MENGENAL AL_QUR’AN

Al-Qur’an berasal dari kata قَرَأَ يَقْرَأُ قُرْآنًا yang bermakna “membaca” atau “mengumpulkan”. Sehingga Al-Qur’an merupakan bacaan yang berisi kumpulan berita dan hukum. Sedangkan menurut istilah syari’at Al-Qur’an adalah : “Firman Alloh ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang diawali dengan Surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat An-Naas ”.
PERBEDAAN AL-QUR’AN DENGAN HADITS QUDSI
Al-Qur’an dan Hadits Qudsi sama-sama firman Alloh, dan sama-sama diriwayatkan oleh Nabi Muhammad saw, perbedaannya adalah :
1. Al-Qur’an termasuk firman Alloh yang tercakup dalam mushhaf sebagaimana yang Alloh kehendaki, sedangkan Hadits Qudsi tidak termasuk dalam isi mushhaf.
2. Bunyi dan makna Al-Qur’an sudah baku sebagaimana datang dari sisi Alloh, sedangkan Hadits Qudsi hanya riwayat secara makna sedangkan bunyinya tidak baku dari Alloh ta’ala.
3. Al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir, sedangkan riwayat Hadits Qudsi tidak mencapai derajat mutawatir.
4. Membaca Al-Qur’an harus menggunakan kaidah ilmu tajwid, sedangkan membaca Hadits Qudsi tidak perlu memakai tajwid.
PENJAGAAN KEASLIAN AL-QUR’AN
Al-Qur’an adalah kitab suci yang lansung mendapatkan jaminan penjagaan dari Alloh, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kami Yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” ( Qs. Al-Hijr : 9 )
Bukti yang lainnya tentang jaminan keaslian Al-Qur’an adalah diturunkannya Al-Qur’an dalam bahasa ‘arab yang vonemis, yang mana perubahan satu ketukan kata bisa merubah arti atau maknanya. Dan Al-Qur’an sejak awal diturunkan hingga hari ini masih tetap berbahasa ‘arab sebagaimana saat awal diturunkan. Oleh karena itu para pakar theologi dari berbagai agama mengakui bahwa hanya ada satu kitab suci yang ada di dunia ini yang tidak mengalami perubahan sedikit pun, yaitu Al-Qur’an.
Bukti lain tentang jaminan keaslian Al-Qur’an adalah kejelasan tentang sejarah penulisan Al-Qur’an sejak dari awal diturunkan hingga hari ini.
SEJARAH PENULISAN AL-QUR’AN
Al-Qur’an sudah ditulis pada zaman Nabi Muhammad saw masih hidup, baik atas perintah beliau kepada para sekretarisnya atau pun atas inisiatif pribadi para Shahabat ra. Sehingga ketika Nabi Muhammad saw masih hidup, Al-Qur’an sudah dihafal oleh ratusan orang dan ditulis oleh para Shahabat. Dan untuk menghindari kesalahan penulisan Al-Qur’an. Nabi Muhammad saw melarang kepada khalayak umum untuk menulis hadits, sebagaimana sabda beliau :
لا تَكْتُبُوْا عَنِّيْ وَ مَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَ حَدِّثُوْا عَنِّيْ وَ لا حَرَجَ وَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Jangan;ah kalian menulis dariku ! Barangsiapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaklah dia menghapusnya ! Dan beritakanlah hadits dariku, maka dia tidak berdosa. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari api neraka !” ( HR. Muslim )
Periwayatan hadits di zaman itu hanya boleh secara makna, tidak dengan tulisan, kecuali beberapa orang saja yang diyakini tidak akan tercampur antara tulisan haditsnya dengan tulisan Al-Qur’an yang boleh menulis hadits. Sedangkan penulisan Al-Qur’an hampir dilakukan oleh seluruh shahabat Nabi saw .
Pada zaman Kholifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, yaitu ketika banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan juang, shahabat ‘Umar bin Al-Khoththob ra mengusulkan kepada Abu Bakar ra untuk menghimpun semua catatan Al-Qur’an menjadi satu buah mushhaf agar Al-Qur’an tidak musnah. Maka Abu Bakar ra menugaskan shahabat Zaid bin Tsabit ra yang juga seorang penghafal Al-Qur’an yang diakui oleh semua kalangan untuk melaksanakan tugas pengumpulan Al-Qur’an ini. Zaid bin Tsabit ra segera mengumpulkan Al-Qur’an dengan metode yang sangat teliti, yaitu sebuah ayat baru bisa dia tulis ketika telah ada minimal sebuah catatan dan kesaksian 2 orang yang menghafalkan ayat tersebut. Karena itulah tugas ini memakan waktu yang lama. Kemudian hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar ra. Sepeninggal Abu Bakar ra, mushhaf tersebut disimpan oleh kholifah berikutnya yaitu ‘Umar ra.Dan setelah ‘Umar bin Al-Khoththob ra wafat, mushhaf disimpan oleh Hafshoh isteri Rosululloh saw.
Ketika zaman Kholifah ‘Utsman bin ‘Affan ra yang mana ketika itu wilayah kaum muslimin sudah sangat luas meliputi berbagai bangsa dengan dialek bahasa yang berbeda-beda, muncul permasalahan baru, yaitu perbedaan dialek ( lahjah ) dalam membaca Al-Qur’an. Persoalan ini dilaporkan oleh shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman ra kepada kholifah ‘Utsman ra Kemudian ‘Utsman membentuk sebuah tiem penggandaan Al-Qur’an dengan penyeragaman dialek yaitu dengan dialek yang Al-Qur’an diturunkan dengannya, yaitu dialek Quroisy. Ditunjuklah Zaid bin Tsabit, ‘Abdulloh bin Az-Zubair, Sa’id bin Al-‘Ash dan ‘Abdur Rohman bin Al-Harits bin Hisyam ra untuk menyalin mushhaf yang ada di tangan Hafshoh untuk digandakan menjadi lima buah dan dikirimkan ke beberapa daerah sebagai panduan bacaan di sana.
Setelah itu, Al-Qur’an terus-menerus digandakan dan dihafalkan oleh berjuta orang di setiap zamannya. Bahkan di setiap Negara ada sebuah panitia yang khusus bertugas mengontrol setiap percetakan Al-Qur’an supaya tetap sesuai dengan bunyi ketika pertama kali diturunkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: