TAUHID MULKIYYAH

SEBUAH KONSEP TAUHID ATAU SEBUAH KONSPIRASI BERKEDOK TAUHID ?

Di kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dikenal pembagian tauhid menjadi tiga, yaitu : Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al Asma’ wash-Shifat. Tidak ada perselisihan dalam masalah ini. Seandainya kita jumpai ada sebagian ‘ulama yang hanya membagi tauhid menjadi dua, yaitu Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah, maka hal ini tidaklah menjadi permasalahan, karena mereka beranggapan bahwa Tauhid Al-As-ma’ wash-Shifat termasuk ke dalam Tauhid Rububiyyah, yang kemudian ga bungan antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat ini disebut pula dengan nama Tauhid Al-Ma’rifah wal-Itsbat atau Tauhid ‘Ilmi Khobari atau Tauhid Qouli atau Tauhid As-Siyadah .
Kemudian muncul orang-orang yang memperkenalkan tauhid yang keempat, yaitu Tauhid Mulkiyyah atau Tauhid Hakimiyyah, atau ada pula yang menyebutnya dengan Tauhid Ittiba’. Adapun maksud dari Tauhid Mul kiyyah atau Hakimiyyah atau Ittiba’ ini yaitu menetapkan kewajiban me-ngikuti dan berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sampai batasan i-ni tidak ada permasalahan, karena sebenarnya kandungan makna Tauhid ini secara praktis telah tercakup dalam Tauhid Uluhiyyah, dan secara teoritis te- lah tercakup pula dalam Tauhid Rububiyyah.
Yang menjadi pokok permasalahan adalah bila konsep Tauhid Mulki yah ini diarahkan kepada “ tauhid politik “ atau sebuah konspirasi dengan berkedok ‘aqidah tauhid, sebagaimana banyak diajarkan di kalangan haroki yah , seperti Ikhwanul-Muslimin , Darul-Islam , Jama’ah Islamiyyah , Hizbut-Tahrir dan lain-lainnya. Bahkan di antara mereka banyak yang ti- dak mengakui Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat, sehingga Tauhid Mulkiyyah ini menjadi tauhid ketiga sebagai ganti dari Tauhid Al-Asma’ wash-Shifat yang tidak diakuinya. Mereka menjadikan Tauhid Mulkiyyah ini sebagai puncak dari semua jenjang tauhid dan ajaran Islam. Sehingga menjadikan beberapa ‘ulama, seperti Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin dan lain-lainnya menyatakan bahwa Tauhid Mulkiyyah –versi haroki- adalah se-buah bid’ah yang sesat.
Banyak kelompok radikal yang menyihir para pengikutnya dengan doktrin Tauhid Mulkiyyah -versi mereka-, sehingga para pengikutnya begitu setia dan patuh dalam melaksanakan instruksi pimpinan kelompok tersebut, sekalipun mereka diperintah untuk melaksanakan perbuatan yang amat ter-cela, seperti bom bunuh diri dan lain-lainnya !
Tauhid Mulkiyyah yang diajarkan kaum Harokiyyah didasarkan ke-pada firman Alloh Ta’ala :
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ
“Hukum itu hanyalah milik Alloh.” [ Qs. Al-An’am : 57, Yusuf : 40 dan 67 ]
وَ مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ
“Dan siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang Alloh turunkan, ma-ka itulah orang-orang yang kafir.” [ Qs. Al-Maidah : 44 ]
Dengan berbekal ayat-ayat ini, mereka mengkafirkan para pemerintah ne-geri-negeri muslim yang tidak melaksanakan hukum Islam atau melakukan kerja sama dengan orang-orang kafir, terutama bangsa Amerika atau Eropa. Di samping mengkafirkan, mereka pun menghalalkan darah dan harta se-tiap pemerintah negeri-negeri muslim tersebut, bahkan ada sebagian kelom- pok yang mengkafirkan seluruh warga dan rakyat sebuah negara yang tidak tidak mengkafirkan pemerintahnya yang tidak menerapkan hukum Islam de ngan alasan karena warga dan rakyat negara tersebut ridho dengan hukum kafir yang diterapkan di negerinya.
Padahal yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah kufur sesuai de-ngan kadar penyelisihannya, karena kekafiran ada dua macam, yaitu : ku-fur akbar ( kafir besar ) yang mengeluarkan seseorang dari Islam dan kufur ashghor ( kafir kecil ) yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Sean-dainya penyelelisihan seseorang telah mencapai kufur akbar, maka tidak de-ngan serta merta kita mengkafirkannya, hingga terpenuhi semua syarat-sya-ratnya dan hilang semua mawani’ (penghalang-penghalang)-nya.
Dalam dogma Tauhid Mulkiyyah –versi mereka- menyatakan bahwa karena kekuasaan dan hukum hanya milik dan hak Alloh Ta’ala maka seti-ap peraturan yang bukan bersumber dari Al-Qur’an adalah bathil dan wajib ditentang. Kudeta untuk menggulingkan suatu pemerintahan thoghut ada lah sah, bahkan wajib menurut mereka. Inilah faham Khowarij yang me- lekat pada kaum haroki. Meskipun mereka juga menganggap sesat faham Khowarij klasik –yaitu Khowarij pada akhir zaman Shahabat-, tetapi tanpa sadar mereka mengadopsi faham Khowarij ini, hanya saja tidak pada semua bidang. Bila Khowarij klasik mengkafirkan semua pelaku maksiat dan dosa besar, maka kaum haroki hanya mengkafirkan pelaku maksiat dalam masa-lah politik, yaitu para penguasa dan rakyat yang mendukungnya.
Tujuan dari pengajaran Tauhid Mulkiyyah –versi mereka- ini adalah ingin “mengembalikan” kekuasaan Alloh, yaitu dengan mendirikan negara Islam , tentunya versi masing-masing kelompok haroki, yang satu dengan lainnya tidaklah sama. Konsep Negara Islam mereka secara teoritis bisa jadi serupa, yang membedakan hanyalah dalam masalah hirarki kepemimpinan- nya. Masing-masing kelompok berambisi agar kepimpinan jatuh ke tangan kelompoknya, sebagaimana gambaran nyatanya dapat kita saksikan di nega ra Afghanistan pasca Sovyet, di mana semua faksi mujahidin berambisi un-tuk meraih kursi kekuasaan sehingga mengorbankan rakyat kecil. Hal yang lebih moderat dapat kita saksikan dalam perebutan kursi kekuasaan oleh partai-partai Islam di berbagai negara muslim.
Sehingga kalau kita amati secara lebih teliti, kita akan dapati bahwa pengajaran Tauhid Mulkiyyah atau Hakimiyyah oleh kaum haroki sekedar kamuflase, padahal hakekat sebenarnya adalah mendogma para pengikut-nya agar mau mengikuti ambisi kelompoknya, yaitu mendirikan sebuah ne-gara yang diperintah oleh kelompoknya. Seandainya mereka berdalih bahwa yang ingin mereka dirikan adalah negara Islam atau khilafah Islamiyyah, maka kenapa mereka harus meributkan tentang hirarki kepemimpinannya ? Bahkan jauh-jauh hari mereka telah menyusun sebuah struktur pemerin- tahan bawah tanah yang masing-masing kelompok berbeda-beda. Ikhwanul-Muslimin memiliki struktur pemerintahan sendiri, Jama’ah Islamiyyah me-miliki sendiri, Hizbut-Tahrir memiliki sendiri, Darul-Islam (NII) memiliki sendiri, dan lain-lain, di mana satu sama lain berdiri sendiri tidak saling ter-kait. Apa lagi bila kita melihat mutu keilmuan para petinggi haroki yang ra-ta-rata sangat jauh dari kriteria yang ideal bagi seorang pemimpin Islam.
Akan sangat panjang lebar bila kita merincikan tentang mereka, na-mun di sini kita bisa melihat bahwa pengajaran Tauhid Mulkiyyah oleh ka-ngan haroki ternyata bertentangan dengan tauhid uluhiyyah, karena tujuan nya bukan lagi meng-Esa-kan Alloh, tetapi berubah menjadi bermuatan poli tis ! Dalam angan-angan mereka terbayang bila telah terbentuk sebuah nega ra Islam yang dipimpin oleh kelompok mereka maka seluruh permasalahan umat pasti akan selesai dan perjuangan telah mencapai garis finish !?!
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

Satu Tanggapan

  1. Haroki yang dimaksud buram .. tidak jelas ke-mulkiyah-an satu sama lain. terkesan men-generalisir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: