TUHAN-TUHAN GADUNGAN

وَ إِيَّاكُمْ وَ الْمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap bid’ah itu sesat !“ [ HSR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi ]

Sesungguhnya kesesatan dan bid’ah yang ada pada seseorang akan terus bertambah menjadi lebih parah, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Al-Barbahari rohimahul- loh : “ Waspadalah dari sekecil-kecilnya perkara-perkara baru dalam agama, karena bid’ah-bid’ah yang kecil akan menjadi suatu tradisi hingga berubah menjadi besar ! Demikian pula setiap bid’ah yang diada-adakan di dalam umat ini, awalnya kecil me nyerupai kebenaran sehingga menipu setiap orang yang masuk ke dalamnya, kemu- dian ia tidak mampu keluar darinya, maka bid’ah itu menjadi besar dan berubah men jadi agama yang ia tunduk kepadanya, kemudian ia menyelisihi jalan yang lurus, lalu ia pun keluar dari Islam.” [1]

Di antara kesesatan dan bid’ah yang berbahaya adalah seseorang mengaku –aku sebagai orang sholih atau orang suci, padahal telah adanya larangn dari mentazki yah (menganggp suci) diri sendiri sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an :

فَلاَ تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kalian mentazkiyah (menganggap suci) diri kalian sendiri !”

[ Qs. An-Najm : 32 ]

Orang-orang yang menganggap dirinya sebagai orang yang sholih atau suci biasanya akan tergelitik untuk meningkatkan pengakuannya sebagai wali, lalu mengaku seba-gai Imam Mahdi, kemudian mengaku sebagai nabi. Di antara mereka ada pula yang mengaku telah menyatu dengan Alloh dan ada pula yang mengaku sebagai Tuhan.

Di antara mereka adalah Mirza Muhammad ‘Ali Asy-Syairozi pengikut ali-ran sesat Syi’ah dari sekte Itsna ‘Asyariyyah[2] madzhab Isma’iliyyah[3]. Setelah mem-pelajari filsafat, ia keluar kepada orang-orang dan mengaku sebagai juru bicara dari i-mam mastur[4] dan bab ( pintu ) kepadanya. Oleh karena itu alirannya disebut aliran Babiyyah. Kemudian dia pun mengaku sebagai imam mahdi, setelah itu ia pun meng aku bahwa Alloh telah menyatu dalam dirinya.

Kejadian serupa terjadi pada salah satu tangan kanannya yang bernama Ba-haullah. Sepeninggal gurunya, ia mendapat banyak pengikut, lalu nama alirannya ia rubah menjadi Bahaiyyah nisbat kepada namanya. Ia pun mengarang kitab Al-Bayan yang ia aku sebagai ganti dari Al-Qur’an. Kemudian ia mengaku mendapat wahyu be rupa Al-Kitab Al-Aqdas dan mengaku membawa agama baru, bukan agama Islam. Lalu ia wajibkan kepada pengikutnya untuk melakukan sholat dengan menghadap ke arah di mana Baha’ berada, sujud dan ruku’ ke arah Baha’. Setelah mati, ia diganti-kan oleh anaknya yang bernama ‘Abbas yang dikenal dengan ‘Abdul-Baha’.

Muncul pula aliran Druz yang dipelopori oleh Muhammad bin Isma’il Dru-zi. Aliran ini menetapkan Al-Hakim Al-‘Ubaidi sebagai tuhan yang disembah. Tin-dakannya didukung oleh Hamzah bin ‘Ali bin man ahali Zuzan. Aliran ini sekarang berkembang di Negara Libanon.

Muncul pula golongan Khoththobiyyah yang menetapkan ketuhanan bagi Abul-Khoththob dan para imam-imam mereka. Ada pula orang-orang yang menu-hankan ‘Abdulloh bin Mu’awiyyah bin ‘Abdillah bin Ja’far. Sementara itu aliran ‘Adzafiroh menuhankan Ibnu Abi ‘Adzafir

Aliran Muqonna’iyyah meyakini bahwa Al-Muqonna’ adalah tuhan yang di sembah, dan tuhan memiliki bentuk-bentuk tertentu pada setiap zaman.

Adapun aliran Hilmaniyyah yang dicetuskan oleh Abu Hilman Ad-Dimasy qi menganggap bahwa Alloh menitis kepada setiap bentuk yang bagus. Maka aliran ini selalu bersujud kepada setiap apa yang dianggapnya sebagai tuhan.

Sedangkan aliran Hululiyyah yang dikenalkan oleh Al-Hallaj meyakini bah wa manusia bisa bersatu dengan Alloh. Al-Hallaj mengatakan bahwa manusia memi liki sifat Lahut ( ketuhanan ) dan sifat Nasut ( kemanusiaan ), begitu pula dengan Alloh. Maka, bila seseorang dapat menghilangkan sifat nasutnya, ia akan dapat me-nyatu dengan Alloh. Penganut aliran Hululiyyah ini menyembah kepada para imam mereka karena mereka menganggap bahwa Alloh yang mereka sembah telah menya-tu dalam diri imam-imam mereka.

Teori yang hampir sama juga dilontarkan oleh Abu Yazid Al-Bushtomi, di- mana ia menyatakan bahwa manusia yang telah hilang kesadaran akan jasad kasar-nya –yang dalam teori Bayazid ini disebut dengan fana’-, maka ia akan dapat bersatu de- ngan Alloh. Teori ini didasarkan kepada anggapan bahwa manusia berasal dari nur atau cahaya Alloh, sehingga ia memungkinkan kembali kepada sumber asalnya.

Sedangkan Suhrowardi, pemahamannya sebenarnya tidak jauh beda dengan Al-Hallaj maupun Bayazid. Ia berpendapat bahwa alam ini tercipta melalui penyina-ran, dan ia berupa cahaya yang bertingkat-tingkat. Cahaya yang tertinggi adalah Nu-rul-Anwar atau Nurul-A’zhom, dan inilah Alloh. Sehingga hubungan manusia de- ngan Alloh digambarkan oleh Suhrowardi sebagai hubungan arus bolak-balik. Dan manusia dapat kembali kepada sumber asalnya dengan melalui jenjang-jenjang terten tu yang kemudian diajarkannya dalam bentuk beberapa pelatihan rohani.

Muncul pula Ibnu ‘Arobi [5] yang menda’wahkan pemahaman Widhatul-Wu jud ( pantheisme ) yang menyatakan bahwa Alloh menyatu dengan alam ini, bahkan Alloh itulah wujud hakiki dari alam ini. Sementara alam raya yang nampak oleh kita ini menurut Ibnu ‘Arobi sebenarnya adalah satu yaitu Alloh dan beraneka ragam ben tuk yang ada di alam ini hanyalah bayangan dari Alloh, bukan bentuk yang hakiki. Pemahaman ini dianut pula oleh Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil-Qur’an dan Harun Yahya dalam berbagai VCD-nya.

Konsekuensi dari pemahaman pantheisme ini yaitu kebolehan menyembah kepada apa pun. Sehingga pengikut Ibnu ‘Arobi membenarkan penyembahan kepada berhala, dengan anggapan bahwa hakikat alam ini hanyalah Alloh, sehingga berhala yang disembah oleh kaum musyrikin pun hakikatnya adalah Alloh pula. Maka berdasarkan pemahaman sesat dan kafir ini, semua benda di alam ini adalah tuhan !

Konsep ketuhanan yang dianut oleh Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Busthomi, Ib-nu ‘Arobi, Suhrowardi dan orang-orang yang yang sefaham dengan mereka sebenar-nya berasal dari filsafat Aristoteles dan Neo-Platoisme yang coba diakurkan oleh Ib- nu Sina dengan teori-teori ketuhanan menurut aliran ahli kalam[6], khususnya dari aliran Mu’tazilah[7] dan Jahmiyyah[8]. Dari penyatuan semua unsur kesesatan dan keka firan yang ada pada filsafat Aristoteles, Neo Platoisme, pemahaman Mu’tazilah dan Jahmiyyah lahirlah teori penciptaan alam versi Ibnu Sina. Dan di antara teori kafir- nya, Ibnu Sina mengatakan bahwa untuk menciptakan alam, Alloh sebagai Wujud Pertama memikirkan tentang diri-Nya, maka akan lahir wujud-wujud berikutnya dan akalnya beserta ruh atau jiwanya[9]. Kemudian dari Akal ke-X-lah tercipta bumi, tanah, air, dan semua apa yang ada di muka bumi dan di bawah Bulan. Pendapat ka- fir Ibnu Sina ini secara tidak langsung mengatakan bahwa ada pencipta lain selain Alloh, di mana setiap akal akan mengeluarkan ciptaannya.

Dan masih banyak lagi tuhan-tuhan gadungan yang telah dan terus bermun culan. Dan tuhan gadungan terakhir yang bakal muncul adalah Ad-Dajjal yang me-miliki berbagai kemampuan yang luar biasa dan mampu menundukkan langit dan bu mi. Bila Dajjal menghendaki langit menurunkan hujan, maka segeralah langit mencu rahkan hujan. Begitu pula bila ia menghendaki bumi menumbuhkan tanam-tanaman maka dengan segera muncul tanaman dari bumi. Dan akan banyak manusia yang ter tipu dan mengikuti ajakannya.

وَ مَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّيْ إِلَهٌ مِنْ دُوْنِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa di antara mereka yang mengatakan : “Sesungguhnya aku adalah tuhan yang disembah selain Dia,” maka Kami akan membalasi dia dengan neraka Jahan-nam.” ( Qs. Al-Anbiya’ : 29 )

Ada pun para nabi, para malaikat, para wali dan orang-orang sholih yang di-sembah oleh orang-orang yang terpedaya oleh tipu-muslihat syetan, tidaklah digo-longkan ke dalam tuhan-tuhan gadungan, karena mereka tidak pernah suka dipertu-hankan, sebagaimana Nabi ‘Isa ‘alaihis-salaam yang berlepas diri dari penyembahan yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani terhadap dirinya, ‘Ali bin Abi Tholib yang murka ketika disembah dan dipuja oleh golongan Syi’ah, dan sebagainya.

Penuhanan dalam bentuk lainnya adalah seperti yang terjadi pada kebanya-kan orang sekarang ini, yaitu ada yang menuhankan hawa nafsunya, menuhankan ja batan, menuhankan harta, menuhankan kecantikan dan sebagainya. Karena sesung-guhnya hakekat dari berhala yaitu setiap apa yang menjadikan lalai dari mengingat Alloh. Dengan demikian segala sesuatu bisa menjadi berhala atau tuhan gadungan.

[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]



[1] Syarh As-Sunnah : 68 – 69.

[2] Yaitu aliran Syi’ah yang ekstrim yang menetapkan adanya imam ma’shum yang berjumlah dua belas orang.

[3] Yaitu aliran yang menetapkan bahwa rantai keimaman terhenti pada Isma’il bin Ja’far Ash-Shodiq.

[4] Yaitu imam kedua belas mereka yang masih bersembunyi, demikian menurut keyakinan kaum Syi’ah.

[5] Yaitu Ibnu ‘Arobi penulis kitab Al-Fushush dan Al-Futuhat, bukan Ibnu ‘Arobi yang seorang ‘ulama dari kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

[6] Yaitu ilmu yang membahas tentang ‘aqidah dengan menggunakan akal.

[7] Mu’tazilah adalah aliran rasionalis yang memuja akal.

[8] Jahmiyyah yaitu aliran yang mengikuti pemahaman Al-Jahm bin Sofwan yang berpendapat bahwa Alloh ti-dak memiliki sifat, iman itu cukup dengan hanya mengenal adanya Alloh saja, dan lain-lainnya.

[9] Sebagaimana filosof Yunani, Ibnu Sina berkeyakinan bahwa semua bintang dan benda-benda di langit me-miliki jiwa atau ruh, sehingga bisa beredar sesukanya.

4 Tanggapan

  1. assalamu’alaikum

    ana ingin tanya, bagaimana menjawab syubhat pengikut hululiyyah yang bergang dengan hadits ini??? bagaimana derajat haditsnya dan bagaimana syarh yang benar dari ulama2 ahlus sunnah.

    “….Aku menjadi pendengarannya untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, dan tangannya yang ia bertindak dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya…” (HR Bukhari)

    sukron

  2. ada juga syubhat yang memakai ayat ini:

    “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (Al Anfaal : 17)

  3. Hadits : “…. Aku menjadi pendengarannya untuk telinganya ..dst ” maknanya adalah apa yang didengar, apa yang dilihat, apa yang dilakukan sesuai dengan kehendak Alloh, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdul-Qodir Al-Jailani rohimahulloh dalam kitab beliau FUTUHUL-GHOIB. Hadits tersebut sama dengan perkataan : “Saya sedang membangun rumah.” padahal yang membangun rumah saya adalah para tukang yang saya suruh, bukan saya langsung. Karena apa yang para tukang lakukan adalah sesuai dengan kehendak saya.

  4. Qs. Al-Anfal : 17 maknanya adalah sama dengan Qs. At-Takwir : 29, yaitu apa pun yang dilakukan oleh manusia tidak akan terealisasi kecuali bila Alloh menghendakinya pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: