KETIKA ’ULAMA’ DAN ’UBADA’ DIPERTUHANKAN

Kedudukan seorang ahli ilmu ( ’ulama’ ) dan ahli ’ibadah ( ’uba-da’ ) adalah posisi yang dihormati oleh kebanyakan manusia yang beraga ma. Setiap mata dan telinga senantiasa tertuju mengamati perilaku dan pendapat mereka.

Namun kemuliaan ulama’ dan ubada’ telah dicemarkan oleh ulah para pemuja hawa nafsu yang mengenakan jubah dan mantel para ulama’ dan ubada’. Pengakuan yang bertolak belakang dengan kenyataannya.

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلاً

”Apakah kamu tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya seba gai ilah ( sesembahan )-nya, apakah engkau akan menjadi penjaga bagi- nya ?” ( Qs. Al-Furqon : 43 )

أَفَرَأيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُ وَ أَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَ خَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيْهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ , أَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ

”Apakah kamu tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya seba gai ilah ( sesembahan )-nya dan Alloh telah menyesatkannya di atas ilmu ( nya ), menutup pendengaran dan hatinya, dan menjadikan penglihatan-nya tertutup pula, maka siapakah selain Alloh yang mampu memberinya petunjuk ? Mengapa mereka tidak ingat ?” ( Qs. Al-Jatsiyah : 23 ) Baca lebih lanjut