HUKUMAN UNTUK FIR’AUN

Nasihat terus diberikan oleh orang dekat Fir’aun yang sudah me- ngikuti da’wah Nabi Musa dan Nabi Harun. Tetapi kesombongan Fir’aun menghalanginya dari menerima nasihat tersebut.

وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ

“Hai kaumku, bagaimanakah kalian ? Aku menyeru kalian kepada kesela matan, tapi kalian malah menyeru aku ke neraka ?” ( Qs Al-Mu’min : 41 )

Demikian keadaan orang-orang yang tidak beriman, tatkala diajak kepada kebaikan, mereka menolak, bahkan balik mengajak kepada kekafiran.

تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ

“( Kenapa ) kalian menyeruku supaya kafir kepada Alloh dan memperse-kutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru ka-lian ( beriman ) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun ?”

( Qs. Al-Mu’min : 42 )

Yang demikian karena syetan telah memperdaya mereka sehingga mere-ka berubah menjadi antek-antek syetan yang menyeru kepada kekafiran dan neraka, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Begitulah, Kami telah menjadikan bagi setiap nabi ada musuh-musuh yang berupa syetan dari kalangan manusia dan  jin yang sebagiannya membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan yang indah tetapi meni- pu.”                                                                                ( Qs. Al-An’am : 112 )

Syetan-syetan jin bala tentara Iblis membisikakkan godaan dan penyesa- tan kepada Fir’aun dan bala tentaranya, kemudian diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya mengajak manusia berbuat syirik dan kekafiran.

لا جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ

“Sudah pasti bahwa apa yang kalian seru supaya aku ( beriman ) kepada- nya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Alloh dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka.”

( Qs. Al-Mu’min : 43 )

Memang seruan Fir’aun dan bala tentaranya untuk berbuat syirik dan ke-kafiran tidak memiliki kekuatan ilmiyah sebuah hujjah, namun kekuasaan dan tipu daya dengan kata-kata yang menipu menyebabkan banyak orang yang terpedaya. Padahal semuanya itu hanyalah persangkaan kosong.

أَلا إِنَّ لِلّهِ مَن فِي السَّمَاوَات وَمَن فِي الأَرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ شُرَكَاء إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Alloh semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Alloh, tidaklah mengikuti ( suatu keyakinan ). Mereka tidak mengi kuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.”

( Qs. Yunus : 66 )

Seperti yang baru-baru terjadi, ketika banyak orang menganggap bahwa batu Ponari mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Padahal sete lah diteliti oleh dunia kedokteran, tidak ada sama sekali khasiat pada batu Ponari itu. Semua itu hanyalah persangkaan orang-orang yang bodoh dan jauh dari ilmu dan iman.

Karena badelnya Fir’aun dan bala tentaranya, orang beriman dari kaum Fir’aun yang menasihati Fir’aun akhirnya berkata :

فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Kelak kalian akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kalian. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”                               ( Qs. Al-Mu’min : 44 )

Yakni nanti pada hari Qiyamat, setiap orang yang mendustakan kebena- ran akan melihat apa yang selalu mereka dustakan. Mereka menyesal, te-tapi penyesalan yang terlambat.

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Mereka berkata : “Seandainya dahulu ( di dunia ) kami mau mendengar ( seruan da’wah kebenaran ) atau kami mau berfikir ( tentangnya ) nisca-ya kami tidak akan menjadi penghuni neraka Sa’ir.”   ( Qs. Al-Mulk : 10 )

Kesombongan dan sikap taqlid ( ikut-ikutan ) kepada tradisi nenek mo-yang yang tidak berilmu adalah penyebab utama dari penyesalan di akhi- rat. Demikian pula setiap orang yang menolak kebenaran dengan alasan taqlid akan mendapatlan azab, bahkan sejak dari dalam kuburnya. Karena di antara pertanyaan kubur adalah : “Apa ilmumu ?”

وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوْ الْمُرْتَابُ فَيَقُولُ لا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

“Ada pun orang munafiq atau orang yang ragu, dia menjawab : “Aku ti-dak tahu, aku hanya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lantas aku ikut mengatakannya.”     ( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Ibnu Majah )

Itulah di antara penyebab azab qubur dan azab akhirat, yaitu taqlid.

Keingkaran dan kesombongan Fir’aun dan bala tentaranya menja- dikan turunnya hukuman dari Alloh U :

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَونَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِّن الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum ( Fir’aun dan ) kaumnya de- ngan ( mendatangkan ) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.” ( Qs Al-A’rof : 130 )

Musim kemarau yang panjang serta kondisi kurang pangan bisa jadi me-rupakan hukuman dari Alloh Y . Oleh karena itu sangat dianjurkan bagi suatu daerah yang tertimpa paceklik untuk memperbanyak istighfar dan taubat sebelum melaksanakan sholat istisqo’ atau sholat minta hujan.

Fir’aun dan bala tentaranya yang banyak berbuat dosa kepada Alloh mau pun kepada sesama manusia akhirnya mendapatkan hukuman dari Alloh agar segera sadar dan bertaubat. Tetapi ternyata hukuman ini tidak mem-pan, bahkan menambah keingkaran Fir’aun dan bala tentaranya.

فَإِذَا جَاءتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُواْ لَنَا هَـذِهِ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَى وَمَن مَّعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللّهُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena ( usaha ) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah keteta- pan dari Alloh, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

( Qs. Al-A’rof : 131 )

Inilah di antara bentuk kesombongan dan keingkaran Fir’aun. Dia tetap berupaya mencari pembenaran untuk dirinya sambil mencari kambing hi-tam untuk menyelamatkan wibawanya di hadapan rakyatnya. Musa, Ha-run dan orang-orang yang beriman yang selalu dijadikan kambing hitam atas musibah dan kemarau panjang yang menimpa mereka. Tujuannya je-las, yaitu menjauhkan rakyatnya dari da’wah Nabi Musa dan Nabi Harun, sehingga rakyatnya tetap setia kepada Fir’aun dan ajarannya.

Tindakan serupa juga banyak dilakukan oleh para penganut klenik yang selalu menyalahkan orang-orang yang tidak mau memberikan sesajen ke-pada berhala mereka ketika turun suatu musibah. Padahal semua itu ada-lah hukuman dari Alloh Y untuk menyadarkan mereka.

( ‘Abdulloh A. Darwanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: