TUHAN ANAK atau ANAK TUHAN

SEBUAH PENYIMPANGAN DARI AJARAN TAUHID

Di antara penyimpangan dari ajaran tauhid yang dilaku- kan berbagai agama di dunia ini, yaitu keyakinan tentang ada-nya anak Tuhan atau tuhan anak. Dan ini pula sebab utama umat Yahudi dan Nashrani terjerumus ke dalam kesyirikan dan kekafiran. Alloh Ta’ala berfirman :
وَ قَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَ قَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللهِ , ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ , يُضَاهِئُوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ , قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُوْنَ
“ Orang-orang Yahudi berkata : “ ‘Uzair adalah anak Alloh,” dan orang-orang Nashrani berkata : “ Al-Masih ( ‘Isa ) adalah anak Alloh.” Begitulah perkataan yang mereka ucapkan dengan mu-lut-mulut mereka, ucapan mereka menyerupai ucapan orang-orang kafir sebelumnya. Semoga Alloh memerangi mereka ! Bagai mana sampai mereka bisa dipalingkan ? “ ( At-Taubah : 30 )
Orang-orang Yahudi menjadi kafir ketika mereka menganggap ‘Uzair sebagi anak Alloh, lalu mereka pun menyembahnya disam ping menyembah Alloh. Berkata Al-Imam Ibnul-Jauzi rohimahul- loh : “ Faktor yang mendorong mereka berpaling kepada pemaha-man ini, disamping karena kebodohan mereka tentang berbagai hakikat, adalah karena mereka melihat ‘Uzair bisa hidup kemba-li setelah mati dan membaca kitab Taurot dengan hafalannya, kemudian mereka berkata dengan perkataan tersebut berdasar- kan persangkaan-persangkaan yang batil.”
Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh : “ Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia bertanya kepada ‘Abdulloh bin Salam tentang firman Alloh Ta’ala : وَ قَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ بْنُ اللهِ ( dan orang Yahudi berkata : Uzair anak Alloh ), kenapa mereka berkata demikian ? “ ‘Abdulloh bin Salam menyebutkan bahwa dahulu tidak ada se- orangpun dari Bani Isroil yang hafal kitab Taurot, lalu Bani Isroil berkata : “ Nabi Musa tidak mampu mendatangkan Taurot ke- pada kita kecuali dalam bentuk sebuah kitab, sedangkan ‘Uzair mendatangkan Taurot kepada kita dengan tanpa kitab, maka se- kelompok dari mereka melemparkan Taurot dan berkata : “ Uzair adalah anak Alloh ”.
Demikian pula orang-orang Nashrani dari aliran yang mana pun mereka semua meyakini bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis-sa- laam adalah anak Alloh, karena semua Injil yang empat mene- gaskan akan hal tersebut. Bahkan Injil Yohanes sengaja ditulis untuk menegaskan akan hal ini, sebagaimana disebutkan : “Teta pi semua yang tercantum di sini telah dicatat, sampai kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Mereka ha-nya berbeda tentang penafsiran makna “anak Alloh”. Sebagian mereka menafsirkan bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis-salam memang be-nar-benar anak Alloh yang dilahirkan oleh Maryam, dan ini meru pakan pendapat sebagian pengikut aliran Malkaniyyah dan Ya’- qubiyyah. Sebagian lainnya berpendapat bahwa Nabi ‘Isa memili- ki dua substansi, yaitu al-Qodim (yang lama) dan al-Akhir (yang baru), inilah yang umumnya dianut oleh aliran Nasthuriyyah dan sebagian Ya’qubiyyah. Bahkan sebagian kaum Malkaniyyah dan Ya’qubiyyah lainnya meyakini bahwa ‘Isa itulah Alloh.
Dalam sejarah agama Kristen dapat kita ketahui bahwa penetapan Nabi ‘Isa ‘alaihis-salaam sebagai anak Alloh baru ter- jadi di akhir Abad II Masehi. Kemudian pada Konsili di Nicea th. 325 diputuskan untuk menyamakan antara tuhan anak dengan Tuhan Bapa. Pada abad ke-III baru Roh Qudus dipertuhankan. Sementara itu penganut Katholik menyejajarkan Maryam dengan trinitas dalam Konsili di Ephese th. 431.
Di samping itu kita pun bisa mendapati bahwa dalam Injil Lukas ( 3 ) : 38 disebutkan berkenaan dengan silsilah Yesus : “….. anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah”, yaitu Nabi Adam ‘alaihis-salam juga diyakini sebagai anak Alloh.
Berkenaan dengan penuhanan terhadap Nabi ‘Isa, muncul di kalangan kaum muslimin aliran Khobithiyyah yang menyeru pakan Nabi ‘Isa dengan Alloh, dan menganggap bahwa ‘Isa ada- lah tuhan kedua, dan ‘Isa-lah yang akan meng-hisab amalan se-luruh makhluq pada hari Qiyamat.
Keyakinan tentang tuhan anak atau anak Tuhan sebenar- nya telah lama dianut oleh kaum musyrikin. Di antara mereka ada yang meyakini bahwa para malaikat adalah anak perempuan Alloh, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an :
فَاسْتَفْتِهِمْ أ لِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَ لَهُمُ الْبَنُوْنَ , أَمْ خَلَقْنَا الْمَلاَئِكَةَ إِنَاثًا وَ هُمْ شَاهِدُوْنََ
“Tanyakan kepada mereka ( orang-orang musyrikin Mekkah ) : “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk me- reka anak-anak laki-laki ? Atau apakah ( ketika ) Kami mencipta kan para malaikat berupa perempuan mereka ikut menyaksikan- nya ?” [ Qs. Ash-Shoffat : 149–150 ]
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh : “Alloh Ta’ala telah menyebutkan tentang (perkataan mereka yang berkenaan de-ngan) malaikat yaitu tiga perkataan yang merupakan puncak da- ri kekufuran dan kedustaan : Pertama, menjadikan malaikat se- bagai anak-anak Alloh, dengan demikian mereka telah menjadi-kan Alloh mempunyai anak, ( Kedua ) menjadikan anak-anak Alloh berupa perempuan , ( Ketiga ) mereka menyembah para malaikat selain ( menyembah kepada ) Alloh ta’ala wa taqodda- sa. Setiap (satu) dari perkataan tersebut telah mencukupi untuk mengekalkannya di dalam neraka Jahannam.”
Ada pula yang meyakini bahwa berhala-berhala yang sela- lu mereka sembah adalah anak-anak perempuan Alloh, sehingga mereka menamainya dengan nama-nama Alloh yang dibuat da-lam bentuk muannats ( bentuk perempuan ), seperti: الْمَنَاةُ , العُزَّى, الاَّتَ yang diambil dari nama Alloh : الْمَنَّانُ , العَزِيْزُ , اللهُ yang dimuannatskan.
أً فَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَ الْعُزَّى وَ الْمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى ؟ أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَ لَهُ الأُنْثَى ؟
تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزَى
“Apakah pendapat kalian tentang Al-Laata, Al-‘Uzza dan Al-Ma-nat yang ketiga lainnya ? Apakah bagi kalian anak laki-laki, dan bagi Alloh anak perempuan ? Yang demikian tentu merupakan pembagian yang tidak adil.” [ An-Najm : 19 – 20 ]
Di kalangan umat Islam ada pula yang mengaku-aku seba gai anak Alloh, sebagaimana Al-Mughiroh bin Sa’id Al-‘Ijli yang mengaku pernah naik ke langit, lalu Alloh mengusap kepalanya dan berfirman : “Wahai anakku, sampaikanlah dariku !”
Penetapan keyakinan bahwa Alloh memiliki anak sebenarnya ber tujuan agar mereka bisa dibenarkan untuk menyembah kepada selain Alloh. Maha Suci Alloh dari memiliki anak dan sekutu !

[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: