Mengenal Hadits Nabi saw

Hadits ( الحديث ) menurut bahasa bermakna “ baru ”. Menurut istilah para ulama ahli hadits yaitu : “Apa saja yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw baik yang berupa perkataan, perbuatan, persetujuan ( taqrir ) maupun sifat-sifat beliau.”
Hadits disebut pula dengan beberapa nama yang lain, yaitu :
1. Sunnah ( السنة )
2. Khobar ( الخبر ), namun dalam perkembangannya istilah Khobar lebih umum meliputi semua berita, dari Nabi saw atau pun dari selain beliau.
3. Atsar ( الأثر ), namuan dalam perkembangannya istilah atsar lebih banyak dipakai untuk penukilan dari para Shahabat ra, para Tabi’in dan para ‘ulama Salaf lainnya.
Ulama ahli hadits disebut Muhaddits ( المحدث ).
BEBERAPA ISTILAH PENTING
Hadits terbagi menjadi dua bagian, yaitu Sanad ( السَّنَدُ ) dan Matan ( الْمَتْنُ ). Sanad adalah susunan para perowi suatu hadits, disebut pula dengan isnad ( الإسناد ). Rowi ( الراوي ) yaitu orang yang meriwayatkan hadits. Dan Matan adalah bunyi teks dari hadits. Contoh :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَ إ ِنَّمَا ِلامْرِئٍ مَا نَوَى
“ ‘Abdulloh bin Maslamah bin Qo’nab telah bercerita kepada kami : Malik telah bercerita kepada kami dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Ibrohim dari ‘Alqomah bin Waqqosh dari ‘Umar bin Al-Khoththob, dia berkata : “Rosululloh saw bersabda : “Sesungguhnya amalan-amalan itu hanya bergantung kepada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan.”
Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shohih-nya.
Perkataan Imam Muslim dari sejak ‘Abdulloh bin Maslamah bin Qo’nab telah bercerita kepada kami hingga dari ‘Umar bin Al-Khoththob disebut dengan Sanad. Bunyi sabda Rosululloh saw disebut Matan.
Imam Muslim yang mengeluarkan hadits ini dalam kitabnya, maka dia disebut Mukhorrij ( المخرج ). Kemudian awal sanad dimulai dari rowi terdekat dengan Mukhorrij, yaitu ‘Abdulloh bin Maslamah, dan akhir sanad adalah rowi yang terjauh yaitu ‘Umar bin Al-Khoththob.
Ilmu Hadits terbagi dua yaitu ilmu tentang seluk-beluk sanad dan matan hadits untuk menentukan keshohihan hadits disebut Ilmu Hadits Diroyat atau Mushtholah Hadits. Sedang ilmu hadits yang membahas tentang makna dari hadits-hadits Nabi saw disebut Ilmu Hadits Riwayat.
SEJARAH PENULISAN HADITS
Hadits Nabi saw memang belum ditulis secara umum pada zaman Nabi saw masih hidup, karena ketika itu Al-Qur’an masih dalam proses diturunkan dan diurutkan. Bahkan Nabi saw melarang masyarakat umum dari menulis hadits, sebagaimana sabdanya :
لا تَكْتُبُوْا عَنِّيْ وَ مَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَ حَدِّثُوْا عَنِّيْ وَ لا حَرَجَ وَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Janganlah kalian menulis sesuatu pun dariku, barangsiapa yang telah menulis dariku selain Al-Qur’an hendaklah dia menghapusnya, dan beritakanlah hadits dariku, yang demikian tidak berdosa, namun barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari api neraka.” ( HR. Muslim )
Larangan penulisan hadits ini dimaksudkan untuk menjaga agar tidak tercampur antara tulisan Al-Qur’an dengan tulisan hadits.
Walaupun demikian, Nabi saw memberikan izin kepada orang-orang tertentu untuk menulis hadits yang diyakini tidak akan terjadi tercampurnya tulisan Al-Qur’an dengan tulisan hadits pada mereka. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat :
فَقَامَ أَبُو شَاهٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ : اكْتُبُوْا لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اكْتُبُوْا لأَبِيْ شَاهٍ
“Berdirilah Abu Syah, yakni seorang laki-laki dari penduduk Yaman, dia berkata : “Tuliskan untukku, wahai Rosullulloh !” Maka Rosululloh saw bersabda : “Tuliskan untuk Abu Syah !” ( HR. Al-Bukhori dan Abu Dawud )
Meskipun demikian, hadits Nabi saw tetap dihafal dan diriwayatkan oleh para Shahabat ra, karena Nabi saw bersabda :
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ
“Semoga Alloh menjadikan putih cemerlang seseorang yang mendengar sebuah hadits dari kami, kemudian menghafalkan dan menyampaikannya karena mungkin saja terjadi orang membawa ilmu kepada orang yang lebih faham darinya, dan mungkin terjadi orang yang membawa ilmu tidak faham tentang ilmunya itu.” ( HSR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, danAl-Hakim )
Rosululloh saw juga memerintahkan untuk meriwayatkan hadits :
أَلا لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ يُبَلِّغُهُ يَكُوْنُ أَوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ
“Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena mungkin terjadi sebagian orang yang disampaikan ( hadits ) kepadanya lebih menguasai daripada sebagian orang yang mendengarnya ( langsung ).” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, dan Ibnu Majah )
Namun begitu Rosululloh saw tetap memerintahkan kepada para Shahabat agar tetap selektif dalam menyampaikan hadits :
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap pendusta bila dia memberitakan setiap apa yang dia dengar.” ( HR. Muslim )
Dalam riwayat yang lain disebutkan :
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukup seseorang dianggap berdosa bila dia memberitakan setiap apa yang dia dengar.” ( HSR. Abu Dawud )
Sehingga Hadits Nabi saw pada zaman beliau dan zaman Al-Khulafa Ar-Rosyidin dijaga dengan cara dihafal dan diriwayatkan secara hati-hati agar tidak terjadi kesalahan.
Saat terjadi konflik pada zaman Kholifah ‘Ali bin Abi Tholib ra mulai bermunculan orang-orang yang buruk agama dan akhlaknya yang membuat hadits-hadits palsu untuk mendukung golongannya. Kemudian bermunculan banyak pemalsu hadits dari kalangan orang-orang sesat, musuh-musuh Islam yang menyusup di tengah-tengah kaum muslimin, dan para pengekor hawa nafsu. Ada pula orang-orang yang berniat baik namun memakai cara-cara yang buruk untuk memotivasi orang lain agar giat beramal dengan cara membuat hadits-hadits palsu seputar keutamaan amal.
Melihat kondisi hadits Nabi ra yang terancam keasliannya dengan bertebarannya hadits-hadits palsu, maka Kholifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rohimahulloh memerintahkan kepada Abu Bakar bin Hazm untuk meneliti, mengumpulkan dan membukukan hadits. Kholifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rohimahulloh berani melakukan kegiatan pengumpulan dan pembukuan hadits karena pada zaman beliau mushhaf Al-Qur’an sudah tersebar ke segala penjuru dunia Islam, sehingga tidak ada kekhawatiran akan tercampurnya tulisan hadits dengan tulisan Al-Qur’an.
Tindakan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rohimahulloh memotivasi para ‘ulama yang lain untuk melakukan hal serupa, sehingga bangkitlah para ‘ulama Ahli Hadits untuk menulis hadits. Seperti Imam Malik bin Anas rohimahulloh yang menulis kitab Al-Muwatho’, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rohimahulloh yang menulis kitab Al-Musnad, Imam Ahmad bin Hanbal yang menulis kitab Al-Musnad dan lain-lain. Tetapi ketika itu hadits-hadits yang dikumpulkan dalam kitab-kitab yang mereka tulis belum diseleksi. Untuk menyeleksi hadits-hadits yang telah tertulis dalam kitab-kitab tersebut, para ‘ulama menetapkan suatu kaidah yang dikenal dengan MUSHTHOLAH HADITS ( مصطلح الحديث ).
Setelah itu muncul Imam Al-Bukhori yang memulai menulis kitab yang hanya memuat hadits-hadits yang shohih saja. Lalu diikuti oleh muridnya, yaitu Imam Muslim. Kemudian susul-menyusul para ‘ulama yang mengikuti jejak mereka.
Generasi berikutnya adalah generasi ‘ulama yang berupaya untuk menjelaskan makna hadits. Maka bermunculan kitab-kitab Syarah Hadits seperti Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim oleh Imam An-Nawawi, Fathul Baarii Syarah Shohih Al-Bukhori karya Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, dan lain-lain.

Iklan

MENGENAL AL_QUR’AN

Al-Qur’an berasal dari kata قَرَأَ يَقْرَأُ قُرْآنًا yang bermakna “membaca” atau “mengumpulkan”. Sehingga Al-Qur’an merupakan bacaan yang berisi kumpulan berita dan hukum. Sedangkan menurut istilah syari’at Al-Qur’an adalah : “Firman Alloh ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang diawali dengan Surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat An-Naas ”.
PERBEDAAN AL-QUR’AN DENGAN HADITS QUDSI
Al-Qur’an dan Hadits Qudsi sama-sama firman Alloh, dan sama-sama diriwayatkan oleh Nabi Muhammad saw, perbedaannya adalah :
1. Al-Qur’an termasuk firman Alloh yang tercakup dalam mushhaf sebagaimana yang Alloh kehendaki, sedangkan Hadits Qudsi tidak termasuk dalam isi mushhaf.
2. Bunyi dan makna Al-Qur’an sudah baku sebagaimana datang dari sisi Alloh, sedangkan Hadits Qudsi hanya riwayat secara makna sedangkan bunyinya tidak baku dari Alloh ta’ala.
3. Al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir, sedangkan riwayat Hadits Qudsi tidak mencapai derajat mutawatir.
4. Membaca Al-Qur’an harus menggunakan kaidah ilmu tajwid, sedangkan membaca Hadits Qudsi tidak perlu memakai tajwid.
PENJAGAAN KEASLIAN AL-QUR’AN
Al-Qur’an adalah kitab suci yang lansung mendapatkan jaminan penjagaan dari Alloh, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kami Yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” ( Qs. Al-Hijr : 9 )
Bukti yang lainnya tentang jaminan keaslian Al-Qur’an adalah diturunkannya Al-Qur’an dalam bahasa ‘arab yang vonemis, yang mana perubahan satu ketukan kata bisa merubah arti atau maknanya. Dan Al-Qur’an sejak awal diturunkan hingga hari ini masih tetap berbahasa ‘arab sebagaimana saat awal diturunkan. Oleh karena itu para pakar theologi dari berbagai agama mengakui bahwa hanya ada satu kitab suci yang ada di dunia ini yang tidak mengalami perubahan sedikit pun, yaitu Al-Qur’an.
Bukti lain tentang jaminan keaslian Al-Qur’an adalah kejelasan tentang sejarah penulisan Al-Qur’an sejak dari awal diturunkan hingga hari ini.
SEJARAH PENULISAN AL-QUR’AN
Al-Qur’an sudah ditulis pada zaman Nabi Muhammad saw masih hidup, baik atas perintah beliau kepada para sekretarisnya atau pun atas inisiatif pribadi para Shahabat ra. Sehingga ketika Nabi Muhammad saw masih hidup, Al-Qur’an sudah dihafal oleh ratusan orang dan ditulis oleh para Shahabat. Dan untuk menghindari kesalahan penulisan Al-Qur’an. Nabi Muhammad saw melarang kepada khalayak umum untuk menulis hadits, sebagaimana sabda beliau :
لا تَكْتُبُوْا عَنِّيْ وَ مَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَ حَدِّثُوْا عَنِّيْ وَ لا حَرَجَ وَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Jangan;ah kalian menulis dariku ! Barangsiapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaklah dia menghapusnya ! Dan beritakanlah hadits dariku, maka dia tidak berdosa. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari api neraka !” ( HR. Muslim )
Periwayatan hadits di zaman itu hanya boleh secara makna, tidak dengan tulisan, kecuali beberapa orang saja yang diyakini tidak akan tercampur antara tulisan haditsnya dengan tulisan Al-Qur’an yang boleh menulis hadits. Sedangkan penulisan Al-Qur’an hampir dilakukan oleh seluruh shahabat Nabi saw .
Pada zaman Kholifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, yaitu ketika banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan juang, shahabat ‘Umar bin Al-Khoththob ra mengusulkan kepada Abu Bakar ra untuk menghimpun semua catatan Al-Qur’an menjadi satu buah mushhaf agar Al-Qur’an tidak musnah. Maka Abu Bakar ra menugaskan shahabat Zaid bin Tsabit ra yang juga seorang penghafal Al-Qur’an yang diakui oleh semua kalangan untuk melaksanakan tugas pengumpulan Al-Qur’an ini. Zaid bin Tsabit ra segera mengumpulkan Al-Qur’an dengan metode yang sangat teliti, yaitu sebuah ayat baru bisa dia tulis ketika telah ada minimal sebuah catatan dan kesaksian 2 orang yang menghafalkan ayat tersebut. Karena itulah tugas ini memakan waktu yang lama. Kemudian hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar ra. Sepeninggal Abu Bakar ra, mushhaf tersebut disimpan oleh kholifah berikutnya yaitu ‘Umar ra.Dan setelah ‘Umar bin Al-Khoththob ra wafat, mushhaf disimpan oleh Hafshoh isteri Rosululloh saw.
Ketika zaman Kholifah ‘Utsman bin ‘Affan ra yang mana ketika itu wilayah kaum muslimin sudah sangat luas meliputi berbagai bangsa dengan dialek bahasa yang berbeda-beda, muncul permasalahan baru, yaitu perbedaan dialek ( lahjah ) dalam membaca Al-Qur’an. Persoalan ini dilaporkan oleh shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman ra kepada kholifah ‘Utsman ra Kemudian ‘Utsman membentuk sebuah tiem penggandaan Al-Qur’an dengan penyeragaman dialek yaitu dengan dialek yang Al-Qur’an diturunkan dengannya, yaitu dialek Quroisy. Ditunjuklah Zaid bin Tsabit, ‘Abdulloh bin Az-Zubair, Sa’id bin Al-‘Ash dan ‘Abdur Rohman bin Al-Harits bin Hisyam ra untuk menyalin mushhaf yang ada di tangan Hafshoh untuk digandakan menjadi lima buah dan dikirimkan ke beberapa daerah sebagai panduan bacaan di sana.
Setelah itu, Al-Qur’an terus-menerus digandakan dan dihafalkan oleh berjuta orang di setiap zamannya. Bahkan di setiap Negara ada sebuah panitia yang khusus bertugas mengontrol setiap percetakan Al-Qur’an supaya tetap sesuai dengan bunyi ketika pertama kali diturunkan.

PERTOBATAN TUKANG SIHIR FIR’AUN

Setelah pertandingan antara para tukang sihir Fir’aun dengan Nabi Musa terjadi, akhirnya para tukang sihir Fir’aun pun mengaku ka-lah dan mengakui bahwa Musa dan Harun bukan penyihir tetapi Nabi Alloh yang datang dengan membawa mu’jizat.
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى
“Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata : “Ka- mi telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.” ( Qs. Thoha : 70 )
Setelah melihat kebenaran yang nyata, maka segera saja para tukang sihir itu sa dar dan menyatakan beriman seraya sujud kepada Alloh  .
قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى
“Berkata Fir’aun : “Apakah kalian telah beriman kepadanya ( Musa ) se-belum aku memberi izin kepada kamu sekalian ?! Sesungguhnya ia ada- lah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka se-sungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian de-ngan bersilang secara bertimbal-balik, dan sesungguhnya aku akan me-nyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya ka lian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih ke-kal siksanya !” ( Qs. Thoha : 71 ) Baca lebih lanjut

ayat nyentrik bagian ke 15

KAIDAH DALAM MEMAHAMI AL QUR’AN DAN HADITS

KAIDAH DALAM MEMAHAMI
AL-QUR’AN DAN HADITS

Al-Qur’an dan Hadits adalah dua pilar utama ajaran agama Islam, yang mana setiap rincian dan detail ajaran Islam mesti rujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagaimana firman Alloh :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ
ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
“Bila kalian berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya bila kalian beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih baik kesudahan-nya.” ( Qs. An-Nisa’ : 59 ) Baca lebih lanjut

P H Y T A G O R E A N I S M E

P H Y T A G O R E A N I S M E
[ F A H A M P E N U H A N A N A N G K A ]

Nama Phitagoras tentu bukan nama yang asing bagi kalang an dunia pendidikan, karena namanya sering dikaitkan dengan se buah nama yang masyhur untuk sebuah rumus matematika yang dikenal dengan rumus stelling pytaghoras, yaitu c2 = a2 + b2, pada-hal tidak ada kaitannya antara rumus tersebut dengan Pythagoras. Karena memang bukan Pythagoras yang menemukan rumus terse but, walaupun penamaannya mengambil dari nama dirinya.
Pythagoras adalah seorang filosuf Yunani yang hidup anta-ra tahun 570 – 504 SM. Selain sebagai seorang filosuf, Pythagoras pun adalah seorang agamawan yang mengajarkan adanya reinkar nasi , vegeterianisme dan penyiksaan terhadap diri sendiri. Sela in itu, Pythagoras terkenal dengan ajaran penuhanan terhadap bi-langan atau angka. Para penganut ajaran Pythagoras yang dikenal dengan nama Pythagorean mempunyai kepercayaan bahwa inti sari semua benda, wujud dan hal adalah angka, dan semua hubu-ngan yang ada di alam ini mesti dapat dinyatakan dengan angka.
Pythagoras dengan tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa Tu han itu adalah angka. Hal ini menurut anggapan Pythagoras kare-na setiap kebajikan pasti dapat dinyatakan dengan suatu keakura-tan. Sehingga suatu kebajikan pasti dapat dihitung letaknya di an-tara dua posisi ekstrem dalam matematika. Prinsip tersebut diilha-mi oleh ajaran filsafat Yunani Purba yang mengatakan bahwa ke-bajikan berada di posisi antara ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Menurut Pythagoras sesuatu yang tidak dihitung atau tidak dapat dihitung berarti suatu kejahatan. Oleh karena itu Pythagoras pun berkata bahwa segala sesuatu adalah angka.
Sepeninggal Pythagoras, para mengikutnya terbelah menja-di dua. Sebagian memilih menekuni bidang matematika dan me-ninggalkan ajaran mistik Pythagoras, sementara itu sebagian lain- nya masih kokoh berpegang dengan ajaran mistik keagamaan Py-thagoras dan tidak tertarik mempelajari hal-hal yang matematis.
Pengaruh ajaran filsafat Pythagoras sampai pula kepada se-bagian kaum muslimin yang bodoh dengan ajaran Islam. Kita bisa melihat dalam kehidupan mayoritas masyarakat muslim, masih banyak yang mengkeramatkan beberapa angka-angka tertentu. Se bagian ada yang mengkeramatkan angka 7, sebagian yang lain me nganggap keramat angka 9, angka 13, angka 40 dan lain sebagai- nya. Mereka meyakini bahwa angka-angka tersebut dapat membe rikan pengaruh kepada kehidupan, baik pengaruh positif atau pe-ngaruh negatif. Seperti keyakinan sebagian masyarakat Jawa ba-gian selatan yang mengkeramatkan angka 13 dan menganggap-nya sebagai angka sial. Bahkan di beberapa hotel ada yang tidak berani membuat nomor kamar 13 dan menggantinya dengan 12 B.
Sebagian kaum muslimin lainnya masih mempercayai per-hitungan hari baik dan buruk ketika hendak melaksanakan suatu hajat. Semua hari –menurut mereka- memiliki kode angka-angka ter tentu. Semisal ada orang yang hendak menyelenggarakan sebuah hajatan pernikahan. Mereka akan menghitung angka-angka dari hari kelahiran calon mempelai laki-laki dan calon mempelai pe-rempuan. Bila penjumlahan dari angka-angka hari kelahiran ke-dua mempelai menghasilkan angka “sial” atau angka “mati” mere ka pun lantas membatalkan rencana pernikahan tersebut. Andai kata hendak diteruskan, maka mereka mesti memberikan bebera- pa sesaji untuk menolak bala’ dari angka jelek tersebut. Bila angka yang dihasilkan adalah angka “baik” atau “mujur”, mereka masih pula melakukan penghitungan tentang hari “baik” bagi pelaksana an hajatan pernikahan tadi.
Di beberapa agama lain, seperti agama Budha, Tao, Lama, dan aliran-aliran kepercayaan keyakinan terhadap angka-angka ini memang begitu mendominasi kehidupan mereka. Segala sesua tu dihitung dengan angka dan sudut, sehingga lahirlah teori Feng Sui atau Hong Sui. Keyakinan kepada angka-angka ini melahirkan pula model ramalan nasib dengan SIO, yaitu perhitungan nasib seseorang berdasarkan tanggal, bulan dan tahun yang juga disim- bolkan dengan angka-angka.
Dalam mistik shufi dan perdukunan yang menisbatkan diri nya kepada Islam – padahal bertentangan dengan Islam – kita sering melihat para dukun atau syeikh shufi membuat rajah atau jimat dengan kode-kode tertentu yang tidak dapat dimengerti oleh ma-nusia. Tulisan dan kode-kode jimat atau rajah tersebut didominasi oleh angka-angka dan huruf-huruf, dan kebanyakannya disusun dalam bentuk bangun segi-segi khusus dengan sudut tertentu. Me reka meyakininya sebagai pelindung, penolak bala’, pembawa reje ki, penjamin keselamatan. Inilah pemujaan kepada angka-angka !
Semua yang mereka lakukan itu adalah kebodohan dan per buatan syirik, karena mereka telah meyakini bahwa ada selain Alloh yang mampu mengatur alam ini, mengatur mujur dan sial- nya sesuatu. Padahal Alloh Ta’ala telah berfirman :
أَلاَ إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللهِ وَ لَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
“ Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka hanya datang dari si-si Alloh, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
[ Qs. Al-A’rof : 131 ]
وَ إِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍِّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ , وَ إِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Bila Alloh menghendaki menimpakan kemudhorotan kepadamu maka tidak akan ada yang mampu menghilangkannya kecuali Dia dan bila Dia menghendaki memberikan kebaikan kepadamu ma-ka Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [ Qs. Al-An’am : 17 ]
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya :
اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ , وَ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ , وَ لاَ إلـهَ غَيْرُكَ
“ Ya Alloh tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Eng-kau.” [ HSR. Ahmad dan Ibnus-Sunni ]

( ‘Abdulloh A. Darwanto )

KISAH NABI SALEH A.S.

Tsamud adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama ” Alhijir ” terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang di kirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud A.S.

Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung.Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram ,sejahtera dan bahgia, merasa aman dari segala gangguan alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan Mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mrk berqurban, tempat mrk minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.Mrk tidak dpt melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dpt mrk jangkau dengan pancaindera.

Nabi Saleh Berdakwah Kepada Kaum Tsamud

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba_Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mrk keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mrk diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mrk telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mrk sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.

Dikenalkan mrk oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mrk sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mrk, menciptakan alam sekitar mrk, menciptakan tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bhn-bhn keperluan hidup mrk, mencipta binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mrk dan dengan demikian memberi kepada mrk kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan lahir dan batin.Tuhan Yang Esa itulah yang harus mrk sembah dan bukan patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mrk atau melindungi mrk dari ketakutan dan bahaya.

Nabi Saleh memperingatkan mrk bahwa ia adlah seorang drp mrk, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mrk adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku dengan mrk.Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mrk dan sesekali tidak akan menjerumuskan mrk ke dalam hal-hal yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mrk. Ia menerangkan kepada mrk bahwa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah, dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mrk adalah amanat Allah yang harus dia sampaikan kepada mrk untuk kebaikan mrk semasa hidup mrk dan sesudah mrk mati di akhirat kelak. Ia mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mrk segera meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama ini telah mrk lakukan.Allah maha dekat kepada mrk mendengarkan doa mrk dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.

Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mrk merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mrk sendiri.Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya:”Wahai Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpinkami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan.Akan tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Enkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan untuk selama-lamanya.Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai cakap-cakap kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan mrk dan mengikuti jejakmu.”

Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengurniai mrk rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada mrk kisah kaum-kaum yang mendapat seksa dan azab dari Allah karena menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu dpt terjadi di atas mrk jika mrk tidak mahu menerima dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota dari keluarga besar mrk dan yang tidak mengharapkan atau menuntut upah drp mrk atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah yang ditugaskan kepadanya dan Allahlah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mrk.

Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkannya terdiri dari orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan beriman kepadanya sedangkan sebahagian yang terbesar terutamanya mrk yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya dan berkata kepadanya:” Wahai Saleh! Kami kira bahwa engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir.Engkau telah menjadi sinting dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku bahwa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu drp kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cekap untuk menjadi nabi atau rasul drp engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan pemimpin bagi kaummu.Jika engkau merasa bahwa engkau sihat badan dan sihat fikiran dan mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu sendiri.Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu.

Nabi Saleh menjawab: ” Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun drpmu sebagai imbalan atas usahaku memberi tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah dan drp-Nya kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku, padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku.Jgnlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu. Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan membinasakan aku dengan seruanmu itu.”

Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendpt perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mrk menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

Allah Memberi Mukjizat Kepada Nabi Saleh A.S.

Nabi Saleh sedar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti drpnya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mrk. Nabi Saleh membalas tentangan mrk dengan menuntut janji dengan mrk bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mrk minta bahwa mrk akan meninggalkan agama dan persembahan mrk dan akan mengikuti Nabi Saleh dan beriman kepadanya.

Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdpt di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.
Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.

Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mrk:” Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendptkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendptkan minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini.”
Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendpt gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yyang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkong.

Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendtgkan mukjizat yang mrk tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mrk pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mrk serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya.

Unta Nabi Saleh Dibunuh

Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mrk, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dpt membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.

Dua macam hadiah yyang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda’ bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan pembunuhan bagi meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta Nabi Saleh telah mati dibunuh.
Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya di lalui oleh unta dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan begitu unta-unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda’ yang disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.

Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendpt sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mrk kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang.
Berkata mrk kepada Nabi Saleh:” Wahai Saleh! Untamu telah amti dibunuh, cubalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya.”

Nabi Saleh menjawab:” Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu.Kamu telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya.Janji Allah tidak akan meleset .Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan taqdir-Nya yang tidak dpt ditunda atau dihalang.”

Ada kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau-kalau mrk sedar akan dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.
Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.

Turunnya Azab Allah Yang Dijanjikan

Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mrk akan didahului dengan tanda-tanda, iaitu pada hari pertama bila mrk terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mrk menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.
Mendebgar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabu Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan itu.Mrk mengadakan pertemuan rahsia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identiti mrk sebagai pembunuhnya. Rancangan mrk ini dirahsiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.

Ketika mrk datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika merebahkan mrk di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindingi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir.
Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A’raaf, ayat 73 hingga 79 , surah ” Hud ” ayat 61 sehingga ayat 68 dan surah ” Al-Qamar ” ayat 23 sehingga ayat 32.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh A.S.

Pengajaran yang menonjol yang dpt dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dpt berakibat negatif yang membinasakan masyarakat itu seluruhnya.
Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas bumi karena dosa dan pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang pembunuh unta Nabi Saleh A.S.
Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar. Karena dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi di dalam masyarakat dan lindungan kita ,kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar itu

Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.