TAFWIDH

Sebagian juhala’ dari kalangan ahli kalam memandang tafwidh sebagai cara yang paling aman dalam mengimani asma’ dan shifat Alloh. Padahal cara ini adalah cara yang paling banci sebagaimana diungkapkan oleh sebagian ‘ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Ada pun pernyataan Imam Al-Baihaqi dalam Al-I’tiqod dan Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqon yang menganggap tafwidh adalah metodenya para Salaf, adalah sebuah kekeliruan besar dari mereka berdua. Kekeliruan serupa juga dilakukan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani yang menganggap bahwa taf-widh adalah madzhab mayoritas para Salaf. Sehingga menjadikan beliau bersikap tidak konsisten dalam mensyarah hadits-hadits shifat dalam ki-tab Fathul-Bari-nya. Semoga Alloh mengampuni mereka semua. Sedang- kan apa yang ditulis oleh Muhammad ‘Adil ‘Azizah dalam kitabnya ‘Aqidah Al-Imam Al-Hafizh Ibni Katsir min Aimmah As-Salaf Ash-Sholih fi Ayat Ash-Shifat yang menyebutkan bahwa tafwidh adalah metodenya Ibnu Katsir dan para Salaf dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah sebuah kebohongan besar darinya, dan telah dibantah serta dibongkar kedustaan- nya oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Rozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al-Badr dalam risalahnya Tanbihat ‘ala Risalah Muhammad ‘Azizah fi Ash-Shifat. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh dalam Dar-ut-Ta’arudh mengatakan : “Maka telah jelaslah bahwasanya perkataan Ahli Tafwidh yang menganggap bahwa mereka mengikuti Sunnah dan Salaf termasuk dari sejelek-jeleknya ucapan Ahli Bid’ah wal-Ilhad.”

Lalu, apa makna dari tafwidh ? Tafwidh adalah mashdar dari kata فوّض yang bermakna menyerahkan kepadanya dan menjadikannya sebagai hakimnya, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an : وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ “dan aku menyerahkan urusanku kepada Alloh” – Qs. Al-Mu’min : 44 -. Se-dangkan menurut istilah, tafwidh yaitu : menghukumi bahwa makna nash nash tentang sifat-sifat Alloh adalah majhul ( yaitu tidak diketahui arti-nya ), tidak terjangkau oleh akal dan hanya Alloh yang tahu artinya. Pe-mahaman tafwidh ini sebenarnya sama dengan hanya beriman dengan la-fazh sifat-sifat Alloh U yang tersebut dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tidak mau mengimani maknanya. Inilah tafwidh makna yang terce- la. Ada pun mengimani lafazh dan makna, namun menyerahkan hakekat bentuknya kepada Alloh I yang ini disebut tafwid kaifiyyat maka inilah madzhabnya para Salaf, karena Al-Qur’an turun dengan lafazh berikut maknanya, namun hakekat bentuk sifat Alloh I tidak ada yang mengeta-huinya selain Alloh Y sendiri.

Tafwidh makna adalah pemahaman yang banyak dianut oleh para mutakallimin [1] , terutama dari golongan Asy’ariyah [2] . Kaum mufawwi-dhoh mengaku beriman dengan semua lafazh-lafazh tentang sifat-sifat Alloh yang tersebut di dalam Al-Qur’an, seperti lafazh يَدُ الله , عَيْنٌ , وَجْهُ الله dan lain-lainnya, tetapi mereka tidak mau mengimani bahwa makna يَدٌ adalah tangan, makna عَيْنٌ adalah mata, makna وَجْهٌ adalah wajah, dan lain lainnya. Mereka beranggapan bahwa lafazh-lafazh tersebut tidak memili-ki makna yang dapat difahami oleh manusia, tetapi hanya Alloh semata yang mengetahuinya. Mereka bersikap demikian dengan dalih kehati-hati an dalam menetapkan sifat bagi Alloh agar tidak menyamakan dengan makhluk.

Demikian argumentasi mereka yang dangkal, namun mengundang decak kekaguman dari orang-orang yang tertipu dengan sikap mereka, la-lu menganggap bahwa madzhab ahli tafwidh adalah lebih selamat !!!

Sebenarnya yang dimaui oleh para mufawwidhoh adalah menolak sifat-sifat bagi Alloh I tetapi tidak dengan terang-terangan seperti kaum mu’aththilah [3] dan tidak pula berani mengganti maknanya sebagaimana kaum muawwilah [4] . Pada hakekatnya mereka adalah madzhab yang pa-ling banci !!!

Sesungguhnya Alloh menurunkan Al-Qur’an bukan sekedar la-fazh-lafazh tanpa makna, tetapi lafazh berikut maknanya, sehingga diwa-jibkan bagi kita untuk mentadabburi yaitu memikirkan dan merenungkan maknanya, sebagaimana firman Alloh Y :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوْا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الأَلْبَابِ

“Sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh berkah agar mereka memikirkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang memiliki ha ti menjadi ingat.” ( Qs. Shod : 29 )

Dan Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa ‘Arab yang terang, sehingga makna-maknanya akan dapat difahami dengan penguasaan bahasa ‘Arab yang bagus, sebagaimana firman Alloh I :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa ‘Arab agar kalian memikirkannya.” ( Qs. Yusuf : 2 )

Sehingga bila ada anggapan bahwa sebagian lafazh dalam Al-Qur’an ti-dak dapat atau tidak boleh difahami maknanya maka anggapan ini berten tangan dengan pernyataan Al-Qur’an :

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آَيَاتُهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Sebuah Kitab yang telah diterangkan ayat-ayatnya sebagai Al-Qur’an yang berbahasa ‘arab untuk orang-orang yang berilmu.”

( Qs. Fushshilat : 3 )

Bahkan Rosululloh r juga telah menjelaskan ayat-ayat sifat tersebut de-ngan terang dalam hadits-haditsnya. Apakah kata-kata Rosululloh r sepu tar sifat-sifat Alloh U juga tidak dapat difahami oleh kita ?

Bila pendapat kaum mufawwidhoh benar, kenapa hanya lafazh-lafazh sifat Alloh I saja yang tidak dapat difahami sedangkan yang lain-nya bisa ? Padahal semuanya menggunakan bahasa arab yang terang ?!!! Apakah ada dalil yang menerangkan bahwa lafazh-lafazh sifat tidak me-miliki makna, sedangkan yang lainnya memiliki makna ?!!! Sehingga bi-la kita fahami secara teliti pendapat kaum mufawwidhoh ini, sama de-ngan beriman dengan sebagian makna Al-Qur’an dan mengingkari seba-gian makna Al-Qur’an yang lainnya.

[ ’Abdulloh A. Darwanto ]


[1] Mutakallim atau ahli kalam yaitu penganut ilmu kalam, yaitu ilmu tentang ‘aqidah yang disandarkan kepada kaidah-kaidah logika akal ( ilmu manthiq ).

[2] Golongan yang mengikuti pemahaman Abul-Hasan Al-Asy’ari setelah keluarnya be-liau dari golongan Mu’tazilah ( Rasionalis ) dan sebelum beliau rujuk kembali ke madz- hab Salaf di akhir hidupnya.

[3] Ahli Ta’thil, yaitu golongan yang terang-terangan menolak sifat-sifat Alloh.

[4] Ahli Ta’wil, yaitu golongan yang memalingkan makna lafazh sifat Alloh ke makna yang lainnya yang bukan sebenarnya atau yang sangat jauh dari makna asalnya. Seperti mengartikan “tangan Alloh” dengan “kekuasaan Alloh”.

Satu Tanggapan

  1. Assalamu alaikum
    1……. Saudaraku… pendapat saudara adalah salah satu pendapat dari 3 pendapat yang selama ini bisa di terima walaupun ke tiga pendapat itu dak dapat di gabung.

    2……..Ada sebagian pendapat yang memang tdk bisa di terima, seperti pendapat kaum atau golongan mujassimah… Mereka menafsirkan ayat2 sifat dengan makna lahiririah dari suatu lafadz. sehingga kata2 yadung, wajhung dll dimaknai secara lahiriah, menyamai sifat Allah dengan Sifat manusia…seperti pendapat inilah yang tdk di bolehj kan

    3……ke 3 pendapat yang masih bisa benar…
    A. Tafwidh
    B. Tafwidh Makna sebagaimana istilah saudara
    C. Ta’Wil

    4….Kata2 juhala yang di nisbahkan kepada para Ulama, Saya harap untuk di hindari

    5.makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: