrk. Nabi Saleh membalas tentangan mrk dengan menuntut janji dengan mrk bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mrk minta bahwa mrk akan meninggalkan agama dan persembahan mrk dan akan mengikuti Nabi Saleh dan beriman kepadanya.

Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdpt di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.
Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.

Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mrk:” Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendptkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendptkan minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini.”
Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendpt gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yyang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkong.

Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendtgkan mukjizat yang mrk tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mrk pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mrk serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya.

Unta Nabi Saleh Dibunuh

Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mrk, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dpt membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.

Dua macam hadiah yyang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda’ bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan pembunuhan bagi meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta Nabi Saleh telah mati dibunuh.
Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya di lalui oleh unta dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan begitu unta-unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda’ yang disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.

Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendpt sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mrk kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang.
Berkata mrk kepada Nabi Saleh:” Wahai Saleh! Untamu telah amti dibunuh, cubalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya.”

Nabi Saleh menjawab:” Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu.Kamu telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya.Janji Allah tidak akan meleset .Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan taqdir-Nya yang tidak dpt ditunda atau dihalang.”

Ada kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau-kalau mrk sedar akan dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.
Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.

Turunnya Azab Allah Yang Dijanjikan

Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mrk akan didahului dengan tanda-tanda, iaitu pada hari pertama bila mrk terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mrk menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.
Mendebgar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabu Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan itu.Mrk mengadakan pertemuan rahsia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identiti mrk sebagai pembunuhnya. Rancangan mrk ini dirahsiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.

Ketika mrk datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika merebahkan mrk di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindingi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir.
Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A’raaf, ayat 73 hingga 79 , surah ” Hud ” ayat 61 sehingga ayat 68 dan surah ” Al-Qamar ” ayat 23 sehingga ayat 32.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh A.S.

Pengajaran yang menonjol yang dpt dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dpt berakibat negatif yang membinasakan masyarakat itu seluruhnya.
Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas bumi karena dosa dan pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang pembunuh unta Nabi Saleh A.S.
Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar. Karena dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi di dalam masyarakat dan lindungan kita ,kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar itu

Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.