PERTOBATAN TUKANG SIHIR FIR’AUN

Setelah pertandingan antara para tukang sihir Fir’aun dengan Nabi Musa terjadi, akhirnya para tukang sihir Fir’aun pun mengaku ka-lah dan mengakui bahwa Musa dan Harun bukan penyihir tetapi Nabi Alloh yang datang dengan membawa mu’jizat.
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى
“Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata : “Ka- mi telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.” ( Qs. Thoha : 70 )
Setelah melihat kebenaran yang nyata, maka segera saja para tukang sihir itu sa dar dan menyatakan beriman seraya sujud kepada Alloh  .
قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى
“Berkata Fir’aun : “Apakah kalian telah beriman kepadanya ( Musa ) se-belum aku memberi izin kepada kamu sekalian ?! Sesungguhnya ia ada- lah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka se-sungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian de-ngan bersilang secara bertimbal-balik, dan sesungguhnya aku akan me-nyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya ka lian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih ke-kal siksanya !” ( Qs. Thoha : 71 )
Begitu Fir’aun mengancam para tukang sihirnya yang beriman kepada Alloh. Bahkan Fir’aun menuduh Musa yang telah mengajari sihir kepa-da para penyihir itu sehingga suatu kewajaran bila Musa menang mela-wan mereka semua, atau terjadi konspirasi di balik itu. Demikian fitnah yang biasa dilontarkan oleh orang yang kehabisan argumentasi karena takut kehilangan muka di hadapan umum.
قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
“Mereka berkata : “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu da- ripada bukti-bukti yang nyata ( yakni mu’jizat ), yang telah datang kepa- da kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami, maka putus kanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.”
( Qs. Thoha : 72 )
Para penyihir yang telah mengetahui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Harun lalu bersegera beriman berdasarkan il-munya. Karena kekuatan ilmu inilah keimanan mereka tidak tergoyah-kan oleh ancaman Fir’aun. Demikianlah keadaan bila iman telah mere-sap ke dalam hati.
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَ أَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَ أَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga perkara yang barangsiapa yang ada padanya ketiga perkara terse-but niscaya dia akan mendapati manisnya iman, yaitu : bila Alloh dan Rosul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dia mencintai sese- orang semata-mata karena Alloh, dan dia membenci kembali kepada ke-kafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”
( HR. Al-Bukhori dan Muslim )
Dan begitulah fungsi dari mu’jizat, yaitu melemahkan argumentasi mu-suh-musuh Alloh sehingga bagi orang yang bersih hatinya dan jernih akalnya lebih memilih mengikuti kebenaran daripada dipaksa untuk melakukan kebatilan yang tentu saja bertentangan dengan hati nurani-nya. Semua itu bisa terjadi karena hidayah dan petunjuk dari Alloh  .
إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia meng ampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Alloh lebih baik ( pahala-Nya ) dan le- bih kekal ( azab-Nya ).” ( Qs. Thoha : 73 )
Demikian semestinya, memohon ampun dilakukan setelah pernyataan beriman, sebagaimana firman Alloh  :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ اسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ
“Ketahuilah dengan ilmu bahwasannya tidak ada satu sesembahan pun yang layak disembah selain Alloh, dan minta ampunlah atas dosamu, dan untuk kaum mu’minin dan mu’minat.” ( Qs. Muhammad : 19 )
Begitu juga dengan semua amalan yang lainnya, karena siapa pun yang belum beriman maka Alloh  tidak akan menerima amalannya sedikit pun, apa pun yang dia amalkan, sebagaimana firman Alloh  :
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa yang mengingkari keimanan maka sesungguhnya ber guguran amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang me-rugi.” ( Qs. Al-Maidah : 5 )
Sehingga iman termasuk syarat diterimanya amalan seseorang.
Kemudian tukang-tukang sihir tersebut berkata :
إِنَّهُ مَن يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لاَ يَمُوتُ فِيهَا وَ لاَ يَحْيى
“Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak ( pula ) hidup.” ( Qs. Thoha : 74 )
Yakni bila sampai mereka atau siapa pun datang menghadap Alloh da-lam keadaan membawa sekian banyak dosa, niscaya mereka akan men-dapatkan azab atau siksa yang lebih pedih daripada siksaan Fir’aun. Se-pedih-pedihnya siksaan Fir’aun masih tidak ada apa-apanya dibanding-kan dengan siksaan Alloh di dalam neraka Jahannam. Sampai digambar kan dengan “tidak mati dan tidak hidup”, yaitu tidak bisa dikatakan mati karena memang sudah tidak ada lagi kematian, sehingga setiap saat ter-dengar jeritan dan lolongan penghuni neraka yang menunjukkan mere-ka tidak pernah mati. Tetapi tidak pantas pula dikatakan hidup karena tubuhnya gosong dan hancur sehingga menurut akal tidak mungkin me reka dianggap hidup dalam kondisi seperti itu. Tetapi setiap gosong dan hancur tubuh mereka di dalam neraka, Alloh sempurnakan lagi tubuh-nya untuk kembali menerima azab yang kekal abadi.
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاء مَن تَزَكَّى
“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, la- gi sungguh-sungguh telah beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi ( mulia ), ( yaitu ) syurga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih ( dari keka- firan dan kemaksiatan).” ( Qs. Thoha : 76 – 77 )
Kebalikan dari para pendosa, maka setiap orang yang beriman akan mendapatkan pahala berupa syurga Alloh yang penuh dengan kenikma tan. Sehingga dibandingkan dengan siksaan yang diterima dari Fir’aun maka syurga Alloh lebih baik dan lebih utama, oleh karena itu Rosulul-loh  bersabda :
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia adalah penjaranya orang beriman dan syurganya orang kafir.”
( HR. Ahmad, Muslim, Ath-Tirmidzi dan Ibnu Majah )
Yang demikian karena bagaimana pun kesenangan yang mungkin dira- sakan oleh orang mu’min di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesenangan yang bakal dia terima di akhirat. Sebaliknya, pende-ritaan apa pun dari seorang kafir di dunia tidak lebih berat disbanding-kan dengan penderitaan yang bakal ia terima di akhirat kelak.

[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: