SEDEKAH KOK DILARANG ?

Sedekah bagi kita ummat Islam merupakan kata yang tidak asing, bahkan kita senantiasa saling menganjurkan dan memerintahkan untuk mengamalkannya. Sedekah dalam bahasa arab di kenal dengan sodaqoh yang artinya memberi sedekah/derma ( dengan sesuatu ). Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْا لاتُبطِلُوْا صَدَقَاتِكُمْ بِاالْمَنِّ وَالأذَى كَاالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَالنَّاسِ ……… (سورة البقرة : 264 ) Hai orang-orang yang beriman jangan kamu menghalangi ( pahala ) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti ( perasaan si penerima ) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia….. ( Surat Al Baqoroh : 264 ) Rosululloh j juga bersabda : وَعَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ( اْليَدُ الْعُلْياَ خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَبْدَأْبِمَنْ تَعُوْلُ, وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ مَاكَانَ عَنْ ظَهْرِغِنًى, وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ, وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ) ( رواه البخري و مسلم ) Dari Hakim bin Hizam semoga Alloh meridhoinya dari Rosululloh j beliau bersabda : “ Tangan diatas lebih baik dari tangan yang dibawah . Dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-baik sedekah itu ialah yang dari lebihnya kebutuhan sendiri. Dan barang siapa yang memelihara kehormatannya, maka Alloh akan memeliharanya. Dan barang siapa yang mencukupkan akan dirinya, maka Alloh akan mencukupinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim ) Dari ayat dan hadits yang disebutkan diatas cukuplah bagi kita meyakini bahwa sedekah merupakan bagian dari syariat Islam yang sangat mulia, Alloh memerintahkannya serta Rosululloh juga menganjurkannya. Sedekah kok dilarang ? setidaknya perkataan itulah yang pernah penulis dengar, demikianlah pernyataan sebagian masyarakat kita yang punya semangat tinggi ingin melaksanakan syiar Islam yaitu sedekah. Kenapa dilarang ? karena sedekah yang dimaksudkan adalah “ sedekah laut”, yaitu kegiatan yang berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi dangan aneka lauk dan kembang yang kemudian dihanyutkan di laut selatan disertai dengan persembahan kepala kerbau. Semua itu dipersembahkan kepada “ Ratu Laut Selatan” agar mereka mendapatkan berkah dengan banyaknya hasil tangkapan dan dijauhkan dari mara bahaya. Perhatikan wahai saudaraku beberapa penyimpangan aqidah dalam ritual ini, yang secara tidak sadar membawa mereka kejurang kesyirikan yang dapat membatalkan kesempurnaan tauhid: yang pertama dengan keyakinan tersebut mereka meyakini bahwa ada dzat yang dapat memberikan rizqi selain Alloh, yang kedua dengan ritual ini berarti mereka meyakini ada dzat yang dapat memberikan manfa’at dan mudhorot selain Alloh, padahal semua itu adalah hak prerogatif Alloh. Dengan demikian pelaku ritual sedekah laut adalah lebih bodoh dari pada kaum musyrikin jaman jahiliyyah, karena kaum musrikin pada masa jahiliyyah ketika ditanyakan kepada mereka siapa yang telah memberikan rizqi kepada mereka, maka serta merta mereka akan berkata Alloh ! sebagaimana firman Alloh dalam surat sehingga dengan disengaja atau tidak mereka telah terjerumus kedalam peribadahan kepada selain Alloh yaitu dengan memberikan hak memberi rizqi dan memberikan manfa’at serta mudhorot yang merupakan hak prerogatif Alloh kepada selain Alloh ( Ratu Pantai selatan ). Mereka menganggap sedekah laut itu adalah bagian dari Islam, buktinya acara ini di ikuti oleh mayoritas ummat Islam dan yang berdo’apun para kyai, keyakinan ini begitu merasuk kedalam kehidupan masyarakat kita sehingga kegiatan ini menjadi ritual tahunan yang wajib dilaksanakan. Padahal didalamnya terdapat banyak sekali kesyirikan dan penyimpangan yang mengatas namakan Islam. Ketahuilah bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ibadah kepadaNya, itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh ummat manusia dan hanya untuk itu sebenarnya mereka diciptakan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala : ]وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإنْسَ إلا لِيَعْبُدُوْنِ[. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku.” (QS. Az-Zariyat : 56). Ibadah, dalam ayat ini, artinya : tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah untuk Allah semata-mata. Sedang larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu : menyembah selain Allah di samping menyembahNya. Allah Ta’ala berfirman : ]وَاعْبدُوُا اللهَ وَلا تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا[ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu denganNya.” (QS. An-nisa; : 36). Alloh Subhanahu Wa Ta’ala juga menegaskan dalam firmannya: ]إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ[(54) سورة الأعراف. “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha suci Allah Tuhan semesta alam.” (surah Al-A’raf : 54). Tuhan inilah yang haq untuk disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ فَلا تَجْعَلُوا ِللهِ أَنْدَادًا وَّأَنْتُمْ تَعْمِلُوْنَ [. “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Robb) yang telah menjadikan untukmu bumi ini sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mngetahui.” (surah Al-Baqarah: 21-22). Karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Alloh, maka ia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala : ]وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكاَفِرُوْنَ[. “Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Mu’minun: 117). Maka dari itu ketahuilah wahai saudaraku, bahwasannya sedekah laut itu bukan bagian dari Islam, ditinjau dari sudut pandang manapun sedekah laut tidak dapat dikaitkan dengan Islam sedikitpun. Mungkin ada orang yang mengajak anda untuk melihat-lihat saja tetapi hati tidak ikut membenarkannya, maka jika anda berpikir tidak ikut dalam ritual itu tetapi hanya melihat-lihat keramaiannya saja, itu semua sama saja sebab sukses tidaknya suatu acara dilihat dari penontonnya/pengunjungnya, perhatikanlah jika suatu acara tidak ada yang mau untuk menontonnya pasti panitianya tidak akan melaksanakannya pada waktu yang akan datang karena dianggap kurang prospektif, tapi jika dalam suatu acara dikunjungi oleh banyak orang maka panitia akan merasa sukses dan akan senantiasa menyelenggarakan kegiatan tersebut. Maka dari itu wahai saudaraku marilah kita cegah kemungkaran dengan diawali dari diri kita masing-masing, insya Alloh jika jika setiap individu ummat Islam tidak ada yang mau menyaksikan acara kesyirikan tersebut, maka cepat atau lambat acara tersebut akan hilang dari kebiasaan masyarakat kita. Demikianlah wahai saudaraku apa yang dapat kami sampaikan. Dan sebagai kesimpulan dari penjelasan diatas, bahwasanya sedekah laut bukanlah bagian dari Islam sedikitpun. Maka tidak selayaknya kaum muslimin yang berakal sehat ikut memakmurkan dan menyemarakan ritual tersebut, yang akan menyeret pelakunya kepada sesuatu yang diharamkan oleh Alloh yaitu melestarikan kegiatan syirik.

Wallohu Muwaffiq

Abu Nabila

Maroji :

Al Qur’an Al Karim

Kitab Usuluts tsalasah

Buletin Alfurqon Volume 9 No. 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: