TAFSIR AL-FATIHAH

NAMA-NAMA SURAT AL-FATIHAH

Disebut dengan Al-Fatihah yang bermakna PEMBUKAAN, karena Al-Qur’an dibuka dengannya.

Disebut pula Fatihatul-Kitab atau Pembukaan Kitab berdasarkan hadits :

لا صَلاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَاب

“Tidak ada sholat bagi siapa yang tidak membaca Fatihatul-Kitab.” ( HR. Muslim )

Disebut pula dengan :

Ummul Qur’an, Ummul Kitab, AS-Sab’ul Matsani, dan Al-Qur’an Al-‘Azhim , berdasarkan hadits :

أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ

“Ummul Qur’an adalah As-Sab’ul Matsani dan AL-Qur’an Al-‘Azhim.” ( HR. Al-Bukhori )

Disebut pula dengan As-Sholat berdasarkan hadits qudsi :

قَسَمْتُ الصَّلاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَل

“Aku telah membagi Ash-Sholat antaraku dan antara hamba-Ku menjadi dua bagian, dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.” ( HR. Muslim )

Disebut juga dengan Ar-Ruqyah berdasarkan sabda Rosululoh kepada Abu Sa’id Al-Khudri :

وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَة

“Dari mana kamu tahu kalau dia adalah Ruqyah ?” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Disebut pula dengan nama-nama yang lainnya, seperti : Al-Hamdu, Asy-Syifa’, Asasul-Qur’an, Al-Waaqiyah dan Al-Kaafiyah.

Disunnahkan membaca ta’awwudz sebelum membaca Al-Qur’an :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari syetan yang terkutuk.” ( Qs. An-Nahl : 99 )

AYAT 1 :

Keutamaan Basmalah :

– Bacaan Basmalah akan membuat syetan tidak berdaya, sebagaimana sabda Rosululloh :

لا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ تَعِسَ الشَّيْطَانُ تَعَاظَمَ وَقَالَ بِقُوَّتِي صَرَعْتُهُ وَإِذَا قُلْتَ بِسْمِ اللَّهِ تَصَاغَرَ حَتَّى يَصِيرَ مِثْلَ الذُّبَابِ

“Jangan kamu katakana : “Celaka Setan !”, karena kalau kamu mengatakan “Celaka Syetan !” dia akan menjadi besar dan berkata : “Dengan kekuatan yang aku miliki, akau akan menyurupinya !” namun bila kamu berkata : “Bismillah !”, maka ia akan menjadi kecil seperti lalat.” ( HSR. Ahmad dll )

Membaca basmalah ketika suami-isteri hendak bersenggama akan menjadikan syetan tidak bias merusak hubungan persenggamaan keduanya dan akan menjaga keturunannya dari gangguan syetan

لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Seandainya salah seorang di antara kamu hendak mendatangi keluarganya ( yaitu hendak berjimak ) dengan membaca : “Dengan nama Alloh, Ya Alloh, jauhkan kami dari syetan dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”, niscaya bila keduanya ditaqdirkan memiliki anak maka syetan tidak akan bisa mengganggunya untuk selamanya.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

– Bacaan Basmalah bisa menjaga rumah dan isinya dari gangguan syetan, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

“Bila malam menjelang, tahanlah anak-anak kecilmu karena syetan bergentayangan saat itu ! Bila telah berlalu sesaat dari waktu malam, lepaskan mereka, dan tutuplah pintu dan sebutlah nama Alloh karena syetan tidak dapat membuka pintu yang tertutup, ikatlah tempat airmu dan sebutlah nama Alloh, tutuplah bejana-bejanamu dan sebutlah nama Alloh sekalipun dengan meletakkan sesuatu di atasnya, dan padamkan lampu-lampu minyakmu ! “ ( HR. AL-Bukhori dan Muslim )

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لا مَبِيتَ لَكُمْ وَلا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاء

“Bila seseorang masuk rumahnya dengan menyebut nama Alloh ketika masuknya dan ketika makannya syetan berkata kepada kawan-kawannya : “Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam bagi kalian !” Namun bila dia masuk rumah tanpa menyebut nama Alloh ketika masuknya maka syetan berkata kepada kawan-kawannya : “Kalian telah menemukan tempat bermalam!” dan bila dia juga tidak menyebut nama Alloh ketika makan maka syetan berkata kepada kawan-kawannya : “Kalian telah menemukan tempat bermalam dan juga makan malam.” ( HR. Muslim )

Begitu juga ketika kita masuk WC atau kamar mandi atau saat melepaskan pakaian, maka sebutlah nama Alloh, karena syetan akan dapat melihat aurat tubuh kita ketika kita membuka pakaian kecuali bila kita membaca basmalah ketika membuka pakaian kita, maka syetan dibutakan dari melihat aurat kita.

Huruf Ba’ pada Bismillah memiliki makna mushohabah yaitu kebersamaan, atau isti’anah yaitu memohon pertolongan. Sehingga BISMILLAH bermakna : “bersama dengan menyebut yaitu memohon pertolongan melalui nama-nama Alloh”.

Kata ISIM pada ISMILLAH berbentuk mufrod ( kata tunggal ) yang mudhof. Bentuk kata MUFROD MUDHOF bermakna umum, sehingga makna bismillah : “dengan menyebut seluruh nama Alloh”.

Alloh memiliki nama-nama yang indah yang disebut ASMAUL-HUSNA, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

“Hanya milik Alloh saja Asmaul-Husna itu, maka berdo’alah kepada-Nya dengan menyebut asmaul-husna, dan berpalinglah dari orang-orang yang menyimpang dalam menyebut nama-nama-Nya, niscaya mereka akan dibalasi sesuai dengan apa yang mereka berjakan.” ( Qs. Al-A’rof : 180 )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Alloh memiliki 99 nama, seratus kurang satu, barangsiapa yang menghafalkannya maka ia akan masuk syurga.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Kata bismillah berbentuk jar wa majrur, yaitu : huruf ba’ adalah huruf jar dan kata ismillah adalah majrurnya, sehingga bismillah memiliki mu’allaq, yaitu sesuatu yang berhubungan dengannya. Mu’allaqnya ditentukan berupa fi’il ( perbuatan ) yang diakhirkan dengan tujuan tabarruk ( mencari berkah ) dengan mendahulukan menyebut nama Alloh, dan hashr ( membatasi ) yaitu : hanya dengan menyebut nama Alloh semata aku melakukan suatu perbuatan.”

Lafazh jalalah ALLOH adalah nama asli Alloh dan hanya untuk Allaoh semata, sehingga nama dengn lafazh ALLOH didahulukan atas nama-nama-Nya yang lainnya.

Lafazh Alloh adalah musytaq yaitu berakar dari kata yang lain, yakni berasal dari kata الإله ( Yang disembah )

Berkata ‘Abdulloh bin ‘Abbas :

الله ذو الألوهية و العبودية على خلقه أجمعين

“Alloh yaitu pemilik uluhiyyah ( hak disembah ) dan ‘ubudiyyah ( hak diibadahi ) atas seluruh makhluq-Nya.”

{ الرحمن الرحيم }

Berkata Imam Al-Bukhori :

الرحمنُ الرحيمُ اسمان من الرحمة , الرحمن الرحيم بمعنى واحدٍ كالعليم و العالم

“Ar-Rohman Ar-Rohim adalah 2 nama yang berasal dari kata Ar-Rohmah ( RAHMAT ). Ar-Rohman Ar-Rohim bermakna satu, seperti Al-‘Aliim dengan Al-‘Aalim.”

Kata الرحمن berwazan فعلان yang bermakna ذو الرحمة الواسعة ( Pemilik rahmat yang luas ), sedangkan kata الرحيم berwazan فعيل yang bermakna ذو الرحمة الواصلة ( Pemilik rahmat yang telah sampai kepada makhluk-Nya ).

الرحمة : الخير و النعمة

“Rahmat yaitu kebaikan dan Nikmat”.

Nama Ar-Rohman didahulukan atas Ar-Rohim karena Ar-Rohman memiliki makna lebih daripada Ar-Rohim, dan nama Ar-Rohman hanya khusus bagi Alloh sedangkan Ar-Rohim bisa pula ditujukan untuk selain Alloh sebagaimana Alloh telah mensifati Rosululloh dengan rohiim dalam Qs. At-Taubah : 128.

Sehingga urutan nama Alloh dalam basmalah dimulai dari ALLOH yang merupakan nama asli dari Alloh, kemudian Ar-Rohman yang merupakan nama yang hanya boleh disandang oleh Alloh, baru kemudian Ar-Rohiim yang juga bisa disandang oleh makhluk, hanya saja kadarnya tidak sama dengan Alloh, karena Alloh adalah Dzat Yang Maha Sempurna.

الحمد لله رب العالمين

Huruf ال pada kata الحمد bermakna istighroq atau umum, karena ال masuk ke isim jenis, sehingga arti الحمد adalah : “Segala puji”, yaitu semua jenis pujian pada hakekatnya hanya milik Alloh . Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي

“Bila seorang hamba membaca ALHAMDU LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN, Alloh ta’ala berfirman : “ Hamba-Ku telah memuji-Ku.” ( HR. Muslim )

Berkata ‘Ali bin Abu Tholib tentang makna alhamdulillahi Robbil ‘aalamiin :

كلمةً أحبّها الله تعالى لنفسه و رضيها لنفسه و أحبّ أن يقال

“Kalimat yang Alloh sukai dan ridhoi untuk diri-Nya, dan Alloh sukai untuk disebut-sebut.”

Berkata ‘Abdulloh bin ‘Abbas :

الحمد لله كلمة الشكر

“Alhamdulillah adalah kalimat syukur.”

Para ‘ulama mutaakhkhirin berpendapat bahwa الحمد adalah pujian atas sifat-sifat yang laazimah dan muta’addiyah. Sifat laazimah yaitu sifat yang tidak ada kaitannya dengan suatu obyek, sedangkan sifat muta’addiyah adalah sifat yang berkaitan dengan obyek. Sehingga Alloh tetap Maha Terpuji dalam segala keadaan.

KEUTAMAAN HAMDALAH

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Dzikir yang paling utama adalah laa ilaaha illalloh, dan do’a yang paling utama adalah alhamdulillah.” ( HHR. At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ

“Tidaklah Alloh memberi suatu kenikmatan kepada seorang hamba kemudian dia membaca : alhamdulillah, kecuali pasti yang diberikan kepadanya lebih utama daripada yang diambil olehnya.” ( HSR. Ibnu Majah )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآَنِ أَوْ تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Alhamdulillah akan memenuhi timbangan amal, subhanalloh dan alhamdulillah keduanya akan memenuhinya atau akan memenuhi antara langit dan bumi.” ( HR. Muslim )

Kata الرب berasal dari kata رب يرُب yang bermakna نَشَأَ الشيءَ من حالٍ إلى حالٍ إلى حال التمام yaitu menumbuhkan sesuatu dari suatu keadaan kepada suatu keadaan hingga mencapai keadaan sempurna.”

Sehingga kata رب memiliki makna : Pencipta, Pemilik, Pengatur, Pemelihara atau yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata TUHAN.

Catatan : Kata Tuhan sebenarnya tidak meliputi semua makna رب hanya karena tidak akda kata lain yang lebih mendekati makna رب maka kata Tuhan dipakai.

Kata رب berbentuk mufrod mudhof sehingga bermakna meliputi semua sifat-sifat Rububiyyah, yaitu Alloh adalah Pencipta, Pemilik, Pengatur dan Pemelihara seluruh alam raya.

Kata al-‘aalamiin yaitu seluruh alam semesta atau seluruh makhluk ciptaan Alloh sebagaimana firman Alloh ta’ala :

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ

“Berkata Fir’aun : “Siapakah Robbul ‘aalamiin ?” Musa menjawab : “Tuhan seluruh langit, bumi dan apa saja yang ada di antara keduanya bila kamu termasuk orang-orng-orang yang yakin.” ( Qs. Asy-Syu’aro : 23 – 24 )

Berkata Ibnu ‘Abbas :

الحمد لله الذي له الخلقُ كلُّه : السماواتُ و الأرضون و من فيهنّ و ما بينهنّ مما نعلم و مما لا نعلم

“Segala puji bagi Alloh Yang hanya milik-Nya seluruh makhluk, yaitu : Langit, bumi, apa saja yang ada di dalamnya dan apa saja yang ada di antaranya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.”

الرحمن الرحيم

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

“Bila hamba membaca : Ar-Rohmaanir Rohiim, Alloh ta’ala berfirman : “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” ( HR. Muslim )

Pada lafazh AR-ROHMAANIR ROHIIM terdapat makna ROJA’ atau harapan, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي

“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

مالك يوم الدين

Ada dua qiro’ah yang mutawatir, yaitu : ملك يوم الدين dengan mim dibaca pendek, bermakna : Pemilik atau Raja, dan : مالك يوم الدين dengan mim dibaca panjang bermakna : Penguasa atau Pengatur .

Perbedaan bacaan dan makna tersebut memiliki faidah yang agung, yaitu : menjelaskan bahwa Alloh adalah Raja ( Pemilik ) dan sekaligus Penguasa ( Pengatur ).

Kata Diin dalam “maliki yaumiddin” bermakna hari perhitungan dan pembalasan. Dalilnya :

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

“Tahukah kamu apa itu yaumuddin ? Kemudian tahukah kamu apa itu yaumuddin ? Yaitu hari sebuah jiwa tidak ada yang memiliki kekuasaan atas jiwa yang lainnya, dan seluruh perkara pada hari itu hanya milik Alloh.” ( Qs. Al-Infithor : 17 – 20 )

Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma :

و يومُ الدين يومُ الحساب للخلائق و هو يومُ القيامة يَدينُهم بأعمالهم إن خيرًا فخير و إن شرًّا فشر إلا من عفا عنه

“Yaumuddin yaitu hari perhitungan bagi seluruh makhluk, yaitu hari Qiyamat dimana Alloh membalasi mereka dengan amalan mereka, bila baik maka baik dan bila jelek maka jelek, kecuali siapa yang Alloh ma’afkan.”

Berkata Qotadah rohimahulloh :

يوم الدين يومُ يَدينُ اللهُ العبادَ بأعمالهم

“Yaumuddin yaitu hari Alloh membalasi hamba-hamba-Nya berdasarkan amalan-amalan mereka.”

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِذَا قَالَ { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي

“Bila seorang hamba membaca : Maaliki yaumiddiin, Alloh berfirman : “Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.” ( HR. Muslim )

Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma :

لا يملِكُ أحدٌ معه في ذلك اليوم حُكمًا كمُلكه في الدنيا

“Tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasaan di samping kekuasaan Alloh atas hukum pada hari itu seperti kekuasaannya di dunia.”

Alloh berfirman ketika itu :

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“Milik siapa kerajaan pada hari ini ? Hanya milik Alloh Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” ( Qs. Al-Mu’min : 16 )

Alloh ta’ala berfirman :

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ

“Kerajaan yang sebenarnya pada hari itu adalah milik Ar-Rohman.” ( Qs. Al-Furqon : 26 )

Alloh ‘azza wa jalla berfirman :

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ

“Kerajaan pada hari itu hanya milik Alloh, Dia menghukumi perkara di antara mereka.” ( Qs. Al-Hajj : 56 )

Alloh subhanahu berfirman :

وَ لَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ

“Hanya milik-Nya semua kerajaan pada hari ditiupnya sangkakala.” ( Qs. Al-An’am : 73 )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقْبِضُ اللَّهُ الأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ

“Alloh menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman : “Akulah Raja, dimanakah para raja dunia ?” ( HR. Al-Bukhori )

Karena itulah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الْأَمْلاكِ لا مَالِكَ إِلا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Nama yang paling hina di sisi Alloh adalah seseorang yang bergelas RAJA PARA RAJA, padahal tidak ada Penguasa yang sebenarnya kecuali Alloh ‘azza wa jalla.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Karena pada hakekatnya seluruh kerajaan dunia dan akhirat hanyalah milik Alloh ta’ala, dalilnya :

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ

“Katakan : “Ya Alloh Penguasa semua kerajaan, Engkau berikan kerajaan itu kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” ( Qs. Ali ‘Imron : 26 )

Pengkhususan penyebutan Raja dan Penguasa hari qiyamat tanpa selainnya tidakkah menunjukkan bahwa Alloh tidak kuasa selain di alam akhirat, karena yang demikian telah disebutkan dalam ayat sebelumnya, yaitu ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘AALAMIIN, yaitu Tuhan Pencipta, Pemilik Penguasa dan Pengatur alam.

Pada ayat ini juga terkandung kewajiban untuk beriman dengan hari qiyamat dan keharusan mengadakan persiapan untuk menyambutnya.

Di dalam ayat ini termuat pula prinsip KHOUF yaitu takut kepada Alloh, sedangkan ayat sebelumnya mengandung prinsip ROJA’ yaitu berharap kepada Alloh, karena ibadah itu harus disertai dengan khouf dan roja’.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا قَالَ { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل

“Bila seseorang hamba membaca : Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, Alloh berfirman : “Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” ( HR. Muslim )

Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma :

{ إياك نعبد } يعني إياك نوحّد و نخاف و نرجو يا ربَّنا لا غيرَك , { و إياك نستعين } على طاعتك و على أمورنا كلِّها

“Iyyaaka na’budu yaitu hanya kepada-Mu kami bertauhid, kami takut dan kami berharap wahai Tuhan kami, tidak kepada selain-Mu, Iyyaaka nasta’iin yaitu untuk menta’ati-Mu dan untuk seluruh urusan kami.”

Berkata Qotadah rohimahulloh :

إياك نعبد و إياك نستعين : يأمركم أن تُخَلِّصوا له العبادةَ و أن تستعينوه على أموركم

“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin yaitu Alloh memerintah kalian agar memurnikan ibadah hanya untuk-Nya dan agar minta tolong kepada-Nya dalam seluruh urusan kalian.”

Karena itulah Rosulloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه

“Bila kamu meminta, maka mintalah kepada Alloh, dan bila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Alloh.” ( HSR. At-Tirmidzi )

Berkata sebagian ‘ulama Salaf :

الفاتحة سر القرآن و سرها هذه الكلمة : إياك نعبد و إياك نستعين

“Al-Fatihah adalah rahasia dari Al-Qur’an, dan rahasia dari Al-Fatihah adalah ayat ini : iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.

Mendahulukan obyek yaitu iyyaaka atas subyek dan predikatnya, yaitu na’budu dan nasta’iin memiliki makna hashr, yaitu menetapkan hukum hanya bagi yang disebutkan dan meniadakan dari yang selainnya, sehingga lafazh iyyaaka na’budu bermakna hanya kepada-Mu kami menyembah, dn lafazh iyyaaka nasta’iin bermakna hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.

Pengulangan lafazh iyyaaka memiliki makna ihtimam yaitu memandang penting untuk diperhatikan.

Kalimat iyyaka na’budu semakna dengan kalimat tauhid laa ilaaha illalloh yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh, karena mendahulukan obyek atas subyek dan predikatnya bermakna hashr ( pembatasan ).

Dan didahuluinya ayat ini dengan AR-ROHMAANIR-ROHIIM yang bermakna ROJA’ ( harapan _ dan MAALIKI YAUMID-DIIN yang bermakna KHOUF ( takut ) karena ibadah mesti membutuhkan khouf dan roja’.

Ibadah yaitu : sebuah nama yang mencakup seluruh apa saja yang Alloh sukai dan ridhoi, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun batin.

Perubahan dhomir ( kata ganti ) dari pihak ke-III pada ayat-ayat sebelumnya menjadi pihak ke-II pada ayat ini dikarenakan bila seseorang telah memuji dan menyanjung Alloh ta’ala maka Alloh menjadi dekat seperti hadir di hadapannya, sehingga cocok untuk mempergunakan kata ganti ENGKAU.

Sedangkan dipergunakannya dhomir ( kata ganti ) KAMI karena menunjukkan jenis hamba Alloh, yaitu maknanya adalah : Kami para hamba-Mu.

Isti’anah ( meminta tolong ) dalam ayat ini yaitu : bersandar kepada Alloh dalam mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan. Dan isti’anah yang mengandung unsur kepasrahan ini disebut dengan isti’anah tafwidh dan hanya boleh serta wajib ditujukan kepada Alloh semata.

Sedangkan isti’anah yang tidak mengandung unsur kepasrahan dan ketergantungan maka disebut dengan musyarokah atau kerja sama. Isti’anah jenis ini boleh dimintakan kepada orang yang hidup dan mampu, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Saling tolong-menolonglah kalian dalam perbuatan baik dan taqwa.” ( Qs. Al-Maidah : 2 )

Namun diharamkan minta tolong kepada bangsa jin karena dapat menyeret pelakunya kepada dosa dan kesyirikan, dalilnya :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Sesungguhnya ada beberapa orang dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari bangsa jin, maka mereka hanya menambahkan dosa dan kesalahan kepadanya.” ( Qs. Jin : 6 )

Mendahulukan iyyaaka na’budu atas iyyaaka nasta’iin memiliki beberapa maksud, yaitu :

  1. Mendahulukan hak Alloh atas hak hamba-hamba-Nya.
  2. Karena ibadah adalah tujuannya, sedangkan isti’anah adalah sarana yang menjadikan kita bisa beribadah kepada Alloh dengan khusyu’.
  3. Seseorang bisa meminta pertolongan kepada Alloh dengan menggunakan amal sholihnya sendiri untuk bertawassul.

اهدنا الصراط المستقيم

Ada tiga qiro’ah yang mutawatir di sini, yaitu :

Pertama : الصراط dengan shod

Kedua : السراط dengan sin

Ketiga : الزراط dengan mengisyamamkan ke za’

Begitu pula dalam ayat berikutnya.

Kata hidayah ada dua macam, yaitu :

  1. Hidayah Irsyad yaitu hidayah yang berupa bimbingan dan ilmu yang mana obyek yang diberi hidayah jenis ini belum tentu mengikutinya. Inilah hidayah yang ada di dalam Al-Qur’an dan disampaikan oleh para nabi dan para ‘ulama.
  2. Hidayah Taufiq, yaitu hidayah yang menjadikan obyek yang diberi hidayah pasti mengikutinya. Dan hidayah jenis ini hanya ada di tangan Alloh.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الصراط الإسلام

“Jalan itu adalah Islam.” ( HSR. Ahmad )

Begitu pula pendapat Ibnu ‘Abbas, Jabir, Ibnu Mas’ud dan lain-lain.

Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma dalam riwayat yang lain :

الصراطُ المستقيم كتاب الله

“Jalan yang lurus adalah Kitabulloh.”

Mujahid rohimahulloh berpendapat : Jalan yang lurus adalah kebenaran.

Berkata Abul ‘Aliyah rohimahulloh :

هو النبي صلى الله عليه و سلم و صاحباه من بعده

“yaitu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan dua orang shahabatnya, yaitu Abu Bakar dan ‘Umar.”

Pendapat ini dibenarkan oleh Al-Hasan.

Kesimpulan :

Jalan yang lurus adalah Islam, Islam adalah kebenaran, Islam yang benar yaitu Islam yang berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Rosululloh dan bimbingan para Shahabat beliau terutama Abu Bakar dan ‘Umar.

Berkata Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu :

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ { إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ }

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah membuat sebuah garus lurus di tanah, kemudian berkata : “Ini adalah jalan Alloh.” Kemudian beliau membuat beberapa garis di kanan dan di kirinya dan bersabda : “Ini adalah jalan-jalan yang menyimpang, pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepadanya. Kemudian beliau membaca ayat : “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lainnya, karena akan mencerai-beraikan kalian dari jalan yang lurus.” ( Qs. Al-An-am : 153 ).” (HSR. Ahmad )

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ الْإِسْلامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Alloh membuat sebuah perumpamaan jalan yang lurus, di kedua sisinya terdapat pagar tembok yang memiliki beberapa pintu yang sering terbuka, di atas pintu terdapat gorden penutup yang longgar, di pintu jalan terdapat penyeru yang berkata : “Hai manusia, masuklah ke jalan ini semuanya, dan janganlah menyimpang !” dan penyeru yang menyeru di tengah jalan, bila ada orang yang membuka pintu-pintu yang sering terbuka itu, ia berseru : “Celaka kamu, jangan kamu buka ! Bila kamu membukanya niscaya kamu pasti masuk ke dalamnya.” Maka jalan itu adalah Islam, dua pagar temboknya adalah hukum-hukum Alloh ta’ala, pintu-pintu yang mudah terbuka adalah perkara-perkara yang Alloh ta’ala haramkan, penyeru di muka jalan adalah Kitabulloh dan penyeru di atas jalan adalah nasehat Alloh yang ada pada hati setiap muslim.” ( HSR. Ahmad )

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang shohih ini, semuanya menunjukkan bahwa jalan yang lurus hanya satu, karena Alloh dan Rosul-Nya selalu menyebutnya dengan lafazh mufrod ( tunggal ), sedangkan jalan-jalan yang sesat adalah banyak jumlahnya karena selalu disebut dengan bentuk jamak.

Permohonan petunjuk jalan yang lurus meliputi : petunjuk ke jalan yang lurus dan petunjuk di dalam jalan yang lurus. Inilah sebabnya kalimat ihdinash-shiroothol mustaqiim tidak memakai huruf jar إلى ( ke ) atau في ( di dalam ) atau sejenisnya, karena agar bisa meliputi semuanya.

Petunjuk ke jalan yang lurus yaitu petunjuk agar bisa dimasukkan ke dalam agama Islam. Sehingga setiap orang muslim telah mendapat hidayah ilash-shirothil-mustaqiim hidayah ke jalan yang lurus Adapun hidayah di dalam jalan yang lurus yaitu petunjuk agar bisa istiqomah di dalam agama Islam dan agar terus meningkat amalannya hingga mencapai keimanan yang sempurna. Sehingga tidak setiap muslim mendapatkan hidayah fish-shirhothil-mustaqiim hidayah di dalam jalan yang lurus. Karena itulah kita senantiasa meminta petunjuk kepada Alloh agar selalu mendapatkan hidayah jenis ini.

Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap ahli bid’ah atau orang-orang yang sesat karena mereka tidak mau mengikuti jalan yang lurus, yaitu Islam yang benar yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan difahami dengan bimbingan para Shahabat.

صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم و لا الضالين

Ada tiga bacaan yang mutawatir, yaitu :

عليهِمْ dengan mengkasrohkan ha’

عليهُمْ dengan mendhommahkan ha’

عليهُمُوْا dengan menambahkan wawu jama’ah

Semuanya mutawatir dan boleh dibaca.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا قَالَ { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ } قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Bila seorang hamba membaca : ihdinash-shirothol-mustaqiim, shirotholladziina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhuubi ‘alaihim wa ladhdhoolliin, Alloh berfirman : “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” ( HR. Muslim )

Siapakah orang-orang yang telah Alloh berikan nikmat kepada mereka ? Alloh berfirman :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

“Barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rosul-Nya, itulah orang-orang yang Alloh telah berikan nikmat kepada mereka, yaitu dari kalangan para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para sholihin, itulah sebaik-baik teman. Yang demikian adalah karunia dari Alloh dan cukuplah Alloh Yang mengetahui.” ( Qs. An-Nisa’ : 69 – 70 )

Dengan demikian jalan yang lurus adalah jalan orang-orang pilihan, yaitu :

Para Nabi, terutama Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam , yaitu dengan mengikuti Sunnah beliau.

Para Shiddiqin, yaitu orang-orang yang imannya benar-benar teruji, terutama Abu Bakar yang digelari Ash-Shiddiq.

Para Syuhada’ yaitu orang-orang yang telah mendermakan hidupnya dengan ikhlas untuk agama Alloh.

Para Sholihin, yaitu orang-orang yang amalnya lurus berdasarkan ilmu yang benar.

Kata Shiroth berbentuk mufrod mudhof, sehingga meliputi semua jalan orang-orang yang telah Alloh berikan nikmat kepada mereka, baik dalam bidang ‘aqidah, akhlaq, ‘ibadah, mu’amalah dan lain-lainnya.

Dari ayat ini terfahami pula bahwa segala kenikmatan hanyalah bersumber dari sisi Alloh ta’ala.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ الْيَهُودُ وَ الضَّالِّينَ النَّصَارَي

“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi dn orang-orang yangsesat adalah orang-orang Nashrani.” ( HSR. Ahmad )

Orang-orang Yahudi dimurkai oleh Alloh karena mereka mengetahui kebenaran namun tidak mau mengikutinya. Maka kita memohon perlindungan kepada Alloh dari berperilaku seperti orang-orang Yahudi yang menyebabkan dimurkai oleh Alloh.

Lafazh al-maghdhuubi ‘alaihim datang dalam bentuk isim maf’ul yaitu kata yang bermakna obyek, dikarenakan kemurkaan terhadap orang-orang Yahudi dan yang sejenis dengannya tidak hanya datang dari Alloh, namun juga datang dari setiap orang. Karena setiap orang yang sehat akalnya pasti membenci orang yang mengetahui suatu kebenaran tetapi perilakunya bertolak belakang dengannya.

Sedangkan orang-orang Nashrani disebut sebagai orang-orang yang sesat karena beramal tanpa ilmu. Maka kita berlindung dari perilaku seperti orang-orang Nashrani yang beramal tanpa mengetahui ilmunya. Sehingga sikap taqlid atau mengikut pendapat orang tanpa mengetahui dalilnya adalah perbuatan yang sangat tercela di dalam agama Islam.

Didahulukannya sebutan orang-orang yang dimurkai atas orang-orang yang sesat karena dosa mereka lebih berat dibandingkan dengan dosa orang-orang yang sesat. Seseorang yang berbuat salah karena tidak tahu ( bodoh ) maka dosa yang ia terima lebih ringan dibandingkan dengan orang-orang yang berbuat salah padahal dia mengetahui ilmunya.

Dan orang yang telah mengetahui suatu kebenaran tetapi menentangnya lebih sulit untuk rujuk atau kembali kepada kebenaran dibandingkan dengan orang yang menentang kebenaran karena kebodohannya.

Demikian asal atau penyebab kekafiran Yahudi dan Nashrani , tetapi ini berlaku pada masa yang lalu, namun pada zaman sekarang ini umat Kristen dari berbagaia agama, aliran dan sektenya telah berubah menjadi dimurkai Alloh pula sebagaimana umat Yahudi, karena mereka telah mengetahui kebenaran Islam, tetapi mereka menentangnya. Sehingga umat Yahudi dan umat Nashrani sekarang semuanya adalah dimurkai Alloh.

Dengan demikian seluruh manusia terbagi menjadi 3 golongan :

  1. Golongan orang yang beramal dengan ilmunya, belajar untuk diamalkan, dan inilah golongan yang berada di atas jalan yang lurus.
  2. Golongan orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, inilah golongan yang dimurkai.
  3. Golongan orang yang beramal tanpa ilmu, inilah golongan yang sesat.

Disebutkannya shirothol-mustaqiim yang masih bersifat umum terlebih dahulu kemudian baru menyebutkan صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ yang merupakan rinciannya, dengan tujuan membuat manusia siap untuk menerimanya dan merindukan penjelasan tentang rinciannya.

AMIIN

Kata AAMIIN berbentuk isim fi’il amr yaitu kata benda yang bermakna perintah atau do’a.

Disunnahkan bagi siapa yang membaca Al-Fatihah untuk membaca aamiin. Dari Wail bin Hajr :

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ } فَقَالَ آمِينَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَه

“Aku mendengar Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam membaca غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ , lalu beliau membaca AAMIIN dengan mengeraskan suaranya.” ( HSR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا حَسَدَتْكُمْ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ مَا حَسَدَتْكُمْ عَلَى السَّلامِ وَالتَّأْمِينِ

“Tidaklah Yahudi mendengki terhadap kalian dalam sesuatu pun seperti kedengkiannya terhadap kalian dalam masalah salam dan ucapan aamiin.” ( HSR. Ibnu Majah )

Demikian Surat Al-Fatihah yang terdiri dari 7 ayat namun terangkum di dalamnya seluruh isi Al-Qur’an. Wa aakhiru da’waanaa alhamdulillahi Robbil ‘aalamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: