SOLUSI PROBLEM KELUARGA

Bapak-bapak ibu-ibu pendengar yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan yang mulia ini kami akan menyampaikan solusi masalah keluarga,
Bahwasannya seorang mu’min tidakboleh membenci mu’minah ( istrinya ) sebab dia mendapatkan satu sifat dari sifat-sifat yang tidak ia sukai, karena manusia tidak ada yang sempurna apalagi wanita yang tercipta dari tulang yang bengkok, dibiarkan bengkok diluruskan patah.
Tidak layak bagi laki-laki untuk membenci istrinya karena menemui suatu sifat yang ada pada istrinya karena menemui suatu sifat yang ada pada istrinya yang tidak ia sukai, contohnya : Baca lebih lanjut

ayat nyentrik bagian ke 15

KAIDAH DALAM MEMAHAMI AL QUR’AN DAN HADITS

KAIDAH DALAM MEMAHAMI
AL-QUR’AN DAN HADITS

Al-Qur’an dan Hadits adalah dua pilar utama ajaran agama Islam, yang mana setiap rincian dan detail ajaran Islam mesti rujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagaimana firman Alloh :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ
ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
“Bila kalian berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya bila kalian beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih baik kesudahan-nya.” ( Qs. An-Nisa’ : 59 ) Baca lebih lanjut

ayat nyentrik 7

TAUHID MULKIYYAH

SEBUAH KONSEP TAUHID ATAU SEBUAH KONSPIRASI BERKEDOK TAUHID ?

Di kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dikenal pembagian tauhid menjadi tiga, yaitu : Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al Asma’ wash-Shifat. Tidak ada perselisihan dalam masalah ini. Seandainya kita jumpai ada sebagian ‘ulama yang hanya membagi tauhid menjadi dua, yaitu Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah, maka hal ini tidaklah menjadi permasalahan, karena mereka beranggapan bahwa Tauhid Al-As-ma’ wash-Shifat termasuk ke dalam Tauhid Rububiyyah, yang kemudian ga bungan antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat ini disebut pula dengan nama Tauhid Al-Ma’rifah wal-Itsbat atau Tauhid ‘Ilmi Khobari atau Tauhid Qouli atau Tauhid As-Siyadah .
Kemudian muncul orang-orang yang memperkenalkan tauhid yang keempat, yaitu Tauhid Mulkiyyah atau Tauhid Hakimiyyah, atau ada pula yang menyebutnya dengan Tauhid Ittiba’. Adapun maksud dari Tauhid Mul kiyyah atau Hakimiyyah atau Ittiba’ ini yaitu menetapkan kewajiban me-ngikuti dan berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sampai batasan i-ni tidak ada permasalahan, karena sebenarnya kandungan makna Tauhid ini secara praktis telah tercakup dalam Tauhid Uluhiyyah, dan secara teoritis te- lah tercakup pula dalam Tauhid Rububiyyah.
Yang menjadi pokok permasalahan adalah bila konsep Tauhid Mulki yah ini diarahkan kepada “ tauhid politik “ atau sebuah konspirasi dengan berkedok ‘aqidah tauhid, sebagaimana banyak diajarkan di kalangan haroki yah , seperti Ikhwanul-Muslimin , Darul-Islam , Jama’ah Islamiyyah , Hizbut-Tahrir dan lain-lainnya. Bahkan di antara mereka banyak yang ti- dak mengakui Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat, sehingga Tauhid Mulkiyyah ini menjadi tauhid ketiga sebagai ganti dari Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat yang tidak diakuinya. Mereka menjadikan Tauhid Mulkiyyah ini sebagai puncak dari semua jenjang tauhid dan ajaran Islam. Sehingga menjadikan beberapa ‘ulama, seperti Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin dan lain-lainnya menyatakan bahwa Tauhid Mulkiyyah –versi haroki- adalah se-buah bid’ah yang sesat.
Banyak kelompok radikal yang menyihir para pengikutnya dengan doktrin Tauhid Mulkiyyah -versi mereka-, sehingga para pengikutnya begitu setia dan patuh dalam melaksanakan instruksi pimpinan kelompok tersebut, sekalipun mereka diperintah untuk melaksanakan perbuatan yang amat ter-cela, seperti bom bunuh diri dan lain-lainnya !
Tauhid Mulkiyyah yang diajarkan kaum Harokiyyah didasarkan ke-pada firman Alloh Ta’ala :
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ
“Hukum itu hanyalah milik Alloh.” [ Qs. Al-An’am : 57, Yusuf : 40 dan 67 ]
وَ مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ
“Dan siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang Alloh turunkan, ma-ka itulah orang-orang yang kafir.” [ Qs. Al-Maidah : 44 ]
Dengan berbekal ayat-ayat ini, mereka mengkafirkan para pemerintah ne-geri-negeri muslim yang tidak melaksanakan hukum Islam atau melakukan kerja sama dengan orang-orang kafir, terutama bangsa Amerika atau Eropa. Di samping mengkafirkan, mereka pun menghalalkan darah dan harta se-tiap pemerintah negeri-negeri muslim tersebut, bahkan ada sebagian kelom- pok yang mengkafirkan seluruh warga dan rakyat sebuah negara yang tidak tidak mengkafirkan pemerintahnya yang tidak menerapkan hukum Islam de ngan alasan karena warga dan rakyat negara tersebut ridho dengan hukum kafir yang diterapkan di negerinya.
Padahal yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah kufur sesuai de-ngan kadar penyelisihannya, karena kekafiran ada dua macam, yaitu : ku-fur akbar ( kafir besar ) yang mengeluarkan seseorang dari Islam dan kufur ashghor ( kafir kecil ) yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Sean-dainya penyelelisihan seseorang telah mencapai kufur akbar, maka tidak de-ngan serta merta kita mengkafirkannya, hingga terpenuhi semua syarat-sya-ratnya dan hilang semua mawani’ (penghalang-penghalang)-nya.
Dalam dogma Tauhid Mulkiyyah –versi mereka- menyatakan bahwa karena kekuasaan dan hukum hanya milik dan hak Alloh Ta’ala maka seti-ap peraturan yang bukan bersumber dari Al-Qur’an adalah bathil dan wajib ditentang. Kudeta untuk menggulingkan suatu pemerintahan thoghut ada lah sah, bahkan wajib menurut mereka. Inilah faham Khowarij yang me- lekat pada kaum haroki. Meskipun mereka juga menganggap sesat faham Khowarij klasik –yaitu Khowarij pada akhir zaman Shahabat-, tetapi tanpa sadar mereka mengadopsi faham Khowarij ini, hanya saja tidak pada semua bidang. Bila Khowarij klasik mengkafirkan semua pelaku maksiat dan dosa besar, maka kaum haroki hanya mengkafirkan pelaku maksiat dalam masa-lah politik, yaitu para penguasa dan rakyat yang mendukungnya.
Tujuan dari pengajaran Tauhid Mulkiyyah –versi mereka- ini adalah ingin “mengembalikan” kekuasaan Alloh, yaitu dengan mendirikan negara Islam , tentunya versi masing-masing kelompok haroki, yang satu dengan lainnya tidaklah sama. Konsep Negara Islam mereka secara teoritis bisa jadi serupa, yang membedakan hanyalah dalam masalah hirarki kepemimpinan- nya. Masing-masing kelompok berambisi agar kepimpinan jatuh ke tangan kelompoknya, sebagaimana gambaran nyatanya dapat kita saksikan di nega ra Afghanistan pasca Sovyet, di mana semua faksi mujahidin berambisi un-tuk meraih kursi kekuasaan sehingga mengorbankan rakyat kecil. Hal yang lebih moderat dapat kita saksikan dalam perebutan kursi kekuasaan oleh partai-partai Islam di berbagai negara muslim.
Sehingga kalau kita amati secara lebih teliti, kita akan dapati bahwa pengajaran Tauhid Mulkiyyah atau Hakimiyyah oleh kaum haroki sekedar kamuflase, padahal hakekat sebenarnya adalah mendogma para pengikut-nya agar mau mengikuti ambisi kelompoknya, yaitu mendirikan sebuah ne-gara yang diperintah oleh kelompoknya. Seandainya mereka berdalih bahwa yang ingin mereka dirikan adalah negara Islam atau khilafah Islamiyyah, maka kenapa mereka harus meributkan tentang hirarki kepemimpinannya ? Bahkan jauh-jauh hari mereka telah menyusun sebuah struktur pemerin- tahan bawah tanah yang masing-masing kelompok berbeda-beda. Ikhwanul-Muslimin memiliki struktur pemerintahan sendiri, Jama’ah Islamiyyah me-miliki sendiri, Hizbut-Tahrir memiliki sendiri, Darul-Islam (NII) memiliki sendiri, dan lain-lain, di mana satu sama lain berdiri sendiri tidak saling ter-kait. Apa lagi bila kita melihat mutu keilmuan para petinggi haroki yang ra-ta-rata sangat jauh dari kriteria yang ideal bagi seorang pemimpin Islam.
Akan sangat panjang lebar bila kita merincikan tentang mereka, na-mun di sini kita bisa melihat bahwa pengajaran Tauhid Mulkiyyah oleh ka-ngan haroki ternyata bertentangan dengan tauhid uluhiyyah, karena tujuan nya bukan lagi meng-Esa-kan Alloh, tetapi berubah menjadi bermuatan poli tis ! Dalam angan-angan mereka terbayang bila telah terbentuk sebuah nega ra Islam yang dipimpin oleh kelompok mereka maka seluruh permasalahan umat pasti akan selesai dan perjuangan telah mencapai garis finish !?!
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

Rasisme, Kapitalisme dan Feodalisme

BENTUK PEMUJAAN KEPADA STATUS SOSIAL

Status sosial, kedudukan, jabatan bahkan ras terkadang men-jadi sesembahan banyak orang. Di mata mereka kebenaran dan keu- tamaan hanya ada pada ras mereka atau pada ketinggian suatu ke-dudukan dan jabatan. Sebagaimana ini adalah agama para penen- tang Nabi dan Rosul, yang mereka berkata kepada Nabi-nya :
أَنُؤْمِنُ لَكَ وَ اتَّبَعَكَ الأَرْذَلُوْنَ
”Apakah kami akan beriman kepadamu sedangkan yang mengikuti- mu adalah orang-orang yang hina.” ( Qs. Asy-Syuro : 111 )
dalam ayat yang lain disebutkan perkataan mereka:
وَ مَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِيْنَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ
”Tidaklah kami melihat orang-orang yang mengikutimu selain orang orang yang rendah derajatnya di antara kami dan gampang perca- ya.” ( Qs. Hud : 27 )
dalam ayat lain disebutkan kisah mereka :
وَ إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا أَيُّ الْفَرِقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَ أَحْسَنُ نَدِيًّا
”Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang nis-caya orang-orang yang kafir akan berkata kepada orang-orang yang beriman : ”Yang manakah di antara dua kelompok ini ( yaitu kafir dan mu’min ) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih bagus tem pat pertemuannya ?” ( Qs. Maryam : 73 )
Demikianlah keadaan mereka yang berbangga dan sombong dengan status sosialnya, mereka memujanya hingga melupakan kebenaran.
Dalam agama Yahudi pemujaan kepada ras Israel ( Smith ) begitu kental, sampai-sampai bangsa Yahudi menganggap bangsa-bangsa lain sebagai budak atau calon budak mereka. Inilah sebab-nya mereka menolak beriman kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam padahal mereka adalah kaum yang pernah menga-barkan kepada bangsa Aus dan Khozroj tentang kedatangan nabi akhir zaman. Namun ketika nabi yang mereka sebut-sebut itu da-tang bukan dari bangsa Israel, mereka pun mengingkarinya dan mendustakannya. Sebagaimana dikatakan oleh ’Abdulloh bin ’Abbas rodhiyallohu ’anhuma : ”Sesungguhnya orang-orang Yahudi mencari kemenangan atas suku Aus dan Khozroj dengan Rosul Alloh shollal- lohu ‘alaihi wa sallam sebelum Alloh mengutusnya. Tetapi ketika Alloh mengutus rosul tersebut dari bangsa ’Arab, mereka mengkafiri nya dan mengingkari apa yang dahulu mereka katakan. Sehingga Mu’adz bin Jabal, Bisyr bin Al-Baro’ bin Ma’rur dan Dawud bin Sala-mah berkata kepada mereka : ”Wahai orang-orang Yahudi, bertaqwa lah kalian kepada Alloh dan masuk Islamlah ! Sesungguhnya kalian dahulu pernah akan mencari kemenangan atas kami dengan Muham mad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ketika itu kami masih syirik, kalian memberitahu kepada kami bahwa beliau akan diutus, dan kalian pun menerangkan sifat-sifatnya.” Salaam bin Masykum saudara Yahudi Bani Nadhir berkata : ”Dia tidak datang dengan se-suatu pun yang kami kenali, dia bukanlah yang kami pernah sebut-sebut kepada kalian.” Maka Alloh turunkan firman-Nya :
وَ لَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذيْنَ كَفَرُوْا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ , فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ
”Ketika datang kepada mereka sebuah kitab dari sisi Alloh yang membenarkan kitab yang ada pada mereka, dan mereka sebelum itu senantiasa meminta kemenangan atas orang-orang yang kafir, tetapi ketika telah datang apa yang mereka kenal, mereka pun mengingka-rinya. Maka laknat Alloh atas orang-orang yang kafir.”
– ( Qs. Al-Baqoroh : 89 ) –
Dalam agama Hindu, manusia dikelompokkan dalam bebera-pa kelas atau kasta, yaitu :
1. Brahmana ( golongan pendeta )
2. Ksatria ( golongan bangsawan )
3. Waisya ( golongan pedagang dan petani )
4. Sudra ( golongan buruh dan pekerja kasar )
5. Paria ( golongan paling rendah yang tidak punya martabat )
Asal mula pembagian kasta itu karena kemenangan Bangsa Arya atas Bangsa Dravida yang berkulit lebih hitam, lalu bangsa Arya me mandang diri mereka lebih tinggi daripada bangsa Dravida. Lebih ja uh lagi, hanya golongan Brahma, Ksatia dan Waisya yang berhak mempelajari kitab Veda. Sedangkan golongan Waisya dan Paria ti-dak diperkenankan, bahkan diancam hukuman yang berat bila bera-ni membaca kitab Veda.
Kaum Imperialis Barat yang menjajah berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin pun melakukan aksi penjajahannya karena menganggap bahwa bangsa kulit putih lebih mulia atas bang sa-bangsa kulit hitam dan kulit merah. Mereka tidak segan menin-das dan memusnahkan bangsa jajahannya, bahkan mereka tidak me rasa berdosa atas tindakannya itu. Mereka malah merasa mendapat panggilan jiwa untuk menjadikan bangsa dan rasnya sebagai bangsa pilihan yang hanya mereka yang berhak hidup di muka bumi. Selain ras mereka hanya layak hidup sebagai budak mereka.
Sementara itu karakter feodalisme yang telah membudaya di kalangan bangsa-bangsa juga termasuk penuhanan kepada status so sial. Pemandangan yang jelas nampak adalah bagaimana seorang rakyat jelata bila hendak menghadap seorang raja atau pejabat mes-ti berjalan membungkuk atau berjongkok sambil menyembah. Begitu pula ketika ada seorang pejabat atau pembesar lewat di depan mere-ka, maka mereka harus bersimpuh dan menyembah. Pemandangan macam ini masih bisa kita lihat di hampir semua keraton yang ma-sih ada hingga kini.
Kejadian yang sama atau hampir serupa bisa pula kita saksi-kan pada masyarakat kapitalis, di mana orang-orang kaya yang ber-modal menempati posisi yang hampir sama dengan seorang raja. Me reka mesti dihormati oleh kaum buruh dan pekerjanya.
Di masyarakat kita, pemujaan kepada status sosial juga ke-rap kita saksikan sehari-hari. Bagaimana seorang bawahan harus berjalan membungkuk bila hendak melewati atasannya. Seorang anak kecil juga mesti berjalan dengan membungkukkan badan bila melewati orang yang lebih tua darinya.
Dalam dunia pendidikan, pemandangan tidak sehat ini pun bi sa pula kita lihat. Seperti dalam perploncoan siswa atau mahasiswa baru, di mana para yunior harus patuh dan pasrah pada apa saja ke-mauan para seniornya, meski pun harus melakukan hal-hal yang me malukan. Apa pun alasannya, ini adalah bentuk pemujaan kepada status sosial dan mengandung dosa syirik.
Masih banyak lagi pemujaan kepada status sosial yang semua itu adalah bentuk kesyirikan, baik yang terang-terangan atau pun yang terselubung. Hendaklah kita menghentikan semua pemujaan semacam ini, bukankah Alloh telah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
”Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah menjadi-kan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian bisa sa-ling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara ka-lian di sisi Alloh adalah orang yang paling taqwa.” ( Qs. Al-Hujurot : 13 )

[ ’Abdulloh A. Darwanto ]

KETIKA SARANA DIPERTUHANKAN

Segala macam maksud dan tujuan dicapai adalah dengan meng-gunakan sarana atau alat. Seseorang tidak mungkin mendapatkan apa yang ia inginkan melainkan pasti berinteraksi dengan sarana dan se- bab. Namun saran dan sebab tersebut bukanlah tujuan, apalagi penentu segalanya Sebagaimana seseorang yang sakit, ketika ia ingin untuk sem buh, maka ia membutuhkan sarana yang mengantarkannya kepada ke-sembuhan, yaitu dokter dan obat. Karena mustahil seseorang beroleh ke sembuhan tanpa berobat. Alloh ’azza wa jalla berfirman :
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
”Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan yang ada pada sua-tu kaum sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” ( Qs. Ar-Ro’du : 11 )
Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bersabda :
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
”Setiap penyakit pasti ada obatnya, bila seseorang mendapatkan obat da ri penyakitnya, maka ia pasti sembuh dengan izin Alloh ’azza wa jalla.”
( HR. Ahmad dan Muslim )
Walaupun demikian, tidaklah sarana atau media itu mampu dengan sendirinya memberikan manfa’at atau bahaya kepada seseorang. Kare-na hanya Alloh saja yang mampu memberikan semua kesembuhan itu.
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلا أَن يَشَاء اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
”Tidaklah kamu menghendaki kecuali dengan apa yang Alloh Tuhan se mesta alam pun menghendakinya.” ( Qs. At-Takwir : 29 )
’Aisyah rodhiyalohu ‘anha meriwayatkan :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ قَالَ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا
”Sesungguhnya Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bila menjenguk orang sakit atau didatangi orang sakit, beliau berdoa : ”Hilangkanlah ke susahan ini, wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah, karena Engkau Maha penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan bekas.”
( HR. Al-Bukhori dan Muslim )
Demikian pula dalam urusan yang lainnya.
Berkata Syaikh ’Abdul-Qodir Al-Jailani : ”Wahai anakku, makhluk itu semuanya adalah alat ( sarana ), dan Alloh ’azza wa jalla adalah Pem-buatnya dan Pengaturnya, maka barangsiapa yang melihat hal ini hen-daklah ia membebaskan diri dari ikatan dengan alat dan melihat kepa-da Yang mengaturnya.”
Bersandar kepada makhluk yang menjadi sarana atau sebab adalah sa-lah satu bentuk dari kesyirikan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ’Ab dul Qodir Al-Jailani : ”Syirik itu ada pada zhohir dan bathin. Yang zho-hir ( tampak ) yaitu menyembah kepada berhala, dan yang bathin ( sa-mar ) yaitu bersandar kepada makhluk dan melihat kepada mereka da-lam bahaya dan manfa’at.”
Beliau juga berkata : ” Sampai kapan kamu akan menyekutukan de-ngan makhluk, yaitu bersandar kepada mereka ? Wajib atasmu untuk mengetahui bahwa satu pun dari mereka tidak mampu memberimu manfa’at maupun mudhorot ( bahaya ), baik orang faqir, orang kaya, orang mulia atau pun orang rendahnya mereka! Wajib atasmu untuk bersandar kepada Alloh, dan jangan bersandar kepada makhluk, ja-ngan kepada usahamu, jangan kepada daya kekuatanmu, tapi bersan-darlah kepada Yang telah memberimu kemampuan dan rejeki untuk berusaha !”
Dengan demikian bila ada orang hanya menyandarkan kesembuhan- nya kepada seorang dokter atau kepada obat-obatan, berarti ia telah me nuhankan dokter dan obat-obatan tersebut. Seperti ketika ada orang mengatakan : ”Minum saja obat ini, pasti sembuh !”
Padahal ketika dia mengatakan begitu berarti ia telah menjadikan obat sebagai tuhan yang menyembuhkan. Padahal tidak ada yang bisa me-nyembuhkan kecuali Alloh semata. Maka seharusnya ia berkata : ”Mi-numlah obat ini, insya Alloh sembuh”. Dengan mengatakan insya Alloh berarti ia menyandarkan kesembuhannya kepada kehendak Alloh, dan obat tersebut hanya dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan ke-sembuhan dari Alloh. Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bersabda :
لا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلانٌ وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلانٌ
”Janganlah mengatakan : ”Apa saja yang Alloh kehendaki dan si fulan kehendaki, tetapi katakan : ”Apa saja yang Alloh kehendaki kemudian si-fulan kehendaki.” ( HHR. Abu Dawud )
Tetapi, bertawakkal ( bersandar ) kepada Alloh, bukan berarti meninggalkan usaha. Berkata Dr. Ahmad Farid : ”Tidak mau mengam-bil sebab tercela dalam syari’at, sedangkan meyakini sebab tercela di da lam tauhid.”
Perkataan-perkataan yang bernada syirik karena bersandar ke-pada sarana atau sebab banyak bertebaran di masyarakat. Padahal per-kataan demikian kadar dosanya termasuk dosa besar. Seperti mengata-kan : ”Untung ada kamu, saya jadi selamat !” yang hakekat maknanya adalah hanya meyakini bahwa keselamatannya hanya datang dari si pe nolong semata, bukan dari Alloh. Mestinya ia mengatakan : ”Terima ka sih, karena Alloh telah menyelamatkanku melalui tanganmu !”
Juga seperti perkataan sepasang muda-mudi yang dimabok asmara ter-larang, ia mengatakan kepada pasangannya : ”Aku tak dapat hidup tan pamu !” Perkataan ini sangat kental nuansa syiriknya, yaitu meyakini bahwa yang menentukan hidup dan mati adalah sang kekasihnya.
Bahkan sebagian besar kaum harokah Islamiyyah ( pergerakan Islam ) terjerumus ke dalam perkara ini. Mereka menganggap bahwa kalau sudah tegak negara Islam maka semua masalah akan terselesai-kan. Sehingga mereka menyalahi sunnah Rosul dan para shahabat, lalu mereka menyusun cara-cara sendiri yang kebanyakannya mengimport dari Barat dan bangsa-bangsa kafir untuk memenuhi ambisinya mendi-rikan negara Islam. Muncullah berbagai pergerakan, mulai yang mema kai jalur formal dan banyak pula yang bergerak di bawah tanah. Bah-kan tidak sedikit yang memakai cara-cara kotor dan keji, seperti tipu da ya, teror dan lain-lainnya.
Namun banyak juga yang memahaminya dengan arah yang ter-balik, seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang masih terpengaruh oleh ajaran dynamisme. Mereka meyakini bah wa beberapa batu mulia tertentu, seperti : merah delima dan lain-lain, atau benda-benda keramat, seperti : keris, kujang, tombak dan lain-lain mampu mendatangkan manfa’at dengan izin Alloh. Mereka memboleh-kan seseorang memakai jimat atau susuk asal meyakini bahwa kekua-tannya berasal dari Alloh. Benda-benda itu hanya dijadikan sarana atau sebab dari datangnya kekuatan yang berasal dari Alloh. Ini adalah kebo dohan tentang hakekat dan makna ”sarana” atau ”sebab”. Memang se-mua khasiat atau kekuatan itu berasal dari Alloh, bahkan termasuk ke-kuatan yang dimiliki oleh syetan dan para dukun-dukun. Namun me-narik kekuatan dari Alloh dengan cara-cara demikian adalah keliru, bahkan syirik. Karena ada perbedaan mendasar antara memakai obat atau sarana-sarana benda biasa untuk suatu tujuan dengan memakai benda-benda pusaka, jimat, rajah, susuk dan sejenisnya. Bila memakai obat atau sarana yang sejenisnya dari benda-benda biasa, maka si pema kai tidak meyakini adanya tuah atau nilai keramat dari benda-benda itu namun bila seseorang memakai benda-benda pusaka, maka ia meyakini bahwa dalam benda tersebut memang tersimpan tuah atau keramat. Di sinilah syetan bermain untuk menyesatkan manusia yang bodoh agar tergelincir dalam jurang kesyirikan namun mereka tidak menyadarinya
[ ’Abdulloh A. Darwanto ]