Rasisme, Kapitalisme dan Feodalisme

BENTUK PEMUJAAN KEPADA STATUS SOSIAL

Status sosial, kedudukan, jabatan bahkan ras terkadang men-jadi sesembahan banyak orang. Di mata mereka kebenaran dan keu- tamaan hanya ada pada ras mereka atau pada ketinggian suatu ke-dudukan dan jabatan. Sebagaimana ini adalah agama para penen- tang Nabi dan Rosul, yang mereka berkata kepada Nabi-nya :
أَنُؤْمِنُ لَكَ وَ اتَّبَعَكَ الأَرْذَلُوْنَ
”Apakah kami akan beriman kepadamu sedangkan yang mengikuti- mu adalah orang-orang yang hina.” ( Qs. Asy-Syuro : 111 )
dalam ayat yang lain disebutkan perkataan mereka:
وَ مَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِيْنَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ
”Tidaklah kami melihat orang-orang yang mengikutimu selain orang orang yang rendah derajatnya di antara kami dan gampang perca- ya.” ( Qs. Hud : 27 )
dalam ayat lain disebutkan kisah mereka :
وَ إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا أَيُّ الْفَرِقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَ أَحْسَنُ نَدِيًّا
”Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang nis-caya orang-orang yang kafir akan berkata kepada orang-orang yang beriman : ”Yang manakah di antara dua kelompok ini ( yaitu kafir dan mu’min ) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih bagus tem pat pertemuannya ?” ( Qs. Maryam : 73 )
Demikianlah keadaan mereka yang berbangga dan sombong dengan status sosialnya, mereka memujanya hingga melupakan kebenaran.
Dalam agama Yahudi pemujaan kepada ras Israel ( Smith ) begitu kental, sampai-sampai bangsa Yahudi menganggap bangsa-bangsa lain sebagai budak atau calon budak mereka. Inilah sebab-nya mereka menolak beriman kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam padahal mereka adalah kaum yang pernah menga-barkan kepada bangsa Aus dan Khozroj tentang kedatangan nabi akhir zaman. Namun ketika nabi yang mereka sebut-sebut itu da-tang bukan dari bangsa Israel, mereka pun mengingkarinya dan mendustakannya. Sebagaimana dikatakan oleh ’Abdulloh bin ’Abbas rodhiyallohu ’anhuma : ”Sesungguhnya orang-orang Yahudi mencari kemenangan atas suku Aus dan Khozroj dengan Rosul Alloh shollal- lohu ‘alaihi wa sallam sebelum Alloh mengutusnya. Tetapi ketika Alloh mengutus rosul tersebut dari bangsa ’Arab, mereka mengkafiri nya dan mengingkari apa yang dahulu mereka katakan. Sehingga Mu’adz bin Jabal, Bisyr bin Al-Baro’ bin Ma’rur dan Dawud bin Sala-mah berkata kepada mereka : ”Wahai orang-orang Yahudi, bertaqwa lah kalian kepada Alloh dan masuk Islamlah ! Sesungguhnya kalian dahulu pernah akan mencari kemenangan atas kami dengan Muham mad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ketika itu kami masih syirik, kalian memberitahu kepada kami bahwa beliau akan diutus, dan kalian pun menerangkan sifat-sifatnya.” Salaam bin Masykum saudara Yahudi Bani Nadhir berkata : ”Dia tidak datang dengan se-suatu pun yang kami kenali, dia bukanlah yang kami pernah sebut-sebut kepada kalian.” Maka Alloh turunkan firman-Nya :
وَ لَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذيْنَ كَفَرُوْا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ , فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ
”Ketika datang kepada mereka sebuah kitab dari sisi Alloh yang membenarkan kitab yang ada pada mereka, dan mereka sebelum itu senantiasa meminta kemenangan atas orang-orang yang kafir, tetapi ketika telah datang apa yang mereka kenal, mereka pun mengingka-rinya. Maka laknat Alloh atas orang-orang yang kafir.”
– ( Qs. Al-Baqoroh : 89 ) –
Dalam agama Hindu, manusia dikelompokkan dalam bebera-pa kelas atau kasta, yaitu :
1. Brahmana ( golongan pendeta )
2. Ksatria ( golongan bangsawan )
3. Waisya ( golongan pedagang dan petani )
4. Sudra ( golongan buruh dan pekerja kasar )
5. Paria ( golongan paling rendah yang tidak punya martabat )
Asal mula pembagian kasta itu karena kemenangan Bangsa Arya atas Bangsa Dravida yang berkulit lebih hitam, lalu bangsa Arya me mandang diri mereka lebih tinggi daripada bangsa Dravida. Lebih ja uh lagi, hanya golongan Brahma, Ksatia dan Waisya yang berhak mempelajari kitab Veda. Sedangkan golongan Waisya dan Paria ti-dak diperkenankan, bahkan diancam hukuman yang berat bila bera-ni membaca kitab Veda.
Kaum Imperialis Barat yang menjajah berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin pun melakukan aksi penjajahannya karena menganggap bahwa bangsa kulit putih lebih mulia atas bang sa-bangsa kulit hitam dan kulit merah. Mereka tidak segan menin-das dan memusnahkan bangsa jajahannya, bahkan mereka tidak me rasa berdosa atas tindakannya itu. Mereka malah merasa mendapat panggilan jiwa untuk menjadikan bangsa dan rasnya sebagai bangsa pilihan yang hanya mereka yang berhak hidup di muka bumi. Selain ras mereka hanya layak hidup sebagai budak mereka.
Sementara itu karakter feodalisme yang telah membudaya di kalangan bangsa-bangsa juga termasuk penuhanan kepada status so sial. Pemandangan yang jelas nampak adalah bagaimana seorang rakyat jelata bila hendak menghadap seorang raja atau pejabat mes-ti berjalan membungkuk atau berjongkok sambil menyembah. Begitu pula ketika ada seorang pejabat atau pembesar lewat di depan mere-ka, maka mereka harus bersimpuh dan menyembah. Pemandangan macam ini masih bisa kita lihat di hampir semua keraton yang ma-sih ada hingga kini.
Kejadian yang sama atau hampir serupa bisa pula kita saksi-kan pada masyarakat kapitalis, di mana orang-orang kaya yang ber-modal menempati posisi yang hampir sama dengan seorang raja. Me reka mesti dihormati oleh kaum buruh dan pekerjanya.
Di masyarakat kita, pemujaan kepada status sosial juga ke-rap kita saksikan sehari-hari. Bagaimana seorang bawahan harus berjalan membungkuk bila hendak melewati atasannya. Seorang anak kecil juga mesti berjalan dengan membungkukkan badan bila melewati orang yang lebih tua darinya.
Dalam dunia pendidikan, pemandangan tidak sehat ini pun bi sa pula kita lihat. Seperti dalam perploncoan siswa atau mahasiswa baru, di mana para yunior harus patuh dan pasrah pada apa saja ke-mauan para seniornya, meski pun harus melakukan hal-hal yang me malukan. Apa pun alasannya, ini adalah bentuk pemujaan kepada status sosial dan mengandung dosa syirik.
Masih banyak lagi pemujaan kepada status sosial yang semua itu adalah bentuk kesyirikan, baik yang terang-terangan atau pun yang terselubung. Hendaklah kita menghentikan semua pemujaan semacam ini, bukankah Alloh telah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
”Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah menjadi-kan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian bisa sa-ling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara ka-lian di sisi Alloh adalah orang yang paling taqwa.” ( Qs. Al-Hujurot : 13 )

[ ’Abdulloh A. Darwanto ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: