KETIKA SARANA DIPERTUHANKAN

Segala macam maksud dan tujuan dicapai adalah dengan meng-gunakan sarana atau alat. Seseorang tidak mungkin mendapatkan apa yang ia inginkan melainkan pasti berinteraksi dengan sarana dan se- bab. Namun saran dan sebab tersebut bukanlah tujuan, apalagi penentu segalanya Sebagaimana seseorang yang sakit, ketika ia ingin untuk sem buh, maka ia membutuhkan sarana yang mengantarkannya kepada ke-sembuhan, yaitu dokter dan obat. Karena mustahil seseorang beroleh ke sembuhan tanpa berobat. Alloh ’azza wa jalla berfirman :
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
”Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan yang ada pada sua-tu kaum sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” ( Qs. Ar-Ro’du : 11 )
Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bersabda :
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
”Setiap penyakit pasti ada obatnya, bila seseorang mendapatkan obat da ri penyakitnya, maka ia pasti sembuh dengan izin Alloh ’azza wa jalla.”
( HR. Ahmad dan Muslim )
Walaupun demikian, tidaklah sarana atau media itu mampu dengan sendirinya memberikan manfa’at atau bahaya kepada seseorang. Kare-na hanya Alloh saja yang mampu memberikan semua kesembuhan itu.
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلا أَن يَشَاء اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
”Tidaklah kamu menghendaki kecuali dengan apa yang Alloh Tuhan se mesta alam pun menghendakinya.” ( Qs. At-Takwir : 29 )
’Aisyah rodhiyalohu ‘anha meriwayatkan :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ قَالَ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا
”Sesungguhnya Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bila menjenguk orang sakit atau didatangi orang sakit, beliau berdoa : ”Hilangkanlah ke susahan ini, wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah, karena Engkau Maha penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan bekas.”
( HR. Al-Bukhori dan Muslim )
Demikian pula dalam urusan yang lainnya.
Berkata Syaikh ’Abdul-Qodir Al-Jailani : ”Wahai anakku, makhluk itu semuanya adalah alat ( sarana ), dan Alloh ’azza wa jalla adalah Pem-buatnya dan Pengaturnya, maka barangsiapa yang melihat hal ini hen-daklah ia membebaskan diri dari ikatan dengan alat dan melihat kepa-da Yang mengaturnya.”
Bersandar kepada makhluk yang menjadi sarana atau sebab adalah sa-lah satu bentuk dari kesyirikan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ’Ab dul Qodir Al-Jailani : ”Syirik itu ada pada zhohir dan bathin. Yang zho-hir ( tampak ) yaitu menyembah kepada berhala, dan yang bathin ( sa-mar ) yaitu bersandar kepada makhluk dan melihat kepada mereka da-lam bahaya dan manfa’at.”
Beliau juga berkata : ” Sampai kapan kamu akan menyekutukan de-ngan makhluk, yaitu bersandar kepada mereka ? Wajib atasmu untuk mengetahui bahwa satu pun dari mereka tidak mampu memberimu manfa’at maupun mudhorot ( bahaya ), baik orang faqir, orang kaya, orang mulia atau pun orang rendahnya mereka! Wajib atasmu untuk bersandar kepada Alloh, dan jangan bersandar kepada makhluk, ja-ngan kepada usahamu, jangan kepada daya kekuatanmu, tapi bersan-darlah kepada Yang telah memberimu kemampuan dan rejeki untuk berusaha !”
Dengan demikian bila ada orang hanya menyandarkan kesembuhan- nya kepada seorang dokter atau kepada obat-obatan, berarti ia telah me nuhankan dokter dan obat-obatan tersebut. Seperti ketika ada orang mengatakan : ”Minum saja obat ini, pasti sembuh !”
Padahal ketika dia mengatakan begitu berarti ia telah menjadikan obat sebagai tuhan yang menyembuhkan. Padahal tidak ada yang bisa me-nyembuhkan kecuali Alloh semata. Maka seharusnya ia berkata : ”Mi-numlah obat ini, insya Alloh sembuh”. Dengan mengatakan insya Alloh berarti ia menyandarkan kesembuhannya kepada kehendak Alloh, dan obat tersebut hanya dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan ke-sembuhan dari Alloh. Rosululloh shallallohu ‘alahi wa sallam bersabda :
لا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلانٌ وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلانٌ
”Janganlah mengatakan : ”Apa saja yang Alloh kehendaki dan si fulan kehendaki, tetapi katakan : ”Apa saja yang Alloh kehendaki kemudian si-fulan kehendaki.” ( HHR. Abu Dawud )
Tetapi, bertawakkal ( bersandar ) kepada Alloh, bukan berarti meninggalkan usaha. Berkata Dr. Ahmad Farid : ”Tidak mau mengam-bil sebab tercela dalam syari’at, sedangkan meyakini sebab tercela di da lam tauhid.”
Perkataan-perkataan yang bernada syirik karena bersandar ke-pada sarana atau sebab banyak bertebaran di masyarakat. Padahal per-kataan demikian kadar dosanya termasuk dosa besar. Seperti mengata-kan : ”Untung ada kamu, saya jadi selamat !” yang hakekat maknanya adalah hanya meyakini bahwa keselamatannya hanya datang dari si pe nolong semata, bukan dari Alloh. Mestinya ia mengatakan : ”Terima ka sih, karena Alloh telah menyelamatkanku melalui tanganmu !”
Juga seperti perkataan sepasang muda-mudi yang dimabok asmara ter-larang, ia mengatakan kepada pasangannya : ”Aku tak dapat hidup tan pamu !” Perkataan ini sangat kental nuansa syiriknya, yaitu meyakini bahwa yang menentukan hidup dan mati adalah sang kekasihnya.
Bahkan sebagian besar kaum harokah Islamiyyah ( pergerakan Islam ) terjerumus ke dalam perkara ini. Mereka menganggap bahwa kalau sudah tegak negara Islam maka semua masalah akan terselesai-kan. Sehingga mereka menyalahi sunnah Rosul dan para shahabat, lalu mereka menyusun cara-cara sendiri yang kebanyakannya mengimport dari Barat dan bangsa-bangsa kafir untuk memenuhi ambisinya mendi-rikan negara Islam. Muncullah berbagai pergerakan, mulai yang mema kai jalur formal dan banyak pula yang bergerak di bawah tanah. Bah-kan tidak sedikit yang memakai cara-cara kotor dan keji, seperti tipu da ya, teror dan lain-lainnya.
Namun banyak juga yang memahaminya dengan arah yang ter-balik, seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang masih terpengaruh oleh ajaran dynamisme. Mereka meyakini bah wa beberapa batu mulia tertentu, seperti : merah delima dan lain-lain, atau benda-benda keramat, seperti : keris, kujang, tombak dan lain-lain mampu mendatangkan manfa’at dengan izin Alloh. Mereka memboleh-kan seseorang memakai jimat atau susuk asal meyakini bahwa kekua-tannya berasal dari Alloh. Benda-benda itu hanya dijadikan sarana atau sebab dari datangnya kekuatan yang berasal dari Alloh. Ini adalah kebo dohan tentang hakekat dan makna ”sarana” atau ”sebab”. Memang se-mua khasiat atau kekuatan itu berasal dari Alloh, bahkan termasuk ke-kuatan yang dimiliki oleh syetan dan para dukun-dukun. Namun me-narik kekuatan dari Alloh dengan cara-cara demikian adalah keliru, bahkan syirik. Karena ada perbedaan mendasar antara memakai obat atau sarana-sarana benda biasa untuk suatu tujuan dengan memakai benda-benda pusaka, jimat, rajah, susuk dan sejenisnya. Bila memakai obat atau sarana yang sejenisnya dari benda-benda biasa, maka si pema kai tidak meyakini adanya tuah atau nilai keramat dari benda-benda itu namun bila seseorang memakai benda-benda pusaka, maka ia meyakini bahwa dalam benda tersebut memang tersimpan tuah atau keramat. Di sinilah syetan bermain untuk menyesatkan manusia yang bodoh agar tergelincir dalam jurang kesyirikan namun mereka tidak menyadarinya
[ ’Abdulloh A. Darwanto ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: